Tajuk

Berbeda untuk Memuliakan

Posted: 04/08/2017 at 08:30   /   by   /   comments (0)

Dalam bahasa Indonesia, kita mengenalnya sebagai diferensiasi yang diambil dari bahasa Inggris differentiate. Artinya, mencari dan mengadakan perbedaan. Biasanya, kata ini lebih banyak digunakan dalam bahasa bisnis atau manajemen, tapi sesungguhnya di lahan mana pun, kita wajib mengadakan perbedaan agar lebih mampu bersaing dari keunggulan yang lain. Termasuk dalam hal ibadah dan melaksanakan agama. Tapi perbedaan apa yang dibolehkan dan mampu memuliakan?

Mari kita tengok kembali sosok mulia Abdullah ibnu Mas’ud dalam sejarah Islam di awal perjalanannya. Dari segi fisik, sungguh, jika ia hidup di tengah-tengah kita saat ini, niscaya ia akan menjadi golongan masyarakat kelas dua. Karena kita lebih menilai manusia dari keindahan fisiknya, kekayaan hartanya dan kemuliaan keturunannya, tanpa menilik lebih jauh kualitas iman dan amalnya. Ibnu Mas’ud adalah seorang lelaki bertubuh kecil dan pendek, bahkan saking kecilnya, ada yang meriwayatkan ketika Ibnu Mas’ud berdiri tegak tingginya sama dengan Umar bin Khaththab saat duduk santai. Badannya kurus, kakinya kecil dengan betis yang tipis dan perutnya buncit.

Tentu, secara kemuliaan strata sosial ia tak akan pernah mampu bersaing dengan sahabat Abu Bakar ash Shiddiq yang bertempat sangat tinggi di kalangan kaumnya. Ibnu Mas’ud juga tak akan pernah bersaing dengan Ali bin Abi Thalib dalam hal kecakapan fisik. Begitu pula dalam hal kekuatan dan tenaga besar, Ibnu Mas’ud sama sekali bukan tandingan Umar bin Khaththab. Tapi dengan segala hal di atas, tak lantas membuat Ibnu Mas’ud tak menemukan celah untuk mendapatkan kemuliaan.

Abdullah ibnu Mas’ud adalah orang yang teliti, melakukan segala hal secara pelan dan hati-hati, lembut, penyabar dan baik hati. Ia termasuk satu di antara sedikit sahabat nabi yang dijuluki sebagai sahabat yang ilmunya melimpah ruah. Ibnu Numair pernah meriwayatkan tentang kemuliaan Abdullah ibnu Mas’ud di tengah umat Islam. Rasulullah saw mendaftar empat nama sebagai tempat bertanya dan mengambil ayat-ayat al Qur’an. Nama-nama itu adalah Abdullah ibnu Mas’ud, Mu’adz bin Jabal. Ubay bin Kaab dan Salim, seorang budak dari Abu Hudzaifah. Sejarah juga merekam, bahwa Abdullah ibnu Mas’ud tercatat pula sebagai orang kedua setelah Rasulullah yang membaca dengan keras ayat-ayat al Qur’an di tengah-tengah Ka’bah yang masih dipenuhi dengan berhala.

Demikian mulia sosok Abdullah ibnu Mas’ud sehingga suatu ketika Rasulullah pernah bersabda, “Aku ridha atas umatku terhadap apa yang diridhai Ibnu Mas’ud. Dan aku marah atas sesuatu yang membuat marah Ibnu Mas’ud.” (HR. Thabrani)

Apa yang membuatnya demikian mulia, di tengah umat Islam, di sisi Rasulullah dan di depan Allah? Jawabannya adalah ilmu dan kekuatan Ibnu Mas’ud mempelajari al Qur’an dengan tafsir yang benar. Dengan itu pula Abdullah ibnu Mas’ud diantarkan ke tempat yang tinggi dan penuh kemuliaan.

Jika hari ini kehidupan masyarakat dan kaum Muslimin dipenuhi perbedaan, maka sebaiknya perbedaan-perbedaan itu berujung pada kemuliaan, saling memuliakan, saling meninggikan, bukan saling menista dan merendahkan. Kita harus menjadi kelompok masyarakat yang saling memuliakan, dengan segala perbedaan yang ada. Tentu saja, bukan perbedaan dalam konteks negatif dan destruktif. Tapi perbedaan yang positif dan konstruktif.

Tinggalkan perpecahan. Jauhi permusuhan. Dekati persaudaraan. Tegakkan usaha saling memuliakan. Lakukan ini dengan sungguh dari usaha yang terkecil dalam kehidupan sehari-hari. Jangan takut berbeda. Dan jangan juga kejam pada yang tak sama. Pahami dan teliti, kaji dengan jeli. Karena kita diperintahkan untuk saling mempelajari. Semoga Allah menolong kita semua, amin.

(Visited 43 times, 1 visits today)

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*