Tajuk

Catatan di Hari Maulid Nabi

Posted: 01/12/2017 at 08:00   /   by   /   comments (0)

Dulu di masa Rasulullah, di dalam Masjid Nabawi yang mulia, ada sebatang pohon kurma tepat di bagian depannya. Di batang pohon kurma ini jika Rasulullah khutbah, taklim, atau membacakan wahyu, beliau sering bersandar, bertekan, atau memeluknya. Sampai kemudian para sahabat membangun untuk beliau sebuah mimbar, agar Rasulullah bisa berbicara dengan posisi yang lebih baik menurut sahabat.

Setelah beberapa waktu beliau berceramah di atas mimbar, suatu ketika Rasulullah melewati pohon kurma ini untuk menuju mimbar. Dan apa yang terjadi? Pohon kurma ini terdengar menangis merintih sedih. Ini salah satu mukjizat nabi. Pohon kurma menangis karena rindu nabi. Pohon kurma ini menangis tak terdiamkan.

Lalu Rasulullah turun dari mimbar dan memeluknya, melepas urai kerinduan pohon kurma pada beliau. Kata Rasulullah, sungguh jika aku tak memeluknya, niscaya tangisnya akan terdengar sampai hari kiamat datang. Duhai, betapa rindunya kurma itu!

Sungguh, kita kaum Muslimin jauh lebih berhak dan wajib merindukan Rasulullah dibanding sepucuk pohon kurma. Sudahkah kita merindukan beliau, jauh melebihi kerinduan pohon kurma itu?

Tsauban seorang pembantu nabi suatu hari nampak sangat bersedih dan wajahnya murung sekali. Kemudian Rasulullah bertanya, “Kenapa Tsauban?”

Lalu Tsauban berkata dengan nada penuh iba, “Jika engkau wafat nanti, duhai nabi.
Engkau akan diangkat ke surga oleh Yang Maha Tinggi, kemudian engkau akan dikumpulkan dengan setiap para nabi. Sementara aku hanya pembantu sederhanamu. Mungkinkah kita bertemu lagi?

Tsauban sudah merindukan nabi, bahkan saat dia belum berpisah. Tsauban takut tak akan berjumpa lagi, meski saat itu masih bersama beliau! Lalu Rasulullah mendoakan Tsauban memasuki surga dan berkumpul kelak bersama Rasululah.

Duhai Rasulullah, kami juga ingin bersamamu, mungkinkah?

Sungguh, sebuah kemuliaan bagi kita semua untuk mengenal kebaikan kebaikan Rasulullah dan mencintainya karena itu. Mengikuti sunnahnya, bershalawat kepadanya, dan merindukan Nabi yang paling mulia.

Cinta kepada Rasulullah, meski bagi kita umat yang jauh berabad jaraknya, adalah cinta yang memuliakan hidup kita. Baik di dunia maupun di akhirat. Sebab, Rasulullah sendiri yang berjanji, “Siapapun yang mencintai sekelompok manusia, akan bersama mereka di hari kemudian.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrak)

Adakah orang-orang itu adalah kita? Orang-orang yang mendapat syafaat di hari perlindungan tiada diberikan. Dihari matahari hanya berjarak sejengkal. Adakah kita bernaung di bawah benderah Rasulullah dan menatapnya dengan tatapan penuh rindu dan haru, lalu mendapat pelukan satu persatu dari manusia paling mulia. Aamiin.

Duhai Rasulullah, kami juga ingin bersamamu, mungkinkah?

Ya Rasulullah, salam ini kami ucapkan dengan rasa penuh perih. Kami rindu padamu, ya Rasulullah.

Salam kami untukmu, wahai manusia paling mulia; nabi akhir zaman. Allahuma shalli ala Muhammad.

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website