Tajuk

Dua Tipikal Pejabat

Posted: 28/12/2018 at 08:00   /   by   /   comments (0)

Perhatian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap masa depan umatnya sangat besar. Wujud perhatian beliau terefleksikan dalam banyak hal. Salah satunya dalam redaksi doa yang beliau ajarkan. Salah satu doa yang sering beliau panjatkan adalah, “Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia; dan siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia.” (HR Muslim dan Ahmad)

Doa Rasulullah di atas menyiratkan dua tipikal pejabat yang akan selalu mengisi kehidupan ini. Ada pejabat yang menyusahkan rakyatnya dan ada pula yang memudahkan mereka. Pejabat yang memudahkan rakyatnya akan mendapatkan doa kemudahan dari beliau. Sebaliknya, pejabat yang menyusahkan rakyatnya akan mendapatkan doa supaya ia disusahkan. Kemudahan dan kesusahan yang dimaksud dalam hadits tadi bersifat umum, mencakup dunia akhirat.

Penulis kitab Subulus Salam, Muhammad bin Ismail bin Shalah Al-Amir Al-Kahlani Ash Shan’ani, Ahli hadits dan ulama asal Yaman berkata, “Kesusahan dalam hadits, mencakup kesusahan duniawi dan ukhrawi.” Di antara bentuk kesusahan yang akan diterima oleh pejabat disebutkan dalam hadits lain. Rasulullah bersabda, “Siapa yang diamanahi mengurusi umatku lalu menyusahkan mereka, maka baginya Bahlatullahi? Para sahabat bertanya, apakah itu Bahlatullahi? Rasulullah menjawab, ‘Laknat Allah’.” (HR Abu Awanah dalam kitab sahihnya).

Orang yang dilaknat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tersingkir dari pusaran rahmat dan kasih sayang-Nya. Padahal, jabatan adalah amanah yang sangat berat. Tak mungkin tertunaikan kecuali dengan bantuan dan pertolongan Allah. Pejabat itu bakal dikenang oleh rakyatnya sebagai pemimpin yang gagal. Pejabat seperti itu justru menjadi sasaran kemarahan rakyatnya.

Yang lebih mengerikan lagi, kesulitan itu akan terus berlanjut di akhirat. Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda “Tidaklah seorang di amanahi memimpin suatu kaum kemudian ia meninggal dalam keadaan curang terhadap rakyatnya maka diharamkan baginya surga.”

Sebaliknya, jika seorang pejabat bisa memberikan kemudahan (yang tidak melanggar syariat) maka ia juga akan mendapatkan kemudahan berupa pertolongan Allah. Bila pertolongan Allah sudah mengucur maka segala sesuatu akan terasa mudah. Kehidupan sang pemimpin juga akan selalu dinaungi dengan ketenangan. Rakyat mencintainya dan Allah SWT mengasihinya.

Di akhirat kelak akan mendapatkan penghargaan yang sangat istimewa dari Allah. Sebab itulah, sebenarnya hikmah di balik disyariatkannya kepemimpinan, yaitu untuk mempermudah urusan umat, bukan untuk membuat umat bertambah susah dengan permasalahan yang menimpanya.

Uwais al-Qarni dalam kitab Al-Ahkam as-Sulthoniyah berkata, “Tugas utama penguasa sebagai pelayan rakyat terfokus dalam dua hal, yaitu hirosatuddin dan siyasatuddunya (melindungi agama mereka dan mengatur urusan dunia).” Pelayanan bidang pertama berupa menjamin setiap warga negara agar memahami ajaran agamanya masing-masing lalu mampu mengamalkannya dengan baik, dan melindungi agama mereka dari berbagai bentuk kesesatan. Sedangkan, siyasatuddunya berupa pelayanan terhadap rakyat agar bisa hidup layak sebagai manusia yang bermartabat.

Tuntutan inilah yang mendorong Khalifah Umar bin Khattab Radiyallahuanhu sering berkeliling malam hari untuk melihat kondisi rakyatnya. Saat ada yang mengeluh kekurangan pangan, ia menolongnya dan memanggul karung gandum sendiri. Dalam kesempatan lain sayyidina Umar pernah berkata, “Seandainya seekor keledai terperosok di Baghdad, niscaya aku akan ditanya, mengapa tidak kau ratakan jalannya?”.

Bila semua pejabat atau penguasa di dunia menjadi pelayan rakyat sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW, akan tegaklah keadilan dan umat manusia pun berada dalam kesejahteraan. Pejabat atau pegawai pemerintah, pada hakikatnya adalah pelayan publik yang bertugas melayani masyarakat, bukan sebaliknya minta dilayani.

Mempermudah urusan publik adalah termasuk memberikan pelayanan yang baik terhadap berbagai keluhan masyarakat. Jika urusan itu mudah, kenapa mesti dipersulit? Adapun mempersulit urusan publik termasuk bentuk tindakan kezaliman dan membuka pintu-pintu perbuatan buruk lainnya, misalnya korupsi, suap-menyuap, kongkalikong dan seterusnya.

Wallahu’Alam Bishshowab……

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website