site loader
17/05/2019 Sejenak Bersama Sayyidina Hasan bin Ali

Sejenak Bersama Sayyidina Hasan bin Ali

Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib bukanlah nama yang asing di telinga umat Islam. Ia merupakan putra dari salah satu putri kesayangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW), Fatimah Az-Zahra. Ayahnya adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Hasan lahir pada tanggal 15 Ramadan tahun 3 H di Madinah. Beberapa ulama memasukkan Hasan sebagai khalifah kelima dari Khulafaur Rasyidin.

Sejarah mencatat bahwa Hasan sempat menjadi khalifah umat Islam selama enam bulan, selepas khalifah sebelumnya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib wafat. Orang pertama yang maju membaiat Hasan adalah Qais bin Sa’ad bin Ubadah. Dikisahkan dalam ‘Siroh Sahabat’ bahwa pada waktu itu Qais bin Sa’ad berkata kepada Hasan, “Ulurkanlah tanganmu, aku akan membaiatmu atas dasar Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.”

Hasan hanya diam. Qais membaiatnya lalu diikuti oleh orang banyak sesudahnya. Peristiwa itu terjadi pada hari wafatnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib, di bulan Ramadan tahun 40 H. Saat itu Qais adalah amir wilayah Azerbaijan. Ia membawahi empat puluh ribu tentara. Sebelumnya, mereka semua telah berbaiat untuk membela Sayyidina Ali sampai titik darah penghabisan di perang Shiffin.

Hanya berselang beberapa bulan saja pasca Sayyidina Ali wafat dan membaiat Hasan, Qais mendorong khalifah yang baru itu agar berangkat memerangi penduduk Syam, Saat itu mayoritas penduduk Syam adalah pengikut Muawiyah bin Abu Sufyan, yang sebelumnya mendesak Ali untuk menyerahkan para pembunuh Utsman. Lalu Hasan menarik Qais dari Azerbaijan, kemudian mengirim Ubaidullah bin Abbas sebagai penggantinya.

Sejumlah sejarawan Muslim meyakini bahwa Hasan tidak memiliki niat untuk memerangi seorang-pun, termasuk Muawiyah beserta pengikutnya di Syam. Akan tetapi mereka berhasil memaksakan pendapat mereka kepada Hasan. Lalu berkumpullah pasukan dalam jumlah yang sangat besar yang belum pernah terkumpul sebanyak itu. Saking banyaknya, seorang Sahabat Nabi menggambarkannya seperti gunung-gunung.

Menyaksikan hal itu, Muawiyah mengirim dua utusan dari Suku Quraisy dari Bani Abdu Syams, yaitu Abdurrahman bin Samurah dan Abdullah bin Amir. Muawiyah berpesan kepada mereka berdua, “Pergilah temui lelaki ini (Hasan bin Ali), tawarkanlah perdamaian kepadanya, berbicaralah baik-baik kepadanya dan mintalah kepadanya agar menerima tawaran ini.” Maka keduanya pun menemui Hasan dan berbicara dengannya serta meminta untuk menerima tawaran dari Muawiyah sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Maka Hasan menerima tawaran perdamaian tersebut.

Hasan yang memilih berdamai dengan Muawiyah menjadi salah satu bukti akan kebenaran hadis dari Rasulullah SAW. Suatu ketika Rasulullah SAW berada di atas mimbar, sementara Hasan duduk di sebelahnya. Ketika itu, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya cucuku ini adalah sayyid, kelak Allah SWT akan mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin melalui dirinya.“

Tak lama setelah menerima tawaran perdamaian itu, Hasan menyerahkan kepemimpinan kepada Muawiyah pada tanggal 5 Rabi’ul Awal tahun 41 H. Sementara ulama lainnya mengatakan pada bulan Rabi’ul Akhir. Ada pula yang mengatakan pada awal bulan Jumadil Awal. Ibnu Katsir dalam tafsirnya berpendapat bahwa Hasan melepas baju kekhalifahannya adalah untuk menghentikan pertumpahan darah yang terjadi di antara umat Islam saat itu. la turun dari kekhalifahan dan menyerahkannya kepada Muawiyah.

