site loader
11/04/2019 2 Tahun Sudah, Pejabat Takut Penjahat ?

2 Tahun Sudah, Pejabat Takut Penjahat ?

Penyidik senior di KPK Novel Baswedan akhir pekan lalu mengungkapkan rasa kecewanya kepada Presiden Jokowi. Kekecewaannya bakal semakin dalam karena melihat fakta kasus penyiraman air keras yang dialaminya, tak juga melaju ke ranah hukum dan pengungkapan. Hari ini tepat 2 tahun peristiwa penyerangan, Tim Gabungan Kasus Novel bentukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian belum menunjukkan hasil.

Harapan agar perwakilan masyarakat, dan pegiat HAM yang ada di Tim Gabungan mampu bekerja sesuai harapan pun mentah bagi Novel. Tim Gabungan bentukan Kapolri berisikan orang-orang tak objektif, karena orang sipil di tim tersebut menurut Novel terdiri dari orang Kapolri semua. Jadi bukan orang-orang yang independen. Semuanya staf ahli Kapolri, mulai dari Profesor Kiki staf ahli Kapolri, Profesor Seno Adji staf ahli Kapolri.

Menurut Novel pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) satu-satunya jalan mengungkap fakta hukum tentang tragedi penyiraman air keras yang menimpanya. Karena pembentukan TGPF akan lebih objektif menguak siapa pelaku, bahkan aktor intelektual aksi kejahatan tersebut. Pembentukan TGPF bukan desakan subjektif darinya sebagai korban. Namun lebih dari itu, harapannya TGPF bentukan Presiden akan memberikan jaminan adanya perlindungan bagi pemberantasan korupsi yang dalam perjalanannya selalu diganjal, diganggu, bahkan digagalkan.

Namun Novel selalu bertanya-tanya akan sikap Presiden Jokowi, mengapa tampak berat membentuk tim yang objektif demi pengungkapan skandal kejahatan sistematis terhadap dirinya. Dua tahun berlalu sudah, jika Presiden tetap diam dan hanya mengandalkan laporan “Pak Tito”, maka pengentasan kasus akan sulit diselesaikan.

Ikhwan Akhwat…
Novel Baswedan dijuluki “Spesialis kasus besar”, karena kerap diserahi tugas menyidik kasus besar yang ujung-ujungnya membuat kiprah KPK semakin dikenal. Orang-orang besar tanpa pandang bulu diseret Novel dengan masa hukuman mulai 2 tahun hingga seumur hidup. Novel sempat menjadi penyidik kasus korupsi yang melibatkan mantan Bendahara Partai Demokrat, M. Nazaruddin.

Novel juga berhasil mengungkap dan memenangkan di pengadilan terkait kasus suap cek pelawat pada pemilihan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia tahun 2004. Kasus itu menjerat istri mantan Wakil Kepala Polri Komjen (Purn) Adang Daradjatun, Nunun Nurbaeti dan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Swaray Goeltom. Selain itu, Novel berhasil mengungkap kasus Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar. Akil terbukti menerima suap terkait empat dari lima sengketa Pilkada dan divonis penjara seumur hidup.

Yang terbesar tentu saja kasus korupsi e-KTP. Kasus yang merugikan negara sebesar Rp 2,3 triliun tersebut melibatkan lusinan anggota DPR, pemerintahan, dan panitia tender serta para pengusaha. Bahkan teror penyerangan air keras dialami Novel ketika diagendakan untuk memaparkan kasus e-KTP di Kementerian Hukum dan HAM.

Dan yang terheboh adalah kasus korupsi proyek simulator ujian SIM Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri. Lawannya ialah “ikan besar”, yakni Irjen Djoko Susilo dan Direktur Utama PT Inovasi Teknologi Indonesia Soekotjo S Bambang. Kasus tersebut kian melipatgandakan perseteruan antara KPK dengan Polri saat Lemdikpol Komjen Budi Gunawan, ditetapkan sebagai tersangka kasus rekening gendut oleh KPK. Budi Gunawan saat itu nyaris menjadi Kapolri dan sudah lolos uji kelayakan dan kepatutan di DPR-RI.

Tapi Budi Gunawan lolos. Setelah melalui serangkaian kehebohan yang dahsyat, termasuk peredaran foto-foto mesra yang dikampanyekan sebagai sosok Abraham Samad dan penangkapan Bambang Widjajanto selaku Komisioner KPK oleh Polri, kasus Budi Gunawan pun terhenti. Budi Gunawan memenangkan gugatan pra-peradilan. Budi kemudian bahkan menjadi Wakapolri.

Meski berhasil menangkan berbagai kasus besar, namun proses pengungkapannya tak mudah. Novel dihajar teror dan kriminalisasi yang berlarut-larut. Ancaman yang diterimanya merupakan bagian dari rapuhnya hukum di Indonesia.

Seiring berjalannya waktu yang sudah masuk ke-2 tahun, Novel Baswedan menyadari pengungkapan kasusnya tak dilakukan sungguh-sungguh. Padahal ia sudah memberi keterangan sebanyak-banyaknya kepada penyidik sejak awal kejadian. Kemudian, sekitar 3 bulan kasus berjalan, ada seorang senior polisi mengatakan bahwa, kasus ini tidak akan diungkap. Novel menduga kuat ada jenderal polisi terlibat.

Peringatan dua tahun teror terhadap Novel ini juga jatuh berdekatan dengan gelaran Pemilihan Presiden 2019 pada 17 April nanti. Novel menuntut keberanian para kandidat calon presiden, siapa yang berani membuka peti untuk memasukan para pelaku penganiayaan yang bebas berkeliaran.

Hingga kini, Kubu yang bertagline Indonesia Menang menjanjikan dengan waktu tiga bulan akan menuntaskannya, sementara dikubu Indonesia Maju diharapkan dapat menyampaikan hal yang serupa. Tindakan-tindakan tersebut adalah sebagai pembuktian bahwa pejabat tidak takut dengan penjahat.

Wallahu’alam bi bish-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X