site loader
10/05/2019 Bulan Suci Ramadhan dan Tawaran yang Berisiko

Di era milenial saat ini, suasana Ramadhan di keluarga, di masjid, di musholla, di masyarakat, bahkan di pasar- pasar menjadi lebih hidup. Orang yang berpuasa tidak kesepian seperti orang bertapa. Suasana kebersamaan sangat terasa. Seharian tidak makan dan minum tidak lagi dijalani dengan penuh penderitaan, tetapi justru dengan kegembiraan.

Ketika malam datang, shalat tarawih dan bertadarus terasa ringan dan tidak mengantuk. Yang ingin mengikuti kajian-kajian tafsir Alquran atau hadits pun semarak di berbagai tempat. Bahkan kajian online dan mengandalkan internet juga bisa dilakukan, karena ‘dunia online’ saat ini menyuguhkan segudang informasi dan pengetahuan yang begitu lengkap, tetapi belajar agama tanpa berguru langsung kepada ahlinya, bukanlah cara yang bijak.

Dibalik semaraknya menjalankan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan, masih ada saja ummat yang mengaku beriman tetapi menyepelekan bulan Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan ini. Teringat tulisan almarhum KH. Hasyim Muzadi di Republika tentang ‘Bulan Suci Ramadhan dan Tawaran yang Berisiko’.

Dalam sebuah riwayat yang dikisahkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Hakim, dan Imam Thabroni; sekali waktu, Malaikat Jibril alaihissalam pernah menjelaskan soal kedatangan bulan Ramadhan. Hal itu dalam kaitannya dengan posisi seseorang di hadapan Allah SWT.

Begitu pentingnya hal tersebut, sampai-sampai malaikat Jibril merasa perlu untuk menjelaskan langsung kepada Baginda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Nabi Muhammad yang mulia bersabda, “Jibril menjumpaiku. Lalu ia berkata, ‘Hai Nabiyallah. Barangsiapa meninggal di bulan Ramadhan tetapi Allah tidak mengampuninya, maka ia akan dilemparkan ke dalam neraka. Semoga Allah menjauhkan hal itu.’ Katakan ‘Amin’, maka aku jawab, ‘Amin.'”

Hadis itu berbunyi demikian. Dan sungguh, hadis yang kita kutip di atas akan membuat bulu kuduk kita semua berdiri tegak. Sebab, tak hanya menyediakan rupa-rupa hadiah, Allah SWT ternyata juga tak segan-segan mengancam mereka yang mengabaikan tawaran-Nya melalui Ramadhan ini!

Memang, benar adanya siapa yang membaca satu ayat Alquran di bulan Ramadhan, baginya disiapkan pahala sebagaimana mengkhatamkannya di bulan-bulan lain. Siapa yang mengerjakan nawafil di bulan Ramadhan, baginya pahala fardhu di luar bulan seribu bulan ini.

Semuanya dilipatgandakan sesuai kehendak dan janji Allah SWT. Istilahnya setelah berpaling dari Allah SWT sebelas bulan lamanya, maka sebulan Ramadhan akan mengembalikan kita kepada-Nya. Sebelas bulan bergelimang dosa, bisa diusahakan ampunannya di bulan Ramadhan.

Ramadhan memang menawarkan banyak hal yang tak pernah kita temui di bulan-bulan lain. Tapi, tawaran ini memiliki risiko-risiko tertentu. Kalau ternyata tawaran ‘pencucian noda’ ini tak diindahkan bahkan disepelekan karena kita tidak menghormati Allah SWT. Atau, diabaikan karena merasa kita akan hidup selamanya, dilecehkan karena kita beranggapan Allah SWT tidak mengetahui tindakan-tindakan maksiat kita.

Tawaran itu diingkari karena menganggap siksa kubur nonsen (tak masuk akal) adanya. Menganggap masa bodoh ajakan Allah SWT ini karena tak yakin kiamat bakal datang. Maka di atas itu semua, tunggulah ancaman-Nya.

Begitu seriusnya ancaman tersebut, sampai-sampai malaikat Jibril masih sempat berdoa lirih, semoga Allah SWT menjauhkan hal itu dari umat Muhammad SAW. Lalu, Jibril meminta Baginda Rasul mengaminkan doa itu. “Amin” jawab Rasulullah SAW penuh ketulusan.

Begitu besar harapan Rasulullah SAW akan rahman-rahim Allah SWT, agar Ia berkenan menjauhkan kita dari sikap, tingkah laku, serta penyikapan yang kurang layak atas tawaran yang disampaikan-Nya melalui puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadhan. Semoga kita diampuni Allah SWT di bulan ini.

Wallahu’alam bishshawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X