Setelah peristiwa itu, kemudian Hasan bersama saudaranya, Husain bin Ali serta saudara-saudara mereka yang lainnya dan keponakan mereka, Abdullah bin Ja’far, meninggalkan tanah Iraq menuju Kota Madinah. Setiap kali Hasan beserta keluarganya melewati kabilah yang menjadi pendukungnya, mereka mencela kebijakannya yang menyerahkan kekhalifahan kepada Muawiyah. Namun demikian, sama sekali Hasan tidak merasa keberatan, menggerutu atau menyesal. Bahkan ia rela dan menyambutnya dengan gembira.

Beberapa ulama memuji kebijaksanaan yang ditampilkan Hasan dalam menghentikan pertumpahan darah di antara umat sebagaimana hal itu telah dipuji oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang disebutkan sebelumnya. Ibnu Katsir berkata, “Hasan adalah sayyid kaum Muslimin, salah seorang ulama, orang yang lembut, cerdik di kalangan sahabat dan termasuk salah seorang Khulafaur Rasyidin”. Alasan Ibnu Katsir memasukkan Hasan ke dalam jajaran Khulafaur Rasyidin adalah karena hadis yang diriwayatkan beberapa jalur dari Safinah, Rasulullah SAW bersabda, “Khilafah sesudahku tiga puluh tahun, setelah itu akan muncul raja-raja.”

Khulafaur Rasyidin menjadi genap tiga puluh tahun dengan dibaiatnya Hasan bin Ali yang kemudian melepaskan kekhalifahan pada bulan Rabiul Awal tahun 41 H. Berarti genap tiga puluh tahun setelah Rasulullah SAW yang wafat pada bulan Rabi’ul Awal tahun 11 H. Ibnu Katsir berpendapat bahwa ini merupakan tanda kenabian yang sangat besar.

Setelah melewati pelbagai liku-liku kehidupan, Hasan bin Ali mengembuskan nafas terakhirnya pada 5 Rabi’ul Awal tahun 50 H di Madinah pada usianya yang ke-47 tahun. Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada cucu Baginda Nabi Muhammad SAW yang mulia ini.

Wallahu’alam bishshawab.

16/05/2019 Jangan lupa Masalah Utang Indonesia

Jangan lupa Masalah Utang Indonesia

Berbicara tentang utang, mungkin bukan sesuatu yang aneh untuk dibicarakan di masyarakat kita. Kita pun sudah terbiasa dengan kata UTANG. Sejarah mencatat, Indonesia sudah memiliki utang sejak pemerintahannya berdiri yaitu utang turunan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda yang sudah memulai kebiasaan berutang bagi pemerintahan di Indonesia. Seluruh utang yang belum dilunasi oleh pemerintah kolonial Belanda kemudian diwariskan, sesuai dengan salah satu hasil Konferensi Meja Bundar (KMB).

Di setiap masa pergantian pemerintahan di Indonesia pun tak luput dari utang. Di pemerintahan sekarang utang indonesia meningkat tajam dari Rp. 2.608,8 triliun di tahun 2014 hingga sekarang mencapai Rp. 4.567 triliun per Maret 2019.

Pemerintah menilai bahwa utang negara saat ini masih berada di tahap aman karena menurut Undang-Undang no 17 tahun 2003 tentang keuangan negara pasal 12 ayat (3) disebutkan bahwa defisit anggaran dimaksud dibatasi maksimal 3% dari Produk Domestik Bruto. Jumlah pinjaman dibatasi maksimal 60% dari Produk Domestik Bruto, sehingga tidak ada masalah dengan utang luar negeri yang masih dibawah 34%.

Benarkah demikian aman?. Jika kita telusuri pemberi pinjaman Indonesia secara multilateral adalah Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), dan Bank Pembangunan Islam (IDB). Sedangkan secara bilateral yaitu Jerman, Prancis dan Jepang sebagai kreditur Indonesia terbesar. Indonesia pun memiliki utang ke beberapa negara lain yaitu Korea Selatan, China, Amerika Serikat, Australia, Spanyol, Rusia dan Inggris.

Besarnya utang yang dimiliki Indonesia dibeberapa lembaga dunia dan negara lainnya dengan dalih “pembangunan” menandakan ketidak mandirian bangsa. Betapa tidak, Indonesia yang harusnya dapat memberikan kehormatan, kejayaan sebagai bangsa yang bermartabat kini pupus akibat terbelit utang.

Padahal wujud kemandirian negara adalah mengelola semua sektor negara baik itu ekonomi, politik, keamanan dengan tangan sendiri tanpa campur tangan negara lain. Dengan ini masyarakat pun bisa merasakan kesejahteraan di semua sektor kehidupan tanpa harus menanggung beban utang negara.

