Tajuk

Hitam Putih

Posted: 07/09/2017 at 10:45   /   by   /   comments (0)

Dulu sekali, ada periode perseteruan Sayyid Qutb dengan Islam. Suatu ketika Sayyid Qutb menulis di al Ahram tentang idenya soal ketelanjangan. Katanya, manusia lahir dalam keadaan telanjang dan ide tentang ketelanjangan bukanlah hal yang tabu untuk dibicarakan. Tak hanya tentang itu, pikiran lain dari Sayyid Qutb cukup banyak yang menentang Islam.

Tulisan yang beredar di masyarakat ini, sampai juga ke dalam jamaah Ikhwanul Muslimin dan menjadi bahan pembicaraan. Salah seorang anggota telah menyiapkan satu artikel bantahan untuk menandingi pemikiran Sayyid Qutb. Dan sebelum mengirimkannya, sang penulis berkonsultasi terlebih dulu pada pemimpin Ikhwanul Muslimin, Hassan al Bana.

Jawaban sang imam sangat sederhana.“Artikelmu tajam, penuh dengan argumentasi jitu.“ Tapi sang pemimpin melarang tulisan itu dikirim. Dengan bu’dunnazar, sang imam melihat jauh ke depan. Di mana Sayyid Qutb kelak akan berdiri paling depan dan menjadi salah satu pejuang Islam paling gigih yang pernah dilahirkan oleh zaman.

Kisah tentang Sayyid Qutb ini memicu membuat kita mengingat tentang doa Rasulullah pada dua orang pemilik nama Umar. “Ya Allah, kuatkanlah Islam ini dengan satu dari dua Umar.“ Yang dimaksud dalam doa tersebut, Umar yang pertama adalah Umar bin Khattab dan Umar yang kedua adalah Amru bin Hisyam alias Abu Jahal.

Ternyata Allah memilih yang terbaik di antara dua Umar. Allah mengirimkan Umar bin Khattab untuk menjadi pilar yang dengan kuat menyangga Islam. Ketika Umar bin Khattab mengetuk pintu rumah Arqam bin Abil Arqam, semua penghuni di dalamnya gemetar. Karena mereka tahu yang mengetuk pintu bukan orang sembarangan.

Rasulullah sendiri yang membuka pintu, dan memeluk Umar bin Khattab dengan sangat kuat. Di kemudian hari tercatat dalam sirah Umar mengisahkan hari itu, “Tidak ada lelaki yang memelukku dengan kuat seperti yang pernah dilakukan Rasulullah. Sampai aku susah bernapas karenanya.“

Ketika Umar bin Khattab mengikrarkan dua kalimat syahadat, teriakan takbir bahkan terdengar hingga jauh sampai ke dalam kota Makkah yang mulia. Jamaah pertama umat Islam itu sangat bergembira mendapatkan Umar bin Khattab berdiri di antara barisan mereka.

Dua kisah di atas memberi gambaran kepada kita tentang perjalanan sejarah seorang manusia. Jika dia menjadi berlian ketika di zaman jahil, maka saat beriman pun ia akan menjadi berlian pula yang tak kalah terang sinarnya.

Kisah tentang Sayyid Qutb dan Umar bin Khattab adalah kisah tentang kemungkinan-kemungkinan. Dan kita mendapati hari ini, sejarah itu berulang pada bagian-bagian tertentu. Mereka yang pernah dikenal sebagai pencaci dan pembenci Islam, kini banyak yang berdiri dan berjuang di barisan paling depan.

Barangsiapa dianugerahi petunjuk-Nya, meski seluruh dunia bersekutu untuk menyesatkan seseorang, pasti mereka tak akan sanggup menukar keimanan. Sebaliknya, barangsiapa Dia kehendaki sesat dalam hidupnya, maka tak satupun makhluk mampu memberikan petunjuk, selain Dia. Allah tentu Maha mengetahui mana yang baik untuk hamba dan agama-Nya. Seperti Allah yang Maha mengetahui bahwa Umar bin Khattab yang akan dipilih dan bukan Abu Jahal.

Banyak sekali kita mendengar argumentasi bahwa hidup ini tidak hitam-putih. Ada warna lain, mulai dari abu-abu, merah, hingga biru. Begitu juga bagian-bagian dari kehidupan, konon katanya ada grey area, wilayah abu-abu yang tak memungkinkan kita bersikap hitam-putih.

Tapi pada banyak peristiwa pilihan dalam hidup itu sungguh adalah pilihan yang sangat sederhana. Bahkan lebih sederhana dari sekadar memilih warna hitam atau warna putih. Pada akhir permainan, kita hanya memiliki dua pilihan besar. Menjadi Umar bin Khattab atau menjadi Abu Jahal. Menjadi pembela Islam atau menjadi orang yang memusuhinya. Tak ada wilayah abu-abu.

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*