Tajuk

Dakwah, Pilpres Dan Industri 4.0

Posted: 03/01/2019 at 08:00   /   by   /   comments (0)

Arus globalisasi sudah tidak terbendung masuk ke Indonesia. Disertai dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, dunia kini memasuki era revolusi industri 4.0 yaitu, sebuah kondisi pada abad ke-21 ketika terjadi perubahan besar-besaran di berbagai bidang lewat perpaduan teknologi yang mengurangi sekat-sekat antara dunia fisik, digital, dan biologi.

Tak pelak dunia dakwah pun terdampak atas revolusi tersebut. Teringat menjadi pembahasan hangat kala itu mengenai dai seleb atau dai yang mengisi ruang televisi. Pro kontra pun bermunculan, dan sekarang visualisasi tersebut kian marak saat YouTube dan saluran media sosial lainnya makin dikenal, keramaian saat itu pun berpindah menjadi pemanfaatan dengan maksimal media yang ada untuk berdakwah.

Seperti penjelasan indutri 4.0, yaitu berkurangnya sekat-sekat antara dunia fisik dan digital, menjadi banyaknya hal positif, tentunya dibarengi banyaknya juga hal-hal negatif yang harus menjadi perhatian dakwah di 2019 ini. Karena masyarakat dan ummat ini dinamis dengan terus bergerak, maka para dai pun harus lebih ekstra dinamis.

Terlebih lagi Indonesia berada di musim politik yaitu proses transisi tongkat kepemimpinan untuk lima tahun mendatang. Belakangan dai-dai selebritas bersilaturahmi ke kediaman cawapres K.H Ma'ruf Amin. Ketua Komisi Dakwah Majlis Ulama Indonesia KH Cholil Nafis yang menjadi koordinator pertemuan tersebut menjelaskan bahwa dai-dai seleb membicarakan dakwah-dakwah yang jangan sampai membawa keburukan.

Dia menyebut para dai tidak boleh terprovokasi di suasana menjelang Pilpres 2019. Dengan kapasitasnya sebagai tokoh NU dan pengurus MUI, K.H Ma'ruf Amin merasa diingatkan dan memberikan apresiasi atas kunjungan dai-dai tersebut. Ia berpesan kepada para dai agar tidak menyampaikan pesan-pesan kegaduhan dalam ceramahnya di ajang Pilpres 2019.

Tidak ketinggalan, jauh hari sudah disampaikan pula oleh dai sejuta followers yaitu ustad Abdul Somad, kemudian dai yang khas dengan logat betawinya Ustad Haikal Hassan Baras serta asatidz lainnya, kerap kali menyampaikan bahwa ukhuwah sesama muslim serta menjaga kehangatan kehidupan yang penuh keberagaman adalah hal yang terpenting untuk dijaga.

Sebagai contoh saja, di tahun 2018 lalu, dari “Sontoloyo” menuju “Boyolali. Dengan “Lets make Indonesia great again” atau “Winnter is Coming” serta lain sebagainya, ternyata mampu menghilangkan warna indah grassroots, lalu tergantikan dengan warna semrawut penuh emosi yang tidak terkendali saling caci sana-sini.

Dampak saling olok pun tak dapat dibendung antar pendukung partai dan ormas. Namun sudahlah, jadikan itu lelucon dipagi hari dengan ditemani secangkir kopi, kemudian larut disetiap seruputan dan tidak merusak persahabatan. Namun tetap waspada terhadap provokator yang tak kenal henti menghembuskan percikan api.

Masuknya nuansa Pilpres dan Industri 4.0 ke dalam kancah dakwah menjadi bilah pisau yang memiliki 2 mata tajam. Bisa menjadikan lebih bermanfaat atau malah membuat ummat ini akan terseok dan terpecah lalu memunculkan berbagai macam kerugian. Tentu kita ingin yang membawa manfaat terbaik, dengan kembali kepada masing-masing individu dai yang harus memegang khittoh perjuangan dakwah yang diajarkan serta dipraktekan oleh Rasulullah Shallaahu ‘Alaihi Wasaalam.

Marilah kita membuka diri, rukun dalam perbedaan, dan saling mengingatkan dalam hal nasehat serta dengan sabar, berlomba-lomba untuk berbagi kebaikan. Menjaga kebangsaan NKRI demi mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamiin di muka bumi, agar kita lebih bermartabat disisi manusia terlebih lagi di hadapan Allah SWT.

Wallahu ‘Alam

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website