Tajuk

Di Balik Maraknya Kebangkitan Ideologi Kiri

Posted: 29/09/2017 at 08:00   /   by   /   comments (0)

Mari kami ceritakan tentang Karl Marx. Marx lahir dari keluarga Yahudi dalam suasana sosial yang akut di abad ke-18. Karya-karya Karl Marx seolah menjadi tongkat penuntun bagi pengikutnya baik yang berideologi Marxis, Sosialis dan juga Komunis. Terutama Das Kapital. Sayangnya kebanyakan Marxis, sosial atau komunis, atau orang-orang yang suka mengutip-kutip Marx, mengetahui Das Kapital dari orang lain yang bisa jadi mendengar Marx dari orang lain pula. Ia menerima informasi dari tangan entah ke berapa dan dari sejarah yang berbeda. Tapi untunglah ada buku ini, sebuah usaha memahami dan memahamkan Marx dan juga karya-karyanya pada publik yang lahir jauh berabad-abad dari seorang Marx. Seorang yang memilih hidup di jalan pedang, garis yang memaksanya untuk selalu siap berperang.

Pada masa mudanya, Karl Marx memiliki seorang mentor, seorang pejabat pemerintahan Prussia yang kelak sangat mempengaruhi perjalanan intelektual Marx bernama Freiherr Ludwig von Westphalen yang mendidikan Marx sebagai kadernya, dan mengenalkankarya-karya besar milik Goethe, Shakespeare, Cervantes, dan Hordelin serta seambreg tokoh pemikir dunia yang lain di sebuah perpustakaan pribadi miliknya. Ia meminjami dan menjatah Marx membaca buku apa saja.

Di satu sisi, hal ini dirasakan oleh Marx seperti bintang jatuh dari langit. Sebab, sebagai seorang Yahudi, ia dikucilkan oleh lingkungannya. Keluarga Marx adalah keluarga kecil Yahudi yang tinggal di dalam tembok gettho, pemukiman Yahudi yang padat, lembab dan penuh tata cara nenek moyang dan agama. Keluarga Marx ingin keluar dari lingkungan itu. Demi kehidupan yang baru, keluarga Marx mendeklarasikan bahwa mereka keluar dari Yahudi dan memeluk agama baru, Katholik, demi kehidupan yang berubah. Nama baru ayahnya adalah Heinrich.

Tapi kehiduan mereka tak kunjung membaik, bahkan pasca ayahnya meninggal, Karl Marx hidup dengan gelimang hutang disana-sini. Dalam kondisi tak berdaya, ia tidak bisa berbuat banyak. Karl Marx bersandar pada ibunya, untuk bertahan hidup. Membaca dan menjadi penulis adalah pelarian Karl Marx. Membenci kehidupan yang buruk dan miskin, putus asa dan merasa tak punya jalan keluar dari keterpurukan ekonomi, itulah kondisi Bapak Ideologis Komunisme ini.

Menurut Marx, sudah waktunya bagi sosialisme untuk menuntut dan mendesak tidak lagi menyerukan ide-ide. Pada proses inilah, terjadi pergeseran pemikiran Marx dari seorang teoritis ke arah praktis. Dalam proses inilah Marx juga bertemu seorang komunis tulen yang kelak menjadi sahabatnya Frederich Engels (1820-1895). Seorang sahabat yang sangat sabar membiayai hidup Marx yang miskin dan kacau balau sampai akhir hayatnya.

Pada periode 1849 sampai akhir hayatnya, Marx hidup dalam buangan di Inggris. Sampai ia meninggal Marx memiliki masalah besar dalam mengatur dirinya sendiri. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam perpustakaan British Museum, demi menggali lalu menemukan teori ekonomi.

Ketika Marx menulis Das Kapital, berada dalam keprihatinan. Ia hidup penuh kesulitan dan terlunta-lunta. Karl Marx menelurkan konsep ekonomi tanpa memperhatikan sama sekali kehidupan ekonomi keluarganya. Karl Marx bercita-cita tentang arti masyarakat sejahtera, tapi hidupnya sendiri berada dalam lilitan hutang,

Salah satu yang berperan menjadi penopang hidup Marx adalah, Friedrich Engels. Seorang sahabat yang membiayai hidup Marx yang miskin sampai akhir hayatnya.

Dalam sebuah buku yang berjudul the Intellectuals, karya Paul Johnson kisah lain dituliskan melengkapi cerita tentang sosok Karl Marx dan persahabatannya dengan Engels. Friedrich Engels adalah seorang sahabat yang sangat sabar membiayai hidup Marx yang miskin sampai akhir hayatnya. Ia juga seorang sahabat yang teramat yakin, bahwa pemikiran Marx akan lebih abadi dari diri Marx sendiri.

Kisah hidup Karl Marx penuh dengan hal-hal yang mengenaskan. Sampai meninggalnya, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam perpustakaan British Museum, dan meninggalkan keluarganya terbengkalai, Karl Marx total telah menghuni perpustakaan museum itu tak kurang dari 34 tahun lamanya.

Untuk biaya hidup keluarganya pun, Friedrich Engels yang mengucurkan dan menopang biayanya. Berkat Engels pula Das Kapital kini bisa kita temui, lengkap tiga jilid banyaknya.

Warna anti Tuhan dan anti agama sangat kental dalam berbagai karya Marx. Karena kepedihan pengalaman hidup yang dilaluinya. Dikucilkan sebagai seorang Yahudi, terlunta-lunta sebagai seorang Katholik membuatnya memelihara dan menumbuhkan dendam pada agama. Kelak, menurut Marx uang juga yang akan menjadi tuhan baru bagi dunia.

Marx seorang yang temperamental, tak sabaran, pemabuk, perokok berat dan suka sekali makanan yang tak sehat. Dengan gaya hidup seperti itu, ia telah mengorbankan livernya sendiri. Ia jarang ke kamar mandi, bahkan untuk mencuci muka sekalipun. Karl Marx, seorang yang tak bisa menolong dirinya sendiri itu pun berusaha menciptakan sistem dan tatanan untuk menolong orang lain.

Sampai akhir hayatnya, ia selalu punya masalah dengan uang. Bahkan ketika ia sekolah di fakultas hukum, sang ayah sampai mengiriminya surat meminta pengertian Karl Marx.

Maraknya buku-buku merah dan juga berbagai literatur dari sayap kiri belakang ini memberikan kita sebuah wacana yang cukup terbuka. Ditengah isu kebangkitan komunisme dan ideology kiri, anak-anak muda perlu juga kiranya mempelajari, darimana asa usul dan proses sejarah pemikiran-pemikiran ini lahir di tengah-tengah tatanan social. Lalu secara berhati-hati mengambil kesimpulan. Dan kembali kepada agama yang baik, Islam, agar mendapatkan rahmat dari proses intelektual akhir zaman yang rumit dan penuh jebakan. Semoga Allah melindungi kita semua.

(Visited 41 times, 1 visits today)

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*