Tajuk

Diplomasi Jebakan Utang

Posted: 24/01/2019 at 08:00   /   by   /   comments (0)

Pada akhir 2018, istilah diplomasi jebakan hutang mencuat diruang media, yaitu ditengarai dengan adanya upaya mengukuhkan pengaruh ekonomi dan politik di dunia, Pemerintah Cina dikabarkan mengucurkan dana miliaran dolar berupa pinjaman lunak kepada negara-negara miskin dan berkembang.

Sejumlah pengamat memperingatkan, Cina kini mempergunakan pinjaman sebagai bentuk jebakan. Tujuannya memungkinkan negara itu mengukuhkan pengaruhnya di dunia. Negara-negara miskin dan berkembang terpikat oleh tawaran pinjaman murah dari Cina demi membangun proyek-proyek infrastruktur. Kemudian, ketika negara bersangkutan tak mampu memenuhi jadwal pembayaran utangnya, Cina akan menuntut konsesi atau ganti rugi lainnya sebagai bentuk penghapusan utang. Proses ini dikenal sebagai diplomasi jebakan utang.

Sebut saja proyek Pelabuhan Hambantota di Srilanka, beberapa waktu silam Srilanka dilanda aksi protes ketika dipaksa menyerahkan pengelolaan pelabuhannya ke Cina dalam bentuk sewa 99 tahun. Penyerahan itu terpaksa dilakukan demi menghapus utang Srilanka sekitar 1 miliar dolar AS. Kini Cina mengendalikan pelabuhan utama, tepat di ambang pintu saingannya, India. Pelabuhan itu juga sangat strategis di jalur komersial dan militer.

Pada tahun 2011, Tajikistan misalnya telah menyerahkan tanah di perbatasannya yang disengketakan dengan Cina sebagai bentuk pembayaran utang. Cina juga mengucurkan pinjaman satu miliar dolar lebih bagi Montenegro untuk membangun jalan raya yang menghubungkan Port of Bar dengan Serbia. Proyek itu sendiri dikerjakan perusahaan konstruksi Cina.

Saat ini, terbilang beberapa negara telah menikmati jaringan jalan raya dan bandara baru. Namun mungkin hanya masalah waktu sampai mereka akhirnya terjebak utang. Meningkatnya ketergantungan pada investasi Cina di seluruh dunia meningkatkan kekhawatiran tentang dinamika geopolitik di abad ke-21. Sejumlah negara, dipicu oleh kasus Srilanka, mulai melepaskan diri dari ketergantungan mereka pada pinjaman Cina. Nepal dan Pakistan misalnya telah membatalkan sejumlah proyek yang direncanakan.

Namun, pada perayaan 40 tahun reformasi pasar pada tanggal 18 Desember 2018 Presiden Cina Xi Jinping mengatakan negaranya tidak akan pernah mencari hegemoni atau dominasi kekuasaan. Pernyataan itu disampaikan Xi di tengah kekhawatiran global terkait pengaruh ekonomi Cina yang terus meningkat.

Proyek-proyek infrastruktur perdagangan yang merupakan bagian kebijakan "Belt and Road" China menghadapi rintangan besar karena sejumlah negara mulai mengeluh akan lilitan utang ke negara itu. Kebijakan yang juga dikenal sebagai "Jalur Sutra baru" ini pertama kali dicanangkan pada 2013 oleh Presiden Xin Jinping. Kebijakan ini meliputi pembangunan rel kereta, jalan dan pelabuhan di seluruh dunia dengan dana pinjaman Beijing bernilai miliaran dolar di sejumlah negara. Lima tahun kemudian, Xi Jinping harus membela idenya ini setelah muncul kekhawatiran bahwa China membuat jebakan utang ke negara-negara yang kemungkinan tidak mampu membayarnya.

Lalu bagaimana dengan nasib bangsa Indonesia ?. Pada 22 Maret 2018 Tempo.co merilis kabar yaitu, utang luar negeri pemerintah ke Cina terus merangkak naik. Berdasarkan data Bank Indonesia, utang Indonesia ke Cina meroket hingga 74 persen pada tahun 2015. Di tahun 2014 saja total utang Republik Indonesia ke Cina adalah US$ 7,87 miliar. Kemudian angkanya melesat menjadi US$ 13,6 miliar pada 2015. Pada 2016, utang ke Cina menjadi US$ 15,1 miliar di 2016. Dan per Januari 2018 utang pemerintah ke Cina sebanyak US$ 16 miliar.

Pada akhirnya, inilah yang sedang dibangun China. Kekuatan lembut hari ini adalah kekuatan keras besok. Oleh karena itu, semakin banyak air di sekitarnya yang dimiliki sebuah negara, semakin tertarik China untuk membuat kesepakatan dengan negara itu. Belt and Road Initiative China yang ambisius sejauh ini telah melibatkan hampir 80 negara, dan Jinping telah mengklaim inisiatif ini akan sepenuhnya mengubah infrastruktur masing-masing negara, menyederhanakan kemitraan ekonomi dan memfasilitasi pertumbuhan dengan utang.

Antara optimis dan pesimis, selalu mengingatkan para pemangku jabatan di negeri tercinta ini Indonesia agar jangan lengah dan tetap waspada. Kemudian antara kewaspadaan dan pesimis jelas keduanya sangatlah berbeda. Teringat dengan istilah jawa Sabeja - Bejane Wong Kang Lali, Luwih Becik Wong kang Eling lan Waspodo, yaitu artinya “Seberuntung-beruntungnya orang yang lupa/tersesat, masih lebih baik keadaannya orang yang selalu mawas diri dan waspada”.

Wallahu’alam...

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website