site loader
14/05/2019 Pemilu yang Tak Dibanggakan

Tajuk Rasil
Selasa, 14 Mei 2019

Pemilu yang Tak Dibanggakan

Bagian manakah dalam Pemilu serentak 2019 yang bisa dibanggakan? Hajatan, hanya berisi soal-soal teknis politis, korban berjatuhan dan identity war hingga rakyat pun perlahan turun gunung. Siapa yang tidak mendengar adanya kematian massal yang fenomenal? Ratusan petugas kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) di berbagai daerah tanah air tewas dengan belasan dalil medis. dalil, yang memantik pertanyaan ‘kenapa diterima bertugas puluhan jam sistem geber’?.

Sebutlah, infarct myocard, gagal jantung, koma hepatikum, stroke, respiratory failure, hipertensi emergency, meningitis, sepsis, asma, diabetes melitus, gagal gingal, TBC dan kegagalan multi organ. Berapa dari nama-nama penyakit itu yang akrab di telinga kita? Dan mana yang layak mengiringi tugas berat berhonor ratusan ribu?. Dari situ, pemilu yang semestinya jadi ajang tebar gembira dan bahagia segenap warga negara berubah ‘gloomy’ penuh dukacita.

Aspek teknis helatan pesta demokrasi yang mestinya berjalan dengan jujur dan adil pun, terinsinuasi sarat guratan politis dan membentuk sketsa yang jauh dari aman dan damai menuju anarkistis. Rakyat dibuat bingung dan skeptis setelah melihat rekapitulasi sementara KPU yang dirilis dalam aplikasi daring sistem perhitungan (Situng) KPU RI, ratusan meter dari bunderan HI. Pasalnya data yang bergerak dinamis itu dinilai jauh panggang dari api.

Dalilnya, setiap kubu yang berkontestasi telah lebih dulu mengolleksi data formulir C1 dari setiap TPS di seluruh wilayah Indonesia. dan sajian situng, jauh dari persis. menurut tim BPN Prabowo-sandi, ada 25 juta data keliru di kempompong yang kupu-kpunya akan keluar pada 22 Mei nanti bertepatan dengan 17 Ramadan 1440 H.

Tak pelak, tensi terus meninggi mendorong hati dan raga rakyat menggelinding turun gunung, menuntut transparansi agar Presiden dan Wakil presiden RI terpilih memang wajah yang jadi representasi wajah putih demokrasi. Api semangat pendukung pun terus dipantik di medan politik. bukan stu, tokoh bangsa menghembuskan gas dari lisannya yang penuh kehormatan hingga makin tegang.

Sebelumnya, banyak kalangan menyerukan agar Pemilu dan Pilpres berjalan damai. Kata-kata damai berulang kali ditekankan, bahkan KPU pun menyelenggarakan berbagai acara sosialisasi Pemilu dan Pilpres dengan tagline “Damai”. Aparat negara pun menyerukan rakyat Indonesia agar menciptakan pemilu yang damai.

Sayang, dalam logika berpikir, sebenarnya ini kurang tepat. Kenapa? Karena damai itu adalah akibat. Bukan sebab. Damai itu hanya akan tercipta jika Pemilu dan Pilpres berjalan jujur, adil, dan transparan. Tanpa paksaan, tanpa kecurangan. Kedamaian hanya tercipta jika keadilan ditegakkan, kejujuran dilakukan, dan kebenaran diterapkan. Jika semua syarat itu terpenuhi maka otomatis akan tercipta kedamaian. Seharusnya semua dari kita menyerukan Pemilu dan Pilpres yang jujur dan adil. Agar kedamaian bisa tercipta.

Karena jika ada kecurangan, apalagi yang massif dan terstruktur, terlebih lagi jika penyelenggara atau wasit ternyata ikut dalam kecurangan ini, rakyat bisa marah. Kemarahan rakyat tidak akan bisa diredam oleh bedil dan tank. Kemarahan rakyat, dalam sejarah apa pun dan kapan pun, merupakan momentum bergeraknya roda sejarah di mana siapapun yang mencoba menahannya akan terguling kekuasaannya.

Indonesiaku, kita telah memilih nakhoda untuk pelayaran nusantara hingga 2024. Dia yang terpilih semoga bisa merekatkan kembali berai bhineka, mempersatukan semua kekuatan untuk menyelamatkan nasib ratusan juta rakyat Indonesia. Jangan ada lagi demokrasi tereduksi jangan ada lagi persatuan terkoyak, identitas suku dan agama tak perlu lagi jadi dalil dan alasan pertentangan. Depresi ekonomi juga jangan jadi alasan untuk makin tak peduli.

Wallahu’alam bishshawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X