Tajuk

Bencana Korupsi di Indonesia

Posted: 03/10/2017 at 09:30   /   by   /   comments (0)

Membaca Indonesia, seolah membaca kembali novel Sutan Takdir Alisjahbana, Tak Putus Dirundung Malang. Tapi kali ini dalam bentuk cerita yang dan lebih mengharu biru, karena begitu riil dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita. Selain karena berbagai force major dan bencana alam yang terjadi, juga karena bencana lain yang bersifat human error yang seharusnya bisa dihindari.

Salah satu faktor human error yang kian hari nampak kian besar bilangannya adalah praktik korupsi di negeri ini. Berita di media massa tak henti-hentinya menyebutkan tentang bupati yang ditangkap karena mark up, kepala daerah yang bermasalah, dan anggota-anggota dewan rakyat yang digugat oleh rakyatnya sendiri. Bahkan Ketua DPR yang sakti mandraguna. Dalam prespektif lain, ini adalah bencana yang sedang menimpa kita juga. Karena perilaku-perilaku menyimpang para punggawa negeri melahirkan rentetan konsekuensi lain yang berdampak lebih besar.

Awal 1990-an, Indonesia berada satu kelas dengan Malaysia dan Thailand yang diprediksikan akan menjadi negara industri baru. Tapi pada awal 2000-an, status itu kian turun. Kita dilevel yang sama dengan Cina dan Vietnam yang baru pulih dari perang besar tahun 1970-an. Tapi kini, iklim investasi di Indonesia hanya lebih tinggi sedikit di atas Laos, bahkan dari Timor Leste yang baru merdeka.

Iklim investasi yang rendah adalah hasil dari gabungan stabilitas ekonomi makro yang terus gonjang-ganjing, kepastian hukum yang tak pasti-pasti, sistem perpajakan yang ajaib dan juga regulasi yang selalu berbeda di setiap meja. Belum lagi ditambah soal-soal laten seperti keterampilan SDM dan kualitas infrastruktur yang tak memadai. Tapi penyumbang paling besar dari “silent tragedy” yang satu ini adalah merajalelanya korupsi. Saking kuatnya perilaku ini, pemodal malah menyarankan agar korupsi di Indonesia dilegalkan saja praktiknya jika memang mampu menjamin kepastian usaha.

Untuk keluar dari silent tragedy ini Indonesia harus dipimpin dengan teladan. Teladan baik dari para pemimpin, di tingkat apapun dan di bidang manapun.

Menjadi pemimpin, apalagi di tingkat pejabat publik adalah sebuah kehormatan, dan lebih dari itu ia adalah mandat kepercayaan rakyat. Menjadi presiden atau wakil presiden, menteri atau gubernur, bahkan bupati, camat dan lurah sekalipun, adalah sebuah kehormatan yang disematkan oleh rakyat. Dan selayaknya, sebagai kehormatan para pemimpin harus pula menghormati jabatannya dengan cara memberikan bakti yang terbaik. Karena hanya dengan bakti yang terbaik, kepercayaan rakyat yang memberi amanat bisa didapat. Para pemimpin tidak saja harus memberi teladan, tapi juga mampu menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekelilingnya dalam hal pelayanan publik, kejujuran, kerja keras, konsistensi pada kebenaran dan berpihak pada kepentingan rakyat.

Tapi bayangkan jika saat ini, tak kurang dari 70 kepala daerah tersangkut masalah korupsi. Bahkan saking banyaknya kasus korupsi di negeri ini, jika kita mengetik kalimat Korupsi Indonesia di google, hanya dalam waktu kurang dari satu detik, google akan menyajikan berita sebanyak 4.100.000 artikel tentang korupsi di Indonesia.

Karenanya, harus dibangun pula perangkat imunitas yang bersifat internal. Dan hal tersebut ada pada spritualitas atau keimanan. Agama apapun, tidak ada yang membenarkan seseorang mengambil hak orang lain tanpa izin, apalagi dengan cara yang tidak benar. Ajaran-ajaran agama Islam, Katholik dan Protestan, Budha juga Hindu tak ada yang membolehkan umatnya melakukan kejahatan.

Praktik korupsi sudah demikian canggih. Perangkat-perangkatnya sudah demikian hebat, dengan cara halus atau kasar. Yang tak prosedural bisa nampak bahkan menjadi seperti sudah selayaknya. Atau sekalian, dipaksa, dibeli hukum dan keadilan. Pada level ini, hanya ada hati nurani yang mampu dan bisa menjadi benteng terakhirnya. Sebab, sampai hari ini belum ada satu pun manusia yang berhasil mengelabui kata hatinya sendiri.

Kedekatan manusia, terutama para pemimpin publik pada nilai-nilai spiritual menjadi kekuatan utama yang menghidupkan nurani mereka. Tingkat spiritualitas dan kemanusiaan para pemimpin, sebanding lurus dengan tingkat ketahanan mereka menghadapi godaan. Semakin tinggi spiritualitas seorang pemimpin, maka semakin tinggi pula tingkat imunitasnya pada semua hal yang mengarah pada tindak korupsi. Dan itulah yang dibutuhkan negeri ini. Kembali lah ke jalan yang benar, atau tak ada waktu lagi untuk kembali.

(Visited 31 times, 1 visits today)

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*