Tajuk

Hidup Sekali, Jangan Diam

Posted: 15/09/2017 at 09:00   /   by   /   comments (0)

Mengetahui saja, sama sekali tak cukup. Kita harus merealisasikan apa yang kita ketahui. Kita mengetahui apa itu definisi tentang kehidupan yang baik. Tapi pengetahuan tersebut tidak serta merta membuat kualitas hidup kita menjadi baik. Kita mengetahui apa itu kebenaran, tapi sekali lagi, tak cukup hanya dengan mengetahui. Kita wajib, mengetahui, mengikuti, menegakkan dan bergabung bersama kebenaran itu sendiri.

Di dunia ini, tak kurang jumlahnya orang-orang yang memiliki pengetahuan. Tapi apakah dunia berubah menjadi lebih baik, hanya dengan itu? Dunia berubah, ketika orang-orang berpengetahuan melakukan sesuatu berdasarkan pengetahuannya.

Dalam sebuah kalimatnya, Hassan al Banna pernah berkata, “Di dunia ini, dari banyaknya jumlah manusia, hanya sedikit saja dari mereka yang sadar. Dan dari sedikit yang sadar itu, hanya sedikit saja yang ber-Islam. Dari mereka yang ber-Islam, jauh lebih sedikit lagi yang berdakwah. Dari mereka yang berdakwah, jauh lebih sedikit lagi yang berjuang. Dari sedikit yang berjuang, jauh lebih sedikit yang bersabar. Dan dari sedikit yang bersabar itu, hanya sedikit saja dari mereka yang sampai akhir perjalanan.”

Sangat jelas perbedaan antara orang-orang yang mengetahui, dengan mereka yang merealisasikan pengetahuannya. Dunia berubah karena orang-orang yang bergerak. Semesta pun terus bergerak, untuk menjaga stabilitasnya. Bayangkan bila semesta tiba-tiba berhenti bergerak?! Akan terjadi kehancuran tak terperi.

Karenanya, diam tak selalu emas. Diam juga bisa berubah menjadi dosa. Karena dengan diamnya, sesuatu menjadi hancur. Karena dengan diamnya, sesuatu menjadi rusak. Saat itulah kita bisa menyebutnya sebagai the sin of inaction. Dosa karena tidak berbuat apa-apa.

Selama ini, kita sering beranggapan bahwa sikap pasif, minimal berbuah netral. Tak berdosa seseorang, jika ia tak melakukan sebuah perbuatan dosa. Tapi rupanya, tak selalu demikian.

Kiai Haji Achmad Dahlan tahu betul artinya the sin of inaction. Dosa karena tak melakukan apa-apa. Ia membaca dengan jeli pertanyaan, sekaligus peringatan Allah dalam surat al Ma’un. “Tahukah kami orang yang mendustakan agama? Mereka adalah orang yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin. Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan menolong dengan barang yang berguna.” (QS. al Ma’un: 1-7)

Ia tak ingin disebut sebagai orang-orang yang mendustakan agama. Siapa mereka yang mendustakan agama? Mereka adalah orang-orang yang tak berbuat! Orang-orang yang memberi makan kaum papah, orang-orang yang tak memberikan pertolongan dengan barang-barang berguna. Merekalah pendusta agama. Orang-orang yang berdiam diri. Orang-orang yang membiarkan kezaliman berdiri dengan angkuh. Orang-orang yang tak ambil peduli dengan kemaksiatan yang terjadi.

Karena itulah, Kiai Haji Achmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Ia menolak disebut sebagai pendusta agama. Dengan Muhammadiyah, insya Allah kelak beliau akan berdiri dengan gagah di depan Tuhannya, bersaksi tentang apa yang telah diperbuatnya untuk manusia Indonesia. Ia mencerdaskan manusia. Ia memberi makan saudaranya. Ia melindungi kaum lemah.

Betapa banyak yang menutut kita untuk bergerak, hari ini. Rakyat kita di Indonesia lemah dan dilemahkan. Saudara kita di Palestina, perlu pertolongan. Muslim di Darfur, menanti kita berbuat sesuatu. Ratusan ribu pengungsi, yang keluar dari Rohingya menyelamatkan diri, sampai hari ini masih terus menanti. Tak hanya Rohingya, banyak tempat lain menanti amal kongkret kita sebagai Muslim Indonesia.

Apakah kita hanya mampu melihat? Alangkah berdosanya kita, jika tidak melakukan sesuatu!

(Visited 56 times, 1 visits today)

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*