Tajuk

Babak Penyisihan Ramadhan

Posted: 07/06/2018 at 09:53   /   by   /   comments (0)

Tanpa terasa kita umat Islam telah berada di penghujung bulan Ramadhan. Hanya tinggal sepekan lagi Ramadan akan berakhir. Bulan yang penuh berkah akan pamit meninggalkan kita semua, belum ada jaminan bahwa kita akan kembali bertemu Ramadan pada tahun yang akan datang. Sungguh merugi kita, jika Ramadan usai tetapi pundi amal yang bertebaran dalam Ramadan tidak maksimal diperoleh.

Adalah sebuah hal wajar ketika di penghujung bulan Ramadhan yang tersisa beberapa hari lagi, umat Islam disibukkan dengan aktivitas ibadah yang terus menerus, baik di siang harinya maupun di malam harinya. Maka tak heran, di lingkungan masyarakat yang kental dengan nuansa Islam, saat tibanya penghujung Ramadhan mesjid-mesjid penuh dengan orang-orang yang beribadah kepada Allah.
Apalagi di penghujung Ramadhan Allah SWT telah mengisyaratkan akan datangnya sebuah malam “lailatul qadar” yang jika kita beribadah di saat malam tersebut lebih baik dibandingkan dengan ibadah yang dilakukan selama 1000 bulan atau 83 tahun 4 bulan. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman dalam Quran surat Al Qodar ayat 3, yang artinya “Malam kemulian itu lebih baik dari seribu bulan”.
Namun, fakta atau kenyataan yang terjadi lingkungan kita justru berbeda. Jika kita mengimpikan di penghujung Ramadhan kemeriahannya semakin besar, aktivitas masyarakat dalam hal beribadah semakin meningkat, maka yang kita lihat justru sebaliknya. Di penghujung Ramadhan kemeriahannya tidak begitu terasa lagi, aktivitas ibadah masyarakat mulai menurun. Ini terlihat dari banyaknya masjid dan mushalla yang mulai berkurang jamaah shalatnya.

Ustadz Abul Hidayat Saerodjie di siaran rutinnya kemarin menyampaikan bahwa sepuluh hari terakhir Ramadan ini bisa kita analogikan sebagai babak penyisihan dalam sebuah kompetisi. Banyak dari kita mulai tersisih dari amalan-amalan ibadah dan amal-amal kebaikan yang ketika awal ramadhan begitu semangat melaksanakannya.

Ironisnya lagi, aktivitas konsumsi di penghujung Ramadhan yang notabenenya hanya untuk menunjang kebutuhan duniawi justru meningkat. Hal ini terlihat dari membludaknya pasar dan mall oleh masyarakat dalam hal ‘tradisinya’ untuk menyambut lebaran. Sekarang coba kita renungi, bagaimana kita mengharapkan akhir Ramadhan untuk mendapatkan ‘predikat’ taqwa dari Allah SWT, sementara di penghujung Ramadhan aktivitas ibadah kita justru melempem? Nah!

Pekan terakhir Ramadhan ini seharusnya kita jadikan momentum peningkatan kebaikan sehingga kita tercatat sebagai orang-orang yang bertaqwa dengan cara meningkatkan ibadah, evaluai dan introspeksi diri, juga bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat. Salah satu caranya sebagaimana yang disunnahkan Rasulullah adalah beriktikaf untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah azza wajalla.

Berbahagialah orang-orang yang telah beramal shaleh dan menutupnya dengan sempurna di bulan suci ini. Akan tetapi jika termasuk orang-orang yang telah menyia-nyiakannya, maka marilah kita berusaha untuk menutupnya dengan kebaikan. Sebagaimana sabda Nabi shalallahu 'alaihi wasalam ”Sesungguhnya amalan itu yang dinilai adalah akhirnya”.

Perlu dan sepatutnya kita renungkan juga, wahai saudaraku Ikhwan dan akhwat: “Janganlah kita menjadi hamba Ramadhan, tapi jadilah hamba Allah.” Karena ada sebagian manusia yang menyibukkan diri di bulan Ramadan dengan ketaatan dan qiraatul Qur’an, kemudian ia meninggalkan itu semua bersamaan berlalunya Ramadan.

Ada kutipan menarik, “Barangsiapa menyembah Ramadhan, maka Ramadhan telah mati. Namun barangsiapa yang menyembah Allah, maka Allah tetap hidup dan tidak akan pernah mati.” Maksud dari kutipan tersebut adalah Allah akan cinta, kalau kita manusia taat sepanjang waktu, sebagaimana Allah murka terhadap orang yang bermaksiat di sepanjang waktu. Oleh karena itu kita optimalkan penghujung ramadhan ini dengan mengambil bekal sebanyak mungkin.

Dengan berharap kekuatan dari Allah, semoga kita bisa melewati babak penyisihan sepuluh ramadhan terakhir ini sebaik-baiknya, dan pada akhirnya kita menjadi juara dengan derajat taqwa disisi Allah swt. Dan semoga kita termasuk orang yang beruntung sebagaimana beruntungnya orang yang mati dalam keadaan khusnul khotimah.
Wallahu alam bish shawab.

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*