Tajuk

Dunia Yang Menyita Kita

Posted: 18/05/2017 at 10:26   /   by   /   comments (0)

Ini adalah kisah dibalik gegap gempita Olimpiade Beijing beberapa tahun silam. Ada data-data tentang pencapaian manusia dalam ajang tersebut. Tentang rekor-rekor yang terpecahkan. Tentang alat-alat baru yang ditemukan. Bahkan tentang jumlah makanan yang disajikan. Saya benar-benar terpukau oleh fakta, betapa tingginya tingkat peradaban material manusia.

Mari, kami ceritakan tentang inovasi terbaru di bidang teknologi olahraga. Pada Olimpiade Athena 2004 silam, dunia dikejutkan oleh merk dagang Speedo yang menciptakan baju renang yang memungkinkan perenang berenang lebih cepat, lebih sedikit gesekan air, dan lebih ringan. Pada olimpiade tahun ini Speedo mengeluarkan produk terbarunya, kacamata renang bernama Sidewinder. Kacamata sederhana, ringan, meski tanpa bantalan tapi tidak memungkinkan air untuk mengganggu pandangan. Desainnya sesuai kontur lekuk mata. Ikat kepalanya dari serat silikon yang ringan.

Perusahaan jam seperti Omega yang telah menjadi institusi pencatat waktu resmi olimpiade sejak tahun 1932 merilis teknologi yang menghubungkan pistol start dengan speaker khusus di setiap blok, agar pelari mendengar bunyi tembakan secara bersamaan. Bahkan, alat ini dilengkapi dengan sistem khusus yang mendeteksi pelari-pelari yang gemar mencuri start dengan alat yang disambung dengan sensor khusus, bahkan dengan GPS.

Sementara itu, Adidas menciptakan sepatu khusus untuk pelari-pelari tertentu setelah mempelajari fisik dan teknik mereka. Perusahaan sepatu raksasa ini menciptakan sepatu khusus untuk Jeremy Wariner dengan nama Spike. Selain ultraringan karena menggunakan teknologi nano, sol sepatu ini, kiri dan kanannya tak sama. Yang kiri dirancang khusus untuk keseimbangan. Sedang yang kanan dirancang untuk mendorong kecepatan. Sebabnya, Wariner memang menggunakan kaki kanannya untuk mendorong dan kaki kirinya untuk mengatur keseimbangan. Sedangkan Nike menciptakan sepatu-sepatu berteknologi baru nan tinggi, jumlahnya 28 buah, salah satunya bot khusus bernama Ippheas untuk para joki penunggang kuda.

Tak hanya alat olahraga, gedung pun memiliki inovasi yang canggih. Pusat Aquatik Nasional untuk adu renang diciptakan khusus oleh Swiss, Herzog & de Meuron sebagai gedung yang mampu menyerap panas matahari. Jadi tak perlu energi ekstra untuk memanaskan enam kolam yang ada di dalamnya sesuai dengan suhu standar federasi renang internasional.

Cerita-cerita di atas belum lagi ditambah dengan data-data tentang makanan yang harus disiapkan atau cara pengamanan yang dilakukan. Sebagai gambaran, perusahaan catering Aramark selama olimpiade harus menyediakan 70.000 kg daging ayam, 800.000 butir telur, 936.000 buah pisang dan 3,5 juta makanan dengan berbagai menu dan pesanan. Sedangkan untuk pengamanan, Cina mengerahkan 34.000 pasukan National Guard dan 75.000 pasukan keamanan lainnya serta menghabiskan dana 6,5 miliar dollar, empat kali lipat lebih banyak dibanding dengan biaya keamanan Olimpiade Athena 2004.

Sekali lagi, pencapaian-pencapaian manusia di bidang material begitu mencengangkan. Tapi apakah pencapaian manusia pada level spiritual berada pada tingkat yang sama? Ternyata tidak.

Spiritualitas manusia hari ini begitu rendah. Manusia lebih mementingkan yang profan dibanding berpihak pada yang sakral, yang sementara jauh lebih menyita perhatian dibanding yang panjang dan kekal.

Akhlak manusia hari ini, begitu rendah. Moralitasnya sangat rapuh dan mudah pecah. Kepeduliannya tak tinggi. Kalaupun tinggi ada sesuatu yang diharapkan lebih tinggi lagi. Mereka serakah, tamak dan penjarah. Tak pernah puas, selalu kurang dan pandai berbuat curang.

Peradaban fisiknya begitu canggih dan demikian tinggi. Tapi spiritualitasnya nyaris di dasar cawan yang terendah. Manusianya begitu perhatian pada kebutuhan-kebutuhan fisik yang mampu membuat mereka lebih kuat, lebih tinggi atau lebih cepat. Tapi perhatian mereka begitu rendah pada kekuatan jiwa, kekuatan batin dan kekuatan budi.

Segala hal yang bersifat sakral justru dianggap lemah. Kebergantungan manusia pada Tuhan dianggap sebagai kecacatan. Seperti kata Nietzche, sehingga ia harus membunuh Tuhan. Bercerita tentang surga, apalagi neraka, dianggap sebagai kesalahan masa lalu yang tak perlu dilakukan lagi. Nggak perlu mengiming-imingi atau menakut-nakuti.

Padahal, tak ada hal lain yang menjadi anugerah bagi orang-orang yang takut pada Tuhan kecuali kemuliaan. Padahal tak ada hal lain yang menjadi balasan bagi mereka yang menjunjungi tinggi sakralitas kecuali kesucian.

Berpihaklah pada yang abadi, bukan yang fana. Bersekutulah dengan yang Maha Besar, bukan dengan yang lemah dan pasti musnah.

(Visited 161 times, 1 visits today)

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*