Tajuk

BAGAIMANA AKHIR DRAMA PAPA SETNOV

Posted: 30/03/2018 at 08:00   /   by   /   comments (0)

Drama kehidupan ini memang penuh misteri. Ada kalanya bahagia, ada kalanya juga sebaliknya. Begitu pula drama kehidupan mantan Ketua DPR RI, Setya Novanto. Sebelum ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-El) pada 17 Juli 2017 lalu, mungkin Setya Novanto yang pernah tenar karena drama “Papa Minta Saham” ini selalu merasa tenang dan bahagia karena selalu lolos dari upaya jerat hukum yang mengincar dirinya.

Namun petualangan “Papa” akhirnya harus berhenti sampai kasus mega korupsi yang diduga menjerat banyak dari politikus lain. Terakhir, Setnov menyebut beberapa nama besar seperti Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, hingga calon Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menerima cipratan panasnya uang KTP-El.

Ibarat serial, setiap episode kejar tayang seputar Setya "Setnov" Novanto akan terus berlanjut. Penonton yang tak sabar hanya menunggu klimaks di bagian akhir. Penonton yang suka selingan berharap selalu ada hal menarik dalam setiap bagian kisah. Beberapa di antaranya seperti saksi penting Johannes Marliem yang bunuh diri di Amerika Serikat hingga kecelakaan menabrak tiang listrik. Jaksa juga menyinggung permintaan bantuan Setnov ke Partai Demokrat.

Menurut Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Irene Putri, meski sulit untuk bisa mengungkap kasus KTP-El, namun dia menilai tak ada kejahatan yang sempurna. Penegak hukum pun akan selalu punya jalan untuk membongkar setiap kejahatan. JPU KPK menyadari jika perkara ini cukup menyita perhatian publik. Alasannya, Novanto yang menjadi terdakwa merupakan sosok politisi yang memiliki pengaruh kuat dan pelobi ulung.

Selain itu, banyak pula fakta dalam persidangan yang membeberkan metode baru dalam mengalirkan uang korupsi dari luar negeri tanpa melalui sistem perbankan nasional. Metode ini dilakukan agar terhindar dari deteksi otoritas pengawas keuangan di Indonesia.

Namun dibalik itu semua, KPK dituntut keberaniannya untuk mengungkap kasus KTP-El ini hingga ke akar-akarnya. Setnov mungkin hanya sebagai tumbal dari ganasnya persaingan politik di Tanah Air, karena ketika dengan berani Setnov menyebut ada beberapa nama yang ikut mencicipi manisnya kue KTP-El menunjukkan bahwa kasus rasuah di negeri ini seolah sudah mendarah daging dan tidak malu lagi untuk melakukannya secara berjamaah.

PR besar bagi KPK untuk mengungkap semua ini, berat memang untuk melakukannya, karena seperti peristiwa yang menimpa Novel Baswedan, besar resiko yang harus dihadapi. Integritas tinggi sangat diperlukan untuk mengobati bangsa yang sudah terlalu sakit ini menghadapi tingginya kasus korupsi di Tanah Air.

Masih banyak Setnov-setnov lain yang harus dibuat jera dengan hukuman yang setimpal tanpa ampunan ataupun remisi. Karena terlalu banyak pelajaran yang kita ambil dari hukuman kasus-kasus korupsi yang mendapat keringanan. Seperti apa yang dilakukan oleh beberapa negara yang menggunakan hukuman mati bagi para koruptor.

Oleh sebab itu, tidak ada kata lain untuk memberantas kasus korupsi yang menjerat Setnov, termasuk kasus korupsi yang lain di Indonesia, selain BERANGUS HINGGA TUNTAS…!!!
Wallahu A’lam bish Shawab.

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*