Tajuk

Islam dan Kesatuan NKRI

Posted: 17/12/2018 at 07:00   /   by   /   comments (0)

Usia Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara memang masih sangat belia, tetapi untuk urusan persatuan, bukan sesuatu yang bijak mengajarkan cara bersatu kepada masyarakat Indonesia yang mayoritas adalah umat Islam.

Sebagai agama mayoritas, umat Islam di Indonesia memiliki peran yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sejak zaman Pergerakan Nasional hingga masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia, umat Islam selalu berperan sebagai benteng kokoh yang selalu hadir dan berdiri tegak di garda paling depan.

Bangsa penjajah hadir di Indonesia sekitar awal abad 16 M, tepatnya tahun 1511 M ketika bangsa Portugis menguasai Selat Malaka dan berakhir pada kekalahannya di Maluku setahun berikutnya. Tahun 1596 M, giliran kapal Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman singgah di Pelabuhan Banten.

Kedatangan mereka yang merupakan cikal-bakal awal penjajahan di Indonesia bertepatan dengan masa kejayaan kerajaan Islam, antara pertengahan abad 12 M hingga abad16 M. Maka menjadi wajar ketika bangsa penjajah sering konfrontasi dengan kerajaan-kerajaan Islam.

Kerajaan-kerajaan Islam seperti Aceh, Demak, Makassar, Mataram (Islam), Bone, hingga Ternate dan Tidore adalah saksi bisu dari hasil konfrontasi bangsa penjajah dengan mayoritas umat Islam di Indonesia.

Masyarakat Indonesia sudah kenyang pengalaman akan persatuan. Sekitar 350 tahun bangsa ini menderita penjajahan. Selama 350 tahun bangsa ini mencari celah untuk menentukan jalannya sendiri. Dan selama 350 tahun bangsa ini mencoba menyinergikan kekuatan.
Apa buktinya bangsa ini pernah mencoba untuk menyinergikan seluruh kekuatan yang ada? Buktinya adalah sikap dari bangsa penjajah yang menerapkan politik devide et impera.

Pada zaman kolonialisme dan imperialisme di Indonesia, devide et impera sangat terkenal di publik nusantara. Sebabnya cara yang dipakai dalam memerangi masyarakat pribumi adalah dengan memecah kelompok besar menjadi beberapa kelompok kecil. Tentu hal itu dimaksudkan supaya lebih mudah ditaklukkan.

Hadirnya teori konspirasi ini adalah bukti nyata akan kekhawatiran bangsa penjajah terhadap semangat persatuan dan kesatuan anak bangsa (Indonesia) untuk lepas dari cengkeraman penjajahan.
Pergolakan itu terus berlanjut hingga masa kemerdekaan. Meski kerajaan-kerajaan Islam tumbang satu per satu akibat perang yang berkepanjangan, namun jiwa dan raga pemuda muslim terus menggelora mengusir bangsa penjajah dari tanah air. Hal ini dibuktikan dengan terselenggaranya Kongres Pemuda I tahun 1926 dan Kongres Pemuda II tahun 1928.

Malah pada Kongres Pemuda II, pemuda Islam Indonesia berhasil mengejewantahkan apa yang selama ini dicita-citakan, yakni persatuan. Suara persatuan terus didengungkan di seantero negeri. Meski tak begitu nyaring terdengar, namun dampaknya cukup signifikan di kalangan pemuda, hingga sampailah pada titik Indonesia merdeka setelah 17 tahun berlangsungnya Kongres Pemuda II di Jakarta.

Ketika Indonesia memperoleh kemerdekaannya tanggal 17 Agustus 1945, bangsa penjajah berupaya untuk kembali mencoba menguasai Indonesia. Setelah beberapa kali bentrok di sejumlah wilayah, akhirnya disepakati sebuah kesepakatan bersama pada Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda, tahun 1949 M.

Dari kesepakatan KMB itu, tidak semua pihak dari Indonesia setuju, khususnya tokoh-tokoh Muslim kritis yang memang konsen mempersatukan wilayah Indonesia. Seperti misalnya Mohamad Natsir, Ir Djuanda Kartawidjaja, dan sebagainya.

Sebabnya, beberapa poin yang disepakati dalam KMB itu sangat merugikan Indonesia, misalnya poin yang menyatakan, Kerajaan Belanda menyerahkan kedaulatan atas Indonesia yang sepenuhnya diserahkan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan tidak bersyarat dan tidak dapat dicabut lagi. Karena itu, Belanda mengakui RIS sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.

Hal ini diperparah dengan kewajiban Indonesia yang harus membayar kerugian perang sebesar 5 miliar gulden, sebelum akhirnya disepakati menjadi 4,5 miliar gulden.
Padahal, yang dituntut adalah untuk mendesak bangsa penjajah agar mengakui kedaulatan Indonesia, bukan penyerahan kedaulatan.

Antara Natsir dan Djuanda memiliki peran masing-masing dalam menanganggapi hasil KMB. Natsir terkenal dengan Mosi Integral Natsir. Sementara Djuanda terkenal dengan Deklarasi Djuanda yang menyatakan kepada dunia bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia, menjadi satu kesatuan wilayah NKRI.

Menurut situs Wikipedia, tanggal 13 Desember yang diperingati sebagai Hari Nusantara merupakan perwujudan dari Deklarasi Djuanda yang dianggap sebagai Deklarasi Kemerdekaan Indonesia kedua. Melalui deklarasi tersebut, Indonesia merajut dan mempersatukan kembali wilayah dan lautannya yang luas, menyatu menjadi kesatuan yang utuh dan berdaulat.

Melalui Keppres No.126/2001 dikukuhkan sebagai Hari Nusantara, artinya setiap tanggal 13 Desember mulai diperingati sebagai salah satu Hari Nasional yang merupakan penegasan dan pengingatan bahwa Indonesia adalah Negara Kepualaun terbesar di dunia.

Sayangnya, potensi sumber daya kelautan Indonesia sebesar kurang lebih 3.000 triliun rupiah/tahun hingga kini belum tergarap secara maksimal. Laut belum dilihat sebagai sumber pertumbuhan, penciptaan lapangan kerja, dan pemecah masalah kemiskinan.

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website