Selain itu, dalam pandangan ustaz Ikhwan Basridari DSN, dengan semakin meningkatnya utang negara maka akan semakin mudah penjajahan masuk kedalam negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum jika utang negara adalah pintu masuk intervensi asing terhadap bangsa ini. Banyaknya eksloitasi kekayaan alam oleh asing dengan perjanjian-perjanjian yang tidak seimbang membuktikan bahwa intervensi itu kian bercokol dinegeri ini.

Ditambah lagi dengan fakta bahwa bangsa Indonesia kini menjadi budak dinegeri sendiri, SDM tidak diberdayakan dan UMR yang tidak memenuhi standar kebutuhan hidup menjadikan masyarakat semakin tergelincir kejurang kemiskinan. Semua ini buah dari ketidak mandirian negara yang bergantung pada asing yang dipandang penyelamat padahal hakikatnya adalah penjajah bermuka dua.

Lalu bagaimana solusinya? Haruskah dengan berhutang baru bisa membangun negeri?. Islam menuntut negara agar mandiri tidak bergantung pada negara lain, hal itu direalisasikan dengan pengoptimalan sumber daya alam yang dimiliki negara. Banyaknya kekayaan alam yang dimiliki suatu bangsa adalah potensi pendapatan yang luar biasa besar yang dapat membiayai pembangunan infrastruktur negara. Kita lihat, tidak ada tanah-tanah kaum muslimin yang tidak dianugrahi kekayaan alam oleh sang pencipta.

Di Indonesia sendiri, dari berbagai sektor baik itu dari laut, pertanian, hutan, dan hal-hal yang ada dibawah perut bumi semuanya memberikan kontribusi yang besar terhadap pendapatan negara jika dikelola dengan baik, bahkan menjadi sumber pendapatan utama negara.

Berbeda halnya dengan sekarang dimana pajaklah yang menjadi sumber pendapatan negara, rakyat diperas untuk memenuhi pajak yang beraneka macam jenisnya. Jikalau pun ada keadaan dimana negara membutuhkan pinjaman dan harus berhutang, maka hal itu disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan syara ( syariat islam) yang mana keadaan tersebut merupakan option terakhir yang dilakukan oleh kepala negara dikarenakan negara dalam posisi yang membahayakan.

Utang itu pun tidak akan membuat negara terikat dengan perjanjian-perjanjian yang dapat membuat negara tidak berdaulat, terlebih lagi sampai ikut masuk mengatur perekonomian negara. Hal itu tentu tidak diperbolehkan. Negaralah yang akan menentukan cara pembayaran utang dan tidak akan ada lembaga asing yang dibiarkan menentukan perjanjian.

Cukuplah generasi terdahulu dan generasi sekarang merasakan pahitnya penjajahan halus ala kapitalis. Jangan sampai utang luar negeri menjadi salah satu hal yang kita wariskan ke anak cucu kita kelak.

Wallahu’alam bishshawab.

14/05/2019 Pemilu yang Tak Dibanggakan

Pemilu yang Tak Dibanggakan

Tajuk Rasil
Selasa, 14 Mei 2019

Pemilu yang Tak Dibanggakan

Bagian manakah dalam Pemilu serentak 2019 yang bisa dibanggakan? Hajatan, hanya berisi soal-soal teknis politis, korban berjatuhan dan identity war hingga rakyat pun perlahan turun gunung. Siapa yang tidak mendengar adanya kematian massal yang fenomenal? Ratusan petugas kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) di berbagai daerah tanah air tewas dengan belasan dalil medis. dalil, yang memantik pertanyaan ‘kenapa diterima bertugas puluhan jam sistem geber’?.

Sebutlah, infarct myocard, gagal jantung, koma hepatikum, stroke, respiratory failure, hipertensi emergency, meningitis, sepsis, asma, diabetes melitus, gagal gingal, TBC dan kegagalan multi organ. Berapa dari nama-nama penyakit itu yang akrab di telinga kita? Dan mana yang layak mengiringi tugas berat berhonor ratusan ribu?. Dari situ, pemilu yang semestinya jadi ajang tebar gembira dan bahagia segenap warga negara berubah ‘gloomy’ penuh dukacita.

