Tajuk

Dante!

Posted: 04/10/2017 at 08:00   /   by   /   comments (0)

Dante Alighieri, begitu nama lengkapnya. Seorang sastrawan dunia yang hidup di Italia pada kurun 1265 sampai 1321. la pemah melahirkan karya berjudul Divina Comedia. Atau Komedi Ketuhanan alias lelucon tentang Tuhan. Dan satu bahasan yang diambil oleh Dante dalam karyanya itu adalah, Islam, Nabi Muhammad saw dan para filsuf Islam.

Digambarkan oleh Dante, semua tokoh Islam besar itu akan mendiami neraka kelak, di kehidupan setelah mati. Para filsuf dan ahli ilmu kalam, seperti Ibnu Sina dan Ibnu Rushd akan menempati neraka dengan derajat paling ringan. Ulama dan para sahabat, menempati neraka yang lebih berat. Bahkan, Nabi Muhammad digambarkan menghuni neraka paling berat karena dosa-dosanya mengajarkan Islam yang disebut sebagai kesesatan.

Divina Comedia sebetulnya mengusung spirit Perang Salib yang memang saat itu mewarnai semangat zaman. Tapi sesungguhnya, hal-hal seperti ini akan terus berlangsung sepanjang masa. Kasus terakhir yang sempat mencuat ke seluruh dunia adalah Satanic Verses atau Ayat-ayat Setan karya Salman Rushdi yang divonis mati oleh Imam Khomeini.

Sepanjang zaman, kesesatan selalu menelikung kebenaran. Tak pernah henti, tak pernah jeri. Tapi sering kali kita lalai, bahwa kita terus menerus dihantui sesuatu yang berusaha menyesatkan. Lalu, pada titik tertentu, kita tak lagi sadar apakah sedang berada dalam kebaikan, atau sebaliknya, justru berdiam dalam kesesatan. Dan membelanya dengan segenap jiwa.

Seharusnya, mempelajari kesesatan dan kegelapan sama pentingnya dengan mempelajari kebaikan dan kebenaran, tauhid dan keimanan. Sebab, cahaya selalu melahirkan bayangan. Sebab, terang selalu dikepung kegelapan. Sebab, hidayah selalu diancam oleh dhalalah.

Dan Allah serta Rasulullah, menempatkan pelajaran ini pada titik terpenting dalam proses ibadah kita sehari-hari. Dalam surat al-Fatihah, yang kita baca sekurang-kurangnya 17 kali se-hari saat shalat lima waktu, mengisyaratkan hal itu. Terlebih dulu Allah menyebut shirathal mustaqim, jalan yang lurus. Sebuah petunjuk. Karena ia shirath, jalan, maka konsekuensinya adalah terus bergerak. Terus menerus mempelajari dan mengoreksi diri, apakah masih tetap berada dalam shirathal mustaqim.

Tapi di akhir ayat, disebutkan orang-orang yang dimurkai dan mereka yang sesat. Surat tersebut merujuk orang-orang yang dimurkai adalah kaum Yahudi, sedang orang-orang yang sesat adalah kaum Nashrani. Tapi kadang, keduanya sa-mar dalam kehidupan sehari-hari. Dan kita, harus me-ngetahui, dalam jubah apa orang-orang sesat dan yang dimurkai ini menyamar dan mencoba menelikung kita dari jalan yang benar.

(Visited 28 times, 1 visits today)

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*