Tajuk

Ada Apa Dengan Baasyir?

Posted: 22/01/2019 at 09:19   /   by   /   comments (0)

Mari kita pandang sejenak bagaimana dengan situasi penegegakan hukum hari ini. Kini tersaji berita ada pembebasan ulama yang oleh pemerintah dicap sebagai ‘most dengerous man in the world’. Dia adalah seorang ulama renta pondok pesantren Ngruki, Solo, Abu Bakar Baasyir. Setelah menjalani 2/3 masa hukuman, Baasyir pada akhir Desember lalu sebenarnya sudah berhak mengajukan bebas.

Namun Baasyir tak mengajukan pembebasan bersyarat itu. Ini karena dia tetap merasa yakin tak bersalah dan tetap tak mengakui Pancasila sebagai dasar negara. Dia tetap kukuh menyatakan Islam adalah hal yang tak bisa ditawar dan atas sikapnya itu. Baasyir pun siap tetap berada dalam penjara sesuai dengan vonis masa hukuman yang dikenakan kepadanya, jika harus menandatangani berbagai prasyarat untuk pembebasan.

Uniknya, entah karena apa tiba-tiba Baasyir di lobi oleh seorang pengacara presiden Joko Widodo, Prof Yusril Ihza Mahendra. Dia menyatakan bila ustaz Baasyir bisa dan akan segera menghirup udata bebas. Tak jelas alasan atau dasar hukumnya. Tapi, menurut Yusril dasar hukumnya kemanusiaan dan atas nama hak kedaulatan negara dari seorang kepala negara.

Atas adanya soal tersebut, para ahli hukum berdebat riuh, pro dan kontra ramai. Pihak luar negeri, misalnya Perdana Menteri Australia kecewa berat. Apalagi rakyatnya yang merupakan para korban korban bom Bali menjadi ribut dan marah-marah atas pembebasan Baasyir tersebut. Australia melihat kasus bom Bali dituduhkan dilakukan atas inspirasi Abu Bakar Baasyir.

Alhasil, yang jelas sosok Baasyir sukses membuat kehebohan baru. Bayangkan, menurut putranya dia bebas tanpa prasyarat apa pun. Apalagi dia ‘cuek’ saja dan ditoleransi ketika tak mau menandatangani pernyataan yang amat sakral, yakni mengakui dasar negara Pancasila. Seakan jargon terkenal saat ini 'Pancasila adalah kita' dan 'NKRI Harga Mati' hanya isapan jempol belaka.

Dan tokoh seperti Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto tentu saja tak terima. Menurutnya, sikap 'keukeh' Baasyir jelas sebuah masalah teramat besar. Dan kalau dibiarkan itu menjadi penanda bahwa ada toleransi kepada pihak yang jelas-jelas tak mengakui ekistensi dasar negara: Pancasila. Ini memang jelas merupakan ‘aib’ yang luar biasa.

Situasi ini makin seru ketika Koordinator Tim Pengacara Ustaz Abu Bakar Ba'asyir, Mahendradatta, buka suara terkait pembebasan tersebut. Dia malah kemudian meminta masyarakat melihat persoalan pembebasan murni Ustaz Abu Bakar Ba'asyir tidak dikaitkan pada politik nasional, khususnya terkait pemilihan presiden (pilpres). Ia menegaskan upaya pembebasan Ustaz Abu Bakar Ba'asyir ini sudah diusahakan sejak lama karena sudah menjalani prosedur hukum.

Namun, apa pun alasan itu memang tercium bau politik persaingan Pilpres 2019. Di sela keseruan debat capres dalam ajang Pemilu 2019 memang teraba Jokowi tengah berusaha mencari tambahan suara (elektabilitias) dari kalangan yang selama ini dituduh sebagai Islam radikal.

Pengamat terorisme Al Chaidar mengatakan pembebasan itu adalah sebuah langkah politik terkait pilpres. Pemberian pembebasan ini sebagai sebuah ‘political will’ yang harus dicurigai atau ditolak dengan catatan atau perlu dipertimbangkan kembali sebelum mengambil keputusan untuk menerima grasi ini. Bukan hanya itu, implikasi menerima pembebasan itu sangat jauh dan luas setelah 9 tahun ustadz Abubakar Ba'asyir menjalani masa tahanan yang cukup melelahkan dan publik masih berharap bahwa ia akan terus konsisten sampai akhir.

Bahkan Al Chaidar menekankan, beberapa suara minoritas dari gerakan radikal Islam di Indonesia menyatakan bahwa ustadz Abubakar Ba'asyir adalah pemimpin karismatik jihad terakhir Indonesia dan berharap sekali untuk terus melanjutkan perlawanan terhadap NKRI yang dianggap tidak islami.

Lalu apakah kisah pembebasan ustadz Abu Bakar Baasyir ini untuk memperbaiki citra petahana di mata masyarakat. Seolah-olah ia peduli dengan ulama, berpihak pada gerakan Islam?. Ataukah ini sekedar ‘gimick’ karena dalam waktu yang hampir sama ‘sang super star’ Basuki Tjahaja Purnama juga bebas? Apakah kasus Baasyir dipilih sebagai wacana pengalihan isu terkait bebasnya mantan gubernur DKI itu?. Mungkin para politikus akan menjawab “Ah pusing..!”

Menambah pusing lagi ketika menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Wiranto mendadak konferensi pers tadi malam. Upaya pembebasan tanpa syarat Ustadz Abu Bakar Baasyir belum rampung. Bahkan, kini upaya pembebasannya masih akan ditinjau lebih lanjut dan akan dikaji ulang.

Wallahu’Alam Bishshowwab...

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website