Tajuk

Donggala, Kami Bertaubat

Posted: 03/10/2018 at 08:27   /   by   /   comments (0)

Mengutip salah satu lirik lagu Abid Ghoffar bin Aboe Dja'far atau lebih dikenal dengan nama Ebiet G. Ade seorang penyanyi dan penulis lagu berkewarganegaraan Indonesia. Ebiet dikenal dengan lagu-lagunya yang bertemakan alam dan duka derita kelompok tersisih.

“Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada Rumput yang bergoyang"

Masih mengenai duka musibah bencana alam di Doggala Palu Sulawesi Tengah yang harus selalu kita renungkan. Betapa waktu itu, saat masuk senja sore, seperti wajarnya, sebagian warga baru saja pulang dari tempat bekerja, ada yang sudah bercengkrama dengan keluarga, ada yang sedang bersiap menuju masjid tempat ibadah, ada pula yang masih menikmati sorotan sinar matahari yang kian sayup di ufuk barat.

Tetiba, tanpa disadari oleh siapapun, bumi perlahan berguncang kian menguat. Terpecahlah harmoni keindahan sunset , dengan cepat Badan Meterorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa bumi 7,4 Skala Richter menghantam kota Palu Jumat lalu.

Seketika suara-suara kendaraan yang semula meramaikan kota, beralih menjadi takbir, tahmid dan istigfar memenuhi ruang publik. Masyarakat berhamburan keluar dari gedung-gedung dan perumahan komplek, satu menit beralih ke menit selanjutnya, status gempa berubah tak disangka menjadi hal yang lebih menyeramkan.

Tidak cukup gempa bumi dan tsunami, gejala likuifaksi (pencairan tanah) pun terjadi. Memakan banyak korban jiwa dan material. Dua tempat yang paling nyata mengalami bencana ini adalah Kelurahan Petobo dan Perumnas Balaroa di Kota Palu.

Lumpur muncul dari bawah permukaan tanah dan menggeser tanah hingga puluhan meter, akhirnya menenggelamkan bangunan dan korban hidup-hidup. Menurut data, likuifaksi yang terjadi di Perumnas Balaroa menenggelamkan sekitar 1.747 unit rumah, sementara di Kelurahan Petobo sekitar 744 unit rumah tenggelam, hilang seluruhnya.

Sementara itu, Deputi Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Wahyu W Pandoes menyebut, energi Gempa dengan magnitudo 7,4 di Donggala, Sulawesi Tengah adalah setara dengan energi 200 kali bom atom Hiroshima.

Kemarin, data terbaru dari Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, korban meninggal dunia mencapai 1.234 jiwa, terdapat juga korban luka berat sebanyak 799 jiwa, 99 orang dinyatakan hilang, 153 orang tertimbun puing-puing bangunan, hingga 61.867 jiwa pengungsi yang tersebar di 109 titik di seluruh Palu.

Ikhwan dan akhwat

Itulah sejumlah numerik data yang dapat kita lihat saat ini. Namun sekarang marilah kita melunakan hati dan diri, melihat kejadian berabad lalu lamanya, saat gempa dirasakan pada masa kekhilafahan Umar bin Khattab Radliyallahu Anhu.

Ketika terjadi gempa pada masa kekhalifahannya, Amirul Mukminin berkata tegas kepada penduduk Madinah, “Wahai Manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!”

Kemaksiatan yang dilakukan oleh para penduduk Madinah, sepeninggal Rasulullah dan Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq, menurut Sayyidina Umar bin Khattab telah mengundang amarah Allah Ta’ala berupa bencana. Umar pun mengingatkan kaum Muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Ia bahkan mengancam akan meninggalkan mereka jika terjadi gempa kembali. Sesungguhnya bencana merupakan ayat-ayat Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya, jika manusia tak lagi mau peduli terhadap ayat-ayat Allah.

Teringat kami atas firman-Mu, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Rum : 41).

Ya Rabbi, sesungguhnya bumi dan seluruh lapis langit berada digenggaman-Mu, jika maksiat menjadi sebab Engkau turunkan cobaan, maka ampunilah hamba- hambaMu ini Ya Rabb, karena jiwa ini bermaksiat pada-Mu sehingga menjadi pemicu amarah-Mu.

Ya Rabbi, bukan dia atau mereka, mungkin karena diriku ini yang penuh dosa, sehingga Engkau luluh lantakan Donggala dengan sekejap. Dengan mengagungkan nama-Mu yaa Rabb dan bersholawat kepada nabi Muhammad SAW, maka dengan diri yang nista ini, kami mohon kepada-Mu terimalah taubat kami serta taubat seluruh rakyat Donggala, Palu.

Wallahu’alam Bishawab

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website