Tajuk

Cerdas Menghadapi Situasi

Posted: 16/05/2017 at 10:31   /   by   /   comments (0)

Ini adalah sebuah kisah, tentang seorang ulama ternama. Yang menghadapi tantangan dakwah luar biasa. Namun dihadapinya dengan kecerdasan yang indah. Dan tentang kecerdasan itu kita bisa meniru Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Sosok yang mampu mengubah kesengsaraan menjadi kebahagiaan. Sosok yang mampu menyulap kesempitan menjadi kelapangan tak terkira.

Dalam hidupnya, Ibnu Taimiyyah sangatlah akrab dengan penjara karena berhadapan dengan penguasa. Ia dihukum dengan penjara yang tak biasa. Dikurung sendiri, tak boleh bicara. Tak ada kertas untuk menulis. Tak ada apapun. Ancaman dan siksa, menjadi pengganti makan setiap harinya. Di tengah kondisi seperti itu, pikirannya tetap jernih dengan kecerdasan yang tak kurang ketajamannya.

“Apa yang hendak kalian perbuat padaku,” tanya Ibnu Taimiyyah ketika ancaman berkali-kali menghampirinya.

“Asal kalian tahu, kekuatanku ada pada keimananku. Keimananku ada di dalam kalbuku. Kalbuku berada di dalam genggaman Tuhanku. Dan Tuhanku Mahapenolong,” ujar Ibnu Taimiyyah lagi.

“Andaikata kau membunuhku, kematianku adalah syahadah yang akan mengantarkanku pada Tuhanku, untuk memasuki surga-Nya, selamanya,” tandas Ibnu Taimiyyah.

“Andaikata kau menahanku, penjara akan menjadi tempatku berkhalwat dan mendekatkan diri pada Tuhanku,” tegas Ibnu Taimiyyah lagi.

“Andaikata kau mengasingkan diriku, maka tempat pengasingan akan menjadi tempat tamasya yang belum terjamah telapak kakiku,” tuturnya.

Ibnu Taimiyyah telah berhasil mengubah musibah menjadi nikmat yang tak terperi. Ia mampu menjadikan masalah berubah menjadi berkah. Ibnu Taimiyyah memang nggak ada matinya, begitu kata anak-anak muda.

Agama ini adalah agama yang paling mulia. Dan umat Islam adalah umat yang paling mulia juga. Wahyu yang diturunkan Allah pada rasul-Nya, adalah perangkat luarbiasa yang mengantarkan manusia meraih kebaikan yang sempurna.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang yang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS Ali Imran: 139-140)

Semoga Allah menolong kita../

(Visited 50 times, 1 visits today)

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*