Tajuk

Dengan Apapun untuk Palestina

Posted: 05/06/2018 at 08:00   /   by   /   comments (0)

Benjamin Ladraa, Dror Feiler, Gideon Levy, Norman Finklestein, Noam Chomsky. Nama-nama tersebut adalah sebagian kecil dari para pembela Palestina. Mereka semua, adalah orang Yahudi.

Benjamin Ladraa adalah seorang pemuda berusia 25 tahun. Ia lahir dari pasangan orangtua berdarah Yahudi. Setelah melihat realita yang ada di Palestina, yang katanya sering membuat ia menangis sendirian, Ladraa memutuskan untuk mengkampanyekan Palestina dengan berjalan kaki. Ia memutuskan untuk berjalan kaki dari negaranya Swedia menuju Bulgaria, Turki, Suriah, Lebanon, kembali ke Suriah lalu ke Jordan, sebelum menginjakkan kakinya di tanah Palestina. Hal itu pasti sangat melelahkan, karena total perjalanan yang akan ia tempuh mencapai 4800 km.

Ladraa berhenti dari pekerjaan dan sekolahnya, menabung selama satu tahun, demi perjalanan sepinya untuk membantu Palestina, dengan kedua kakinya.

Bagaimana dengan Dror Feiler ?. musisi kelahiran 1951 di Tel Aviv ini merupakan salah satu aktifis Mavi Marmara. Ia melepaskan kewarganegaraan Israel nya dan bermigrasi ke Swedia. Dror Feiler aktif di dalam organisasi Jews for Israeli-Palestinian Peace dan European Jews for Just Peace. Dalam bermusik sekalipun, Palestina selalu hadir dalam komposisi nadanya. Ia membela Palestina, di antaranya, dengan lantunan saxofon nya.

Lalu siapa pula Gideon Levy ?. Ia merupakan jurnalis kawakan dan kolumnis media Haaretz, sekaligus merupakan pria yang paling dibenci di Israel karena dukungannya terhadap Boycott, Divestment, Sanctions (BDS) dan perhatiannya terhadap kezaliman pemerintahannya terhadap warga Palestina dan Gaza. Gideon Levy saat ini kesulitan untuk keluar dari rumahnya sendiri yang berada di Israel, karena kebencian masyarakat sekitar terhadap dirinya.

Masih banyak lagi cerita mengenai pembela Palestina yang bukan beragama Islam. Dan ini seharusnya membuat kita sebagai muslim malu tak terhingga. Mereka curahkan semuanya untuk membela Palestina. Apapun yang mereka punya, berapapun yang mereka bisa. Sepasang kaki pun dirasa cukup oleh seorang Benjamin Ladraa untuk mantap melangkah sambil mengibarkan bendera Palestina sepanjang perjalanan yang ia lalui dari tempat tinggalnya menuju Palestina.

Ikhwan dan akhwat, manusia pada dasarnya memiliki fitrah. Fitrah manusia itu pasti baik. Fitrah tidak mengenal ras, kelompok, kelas. Fitrah hanya mengenal kebaikan dan ingin bersikap baik dengan semua orang. Allah SWT menjelaskan kepada kita dalam petikan Alquran surat At Taubah ayat 125 yang artinya : “Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka.....”

Ditegaskan dalam ayat ini bahwa fitrah manusia akan rusak ketika ada penyakit hati dalam dirinya. Penyakit hati memakan semua hal yang baik dari hati kita.

Yang terjadi saat ini di Palestina adalah saudara-saudara kita sedang dizolimi oleh orang-orang yang jiwa dan hatinya berpenyakit. Lalu apakah kita akan kalah dengan orang-orang yang tidak memiliki kewajiban seperti Benjamin Ladraa, Dror Feiler atau Gideon Levy dalam membantu Palestina dan hanya meneteskan air mata, ataukah kita akan berikan apa yang kita punya, sumbangkan pikiran bagi mereka yang cemerlang, dana bagi mereka yang berada, karya bagi mereka yang berketerampilan, diskusi bagi mereka yang pandai beretorika, tulisan bagi mereka yang dapat menulis, atau mungkin coretan kartun seperti karya Naji Ali, yang dengan karakter kartunnya yang bernama Hanzalah ia menemui kesyahidannya ?

Allah SWT pasti akan tersenyum melihat semua usaha kita, apapun itu. Dan yakinlah bahwa ketika Allah melihat usaha kita sudah cukup, Allah akan menurunkan bala bantuannya, dan mungkin saja, ketika hal itu tiba, kita dapat menyaksikan, dan menjadi bagian, dari merdekanya Palestina.

Wallohu ‘Alam,,,,,,,

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*