Aspek teknis helatan pesta demokrasi yang mestinya berjalan dengan jujur dan adil pun, terinsinuasi sarat guratan politis dan membentuk sketsa yang jauh dari aman dan damai menuju anarkistis. Rakyat dibuat bingung dan skeptis setelah melihat rekapitulasi sementara KPU yang dirilis dalam aplikasi daring sistem perhitungan (Situng) KPU RI, ratusan meter dari bunderan HI. Pasalnya data yang bergerak dinamis itu dinilai jauh panggang dari api.

Dalilnya, setiap kubu yang berkontestasi telah lebih dulu mengolleksi data formulir C1 dari setiap TPS di seluruh wilayah Indonesia. dan sajian situng, jauh dari persis. menurut tim BPN Prabowo-sandi, ada 25 juta data keliru di kempompong yang kupu-kpunya akan keluar pada 22 Mei nanti bertepatan dengan 17 Ramadan 1440 H.

Tak pelak, tensi terus meninggi mendorong hati dan raga rakyat menggelinding turun gunung, menuntut transparansi agar Presiden dan Wakil presiden RI terpilih memang wajah yang jadi representasi wajah putih demokrasi. Api semangat pendukung pun terus dipantik di medan politik. bukan stu, tokoh bangsa menghembuskan gas dari lisannya yang penuh kehormatan hingga makin tegang.

Sebelumnya, banyak kalangan menyerukan agar Pemilu dan Pilpres berjalan damai. Kata-kata damai berulang kali ditekankan, bahkan KPU pun menyelenggarakan berbagai acara sosialisasi Pemilu dan Pilpres dengan tagline “Damai”. Aparat negara pun menyerukan rakyat Indonesia agar menciptakan pemilu yang damai.

Sayang, dalam logika berpikir, sebenarnya ini kurang tepat. Kenapa? Karena damai itu adalah akibat. Bukan sebab. Damai itu hanya akan tercipta jika Pemilu dan Pilpres berjalan jujur, adil, dan transparan. Tanpa paksaan, tanpa kecurangan. Kedamaian hanya tercipta jika keadilan ditegakkan, kejujuran dilakukan, dan kebenaran diterapkan. Jika semua syarat itu terpenuhi maka otomatis akan tercipta kedamaian. Seharusnya semua dari kita menyerukan Pemilu dan Pilpres yang jujur dan adil. Agar kedamaian bisa tercipta.

Karena jika ada kecurangan, apalagi yang massif dan terstruktur, terlebih lagi jika penyelenggara atau wasit ternyata ikut dalam kecurangan ini, rakyat bisa marah. Kemarahan rakyat tidak akan bisa diredam oleh bedil dan tank. Kemarahan rakyat, dalam sejarah apa pun dan kapan pun, merupakan momentum bergeraknya roda sejarah di mana siapapun yang mencoba menahannya akan terguling kekuasaannya.

Indonesiaku, kita telah memilih nakhoda untuk pelayaran nusantara hingga 2024. Dia yang terpilih semoga bisa merekatkan kembali berai bhineka, mempersatukan semua kekuatan untuk menyelamatkan nasib ratusan juta rakyat Indonesia. Jangan ada lagi demokrasi tereduksi jangan ada lagi persatuan terkoyak, identitas suku dan agama tak perlu lagi jadi dalil dan alasan pertentangan. Depresi ekonomi juga jangan jadi alasan untuk makin tak peduli.

Wallahu’alam bishshawab.

13/05/2019 Belajar Dari Puasanya Maryam

Belajar Dari Puasanya Maryam

Tajuk Rasil
Senin, 13 Mei 2019

Belajar Dari Puasanya Maryam

Adalah Abu Hamid al-Ghazali, sang ulama Sunni terkenal yang menjelaskan level-level seseorang dalam berpuasa. Menurut Imam al-Ghazali dalam bukunya Ihya’ Ulumiddin, tingkatan puasa diklasifikasi menjadi tiga, yaitu puasa umum, puasa khusus, dan puasa khusus yang lebih khusus lagi.

Puasa umum adalah tingkatan yang paling rendah yaitu menahan dari makan, minum dan jima’. Puasa khusus, di samping menahan yang tiga hal tadi juga memelihara seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat atau tercela. Sedangkan puasa khusus yang lebih khusus adalah puasa hati dari segala kehendak hina dan segala pikiran duniawi serta mencegahnya memikirkan apa-apa yang selain Allah SWT.

