site loader
23/04/2019 Kisah Untuk Pemilih Setelah Pemilu

Kisah Untuk Pemilih Setelah Pemilu

Hampir sepekan Pemilu bangsa Indonesia telah berlalu. Ada masa yang cukup lama untuk mengetahui hasilnya dari KPU, siapakah pasangan Calon Presiden dan Wakil-nya yang memenangkan RI-1 dan RI-2. Sebelum masa pengumuman resmi dipublikasikan kepada bangsa yang besar ini, masih tercipta ketegangan di antara pendukung para kontestan yang semuanya adalah anak negeri.

Namun, ada kisah yang perlu disimak sejenak oleh rakyat Indonesia yang telah menentukan pilihannya dalam perhelatan demokrasi terbesar di negara ini.

Kita ambil dari riwayat wafatnya baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Di saat jenazah Rasulullah SAW belum dikebumikan dan sahabat Umar bin Khaththab telah bisa menerima fakta bahwa Rasul telah wafat, Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepada Umar.
“Sesungguhnya harus ada yang menggantikan tentang urusan umat ini. Ketahuilah wahai Umar, sesungguhnya Banu Sa’adah telah sepakat untuk menjadikan pemimpin mereka Sa’ad bin Ubadah menjadi khalifah, marilah kita menuju ke tempat mereka.”

Maka berangkatlah sayyidina Abu Bakar dan Umar ke permukiman Banu Sa’adah yang termasuk dari kaum Anshar. Ketika sayyidina Abu Bakar dan Umar radiyallahu ‘anhuma sampai ke sakifah Banu Sa’adah, para sahabat dari kalangan Anshar sudah berkumpul melingkar dan pemimpin mereka Sa’ad bin Ubadah berada ditengah-tengah, dalam keadaan berselimut seperti orang yang menggigil kedinginan.

Setelah mengucapkan salam dan tahmid, sayyidina Abu Bakar berkata kepada yang hadir di sana, “Hendaknya yang menjadi khalifah itu dari kalangan Muhajirin karena merekalah yang pertama kali beriman.” Mereka yang hadir dari kalangan Anshar itu pun menjawab perkataan Abu Bakar dengan satu bantahan, “Justru yang seharusnya menjadi khalifah itu adalah dari kalangan Anshar karena besar jasa mereka terhadap tegaknya agama Islam di muka bumi ini.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diancam akan dibunuh oleh kaumnya, kamilah yang melindunginya dan berjanji untuk melindungi beliau sampai tetes darah yang terakhir dalam peristiwa bae’atul Aqabah, sehingga orang-orang musyrikin Quraisy tidak berani melanjutkan ancaman mereka. Dan ketika kaumnya mengusir Rasulullah dan umatnya dari rumah-rumah mereka sendiri, maka kamilah yang memberinya tempat bersama orang-orang yang berhijrah dan menjadikan mereka saudara kami. Maka kaum Anshar-lah yang berhak menjadi khalifah bagi kaum muslimin seluruhnya.”

Mendengar bantahan Banu Sa’adah tersebut, sayyidina Umar bin Khaththab berkata, “Tidakkah menjadi isyarat bagi kalian ketika Rasulullah menunjuk Abu Bakar untuk menjadi imam salat menggantikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saat beliau menderita sakit beberapa waktu yang lalu?” Namun, pertanyaan sayyidina Umar tidak juga dapat menahan keinginan Banu Sa’adah untuk menjadikan pemimpin mereka khalifah sebagai pengganti Rasulullah.

Keadaan pun menjadi tegang dan memanas. Melihat situasi berubah menjadi panas, maka sahabat Abu Bakar berupaya untuk menengahi dengan menarik tangan sayyidina Umar dan Sa’ad bin Ubadah, lalu bertanya kepada mereka semua, “Siapakah yang akan kalian pilih dari kedua orang ini untuk menjadi khalifah bagi kalian?” Di luar dugaan, sayyidina Umar menarik tangannya dan berkata, “Demi Allah, selama Abu Bakar ada di sampingku, tidak ada yang berhak untuk menjadi khalifah selain daripadanya.”

Setelah mengatakan hal itu, sayyidina Umar pun lalu berkata kepada sayyidina Abu Bakar, “Ya Abu Bakar ulurkanlah tanganmu.” Entah disadari atau tidak, sayyidina Abu Bakar mengulurkan tangannya, lalu segera diraih oleh Umar sambil berkata, “Aku menjual diriku kepadamu untuk mendengar dan taat.” Setelah melakukan baiat itu, sahabat Umar berbalik menghadap kepada kaum Anshar dari Banu Sa’adah tersebut. Ia tidak meminta persetujuan kepada mereka atas apa yang telah dia lakukan, tetapi justru malah menyeru mereka dengan tegas “Berdirilah kalian untuk membaeat Abu Bakar!”

Banu Sa’adah tentu saja terkesima dengan apa yang telah dilakukan oleh sayyidina Umar dan juga seruannya. Kabilah Banu Sa’adah yang semula bersikeras untuk mengangkat Sa’ad bin Ubadah menjadi khalifah, akhirnya mengikuti sayyidina Umar yang hanya seorang diri membaeat Abu Bakar radiyallahu ‘anhu.

Dari kisah ini, dapat kita fokuskan perhatian kita pada sikap Banu Sa’adah. Setelah secara sah sayyidina Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, dengan serta merta mereka menuruti keputusan tersebut tanpa ada satu pun yang memprotes. Demikian pula bangsa ini. Ketika memilih, rakyat telah terbagi ke dalam dua kubu dan dua pilihan. Namun, ketika nanti telah diumumkan kandidat yang terpilih sebagai pemimpin negara ini dengan hasil yang adil dan sah, maka sepatutnyalah dua kubu kembali menjadi satu padu sebagai rakyat dan bangsa yang tidak terpecah.

Wallahu’alam bi bash-shawab.

X