Tajuk

Berbahagia dengan Al Quran

Posted: 11/08/2017 at 08:30   /   by   /   comments (0)

Ada banyak jenis tangis yang ada dalam kehidupan ini. Tapi tak ada tangis yang lebih baik dibanding menangis karena Allah yang Mahasuci.

Ada kisah menarik dari Abdullah ibnu Rawahah ra. ketika mendengar sebuah wahyu yang turun dan dibacakan oleh Rasulullah. “Dan tidak ada seorangpun daripadamu melainkan akan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (QS Maryam: 71)

Mendengar ayat ini turun, Abdullah ibnu Rawahah pulang dengan berlari sangat kencang. Ia menangis sepanjang jalan, bercururan air matanya. Sesampainya di rumah, ia tambah menangis menggeru memahami makna wahyu. Ketika istrinya sampai di rumah dan mengetahui sang suami sedang menangis tersedu, ia pun turut menangis. Terguncang-guncang pundaknya menahan isak yang semakin mendesak dada. Begitu pula ketika pembantu mereka pulang ke rumah, ia turut menangis dengan hebatnya. Anggota keluarga yang lain, ketika menyaksikan Abdullah ibnu Rawahah, istri dan pembantunya menangis, mereka jatuh menangis bersama.

Lalu, setelah tangisan itu reda, setelah Abdullah ibnu Rawahah mampu menarik napas, ia bertanya pada keluarganya. “Wahai keluargaku, apa yang telah membuat kalian menangis?”

Lalu istri Abdullah ibnu Rawahah yang angkat bicara. “Tidak tahu, apa yang membuat kami menangis. Tapi ketika kami melihatmu menangis, kami pun ikut menangis. Apa yang telah membuatmu menangis demikiran rupa?”

“Telah turun satu ayat kepada Rasulullah saw, isinya Allah azza wa Jalla memberitahu bahwa aku pasti akan mendatangi neraka. Tapi Dia tidak memberitahu aku, apakah aku akan keluar dari neraka. Itulah yang membuatku menangis,” ujar Abdullah ibnu Rawahah menerangkan.

Sedemikian dahsyat pemaknaan para sahabat atas wahyu yang diturunkan Allah. Satu ayat saja, mampu membuat mereka menangis menggeru. Sebabnya antara lain, para sahabat yang mulia itu merasa seolah-olah ayat-ayat itu turun khusus untuk dirinya. Mereka merasa sepertinya Allah menurunkan teguran langsung untuk manusia. Lalu siapapun sahabat yang mendengarnya, langsung menyesali diri dan mengubah diri untuk lebih baik lagi.

Interaksi para sahabat nabi dengan al Qur’an sangatlah tinggi. Baik secara kuantitas, ataupun kualitas. Mereka tak pernah mendengar al Qur’an kecuali melakukan tiga hal; menghafalnya, memahaminya dan mengamalkannya. Tidak saja satu atau dua orang sahabat yang berperilaku demikian, tapi nyaris seluruh generasi awal Islam memiliki akhlak yang sempurna ketika berinteraksi dengan al Qur’an.

Alangkah indah akhlak orang-orang mulia ketika beinteraksi dengan al Qur’an yang dipersembahkan sebagai petunjuk hidup untuk manusia. Ketika al Qur’an memberikan peringatan, terbetik rasa takut dihatinya. Ketika al Qur’an menyampaikan berita gembira, maka berbunga-bunga pula hatinya. Larangan dan perintah, dalam firman-firman Allah yang mulia seolah menjadi napas sehari-hari di kehidupan ini.

Mereka menangis karena Allah. Mereka bergembira karena Allah. Mereka tersedu karena Allah. Mereka bersuka cita karena Allah pula. Semoga demikian pula kita. Bahagia dan gembira dekat dengan Al Quran.

(Visited 14 times, 1 visits today)

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*