Puasa level ketiga tadi adalah puasanya para nabi-nabi, shiddiqin, dan muqarrabin. Sedangkan puasa level kedua adalah puasanya orang-orang salih – puasa tingkat ini yang seharusnya kita tuju untuk mencapainya. Dan dari puasa tingkatan ini, bisa mencapai derajat taqwa yang juga menimbulkan jiwa peduli terhadap lingkungan keluarga dan bangsa.

Ikhwan Akhwat ,,
Di antara begitu banyak tokoh Muslim atau ulama di tanah air, nasihat-nasihatnya Emha Ainun Najib tentang kondisi umat dan bangsa begitu menginspirasi. Sebut saja satu pesan tokoh yang biasa dipanggil dengan sapaan akrabnya ‘Cak Nun’, adalah dalam konteks Ramadhan.

Beliau berkata mengenai Sang Khaliq, “Bukankah Ia sangat menahan diri? Tetap memperkenankan kita berbadan sehat, bernapas dan bergerak? Bukankah Ia sangat menahan diri, dengan tetap menerbitkan matahari, mengalirkan air dan menghembuskan angin, seolah-olah tidak peduli betapa malingnya kita, betapa munafik dan kufurnya kehidupan kita?”

Ada satu dasar tersirat dari kata-kata di atas. Dalam mengamati suatu fenomena sosial, seseorang mestinya tidak melupakan Allah SWT. Zikir hendaknya selalu menjadi pusat gravitasi akal-budi, sesuatu yang amat penting bagi ilmuwan. Dengan berzikir, seorang insan yang beriman dapat merenungi sifat-sifat Allah sehingga meniru akhlak-Nya dalam setiap langkah kehidupan.

Allah SWT dengan sifat-Nya an-Naafi’ (Yang Maha Memberi Manfaat ) masih memberikan kesehatan jasmani, kelancaran sirkulasi nafas, dan metabolisme fisik yang bagus kepada diri kita. Alhamdulillah. Namun demikian, bisa saja suatu ketika Dia menunjukkan sifat adh-Dhaar (Yang Maha Memberi Kemudaratan ) kepada kita. Maka dari itu, seseorang dan utamanya kaum Muslimin seyogianya betul-betul mawas diri.

Misalnya, dalam hal menunaikan amanah. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya.” Levelnya memang berbeda-beda. Namun, sifat amanah tetap harus dimiliki agar bisa mawas diri.

Seorang suami, harus amanah. Seorang ayah, harus amanah. Seorang kepala perusahaan, harus amanah. Seorang kepala komisi publik, harus amanah. Apalagi, bila levelnya sampai seorang kepala negara, juga mesti amanah. Keroposnya akhlak seorang pemimpin bisa berimbas pada mereka yang dipimpin. Ibaratnya, busuknya ikan itu dimulai dari kepala, bukan sirip atau ekornya.

Sekarang menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya kita umat Islam wajib berpuasa. Inti ibadah itu adalah “menahan diri.” Secara fikih, berpuasa itu menahan diri tidak hanya dari hal-hal yang diharamkan, tetapi juga beberapa yang dimubahkan, yakni sejak fajar hingga terbenamnya matahari selama Ramadhan.

Puasa itu shaum. Alquran surah Maryam ayat 26 memakai istilah ini ketika mengisahkan tentang Maryam binti Imran. Sesudah melahirkan Nabi Isa AS, perempuan mulia itu diimbau malaikat Jibril: “Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa (shauman) untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.’”

Maryam melakukan shaum, yakni menahan diri dari berbicara kepada siapapun ketika membawa sang bayi ke tengah kaumnya. Maka Allah SWT pun menolongnya. Bayi itu, Isa AS, dikehendaki-Nya dapat berbicara fasih kepada mereka tentang keadaan diri dan kenabiannya.

Maryam tidak hanya mengetahui bahwa shaum itu perintah Allah, tetapi juga melaksanakannya sepenuh hati. Dengan begitu, Allah menyelamatkannya dari tudingan keji orang-orang fasik. Dia terhindar dari kemudaratan. Apakah kita dapat belajar dari puasanya Maryam ( puasa level ketiga )?

Mengutip kalimat nasihat Cak Nun, Apakah kita mampu dan mau setidaknya selama bulan Ramadhan ini menjauhi sifat maling, sifat curang, sifat munafik, dan sifat kufur? Semoga.

Wallahu’alam bishshawab.

X