Tajuk

Jangan Gagah Dalam Kemungkaran

Posted: 05/12/2017 at 08:00   /   by   /   comments (0)

Telah sampai pada pendengaran kami, tentang orang-orang yang banyak mengeluh. Dalam setiap gerak selalu dia menemukan celah yang membuat hatinya tidak suka. Dalam setiap gerik selalu dia menemukan bersit yang membuat jiwanya marah. Tapi dia sendiri, tak bergerak dan tak pula bergerik. Berdiskusi dan membahas masalah adalah kepakaran dan kepandaiannya. Membuat perjanjian dan deklarasi adalah keahlian dan kepintarannya. Tapi ketika sampai pada mengubah keadaan dari yang hina menjadi mulia, dia pandai sekali mengangkat bahu, tanda tak tahu.

Telah sampai pada pendengaran kami, tentang orang-orang yang suka mencela. Dalam setiap aksi, mereka selalu menemukan kilah untuk mencela orang-orang yang berbuat dan melakukan sesuatu, meski semampunya. Mereka mengatakan, amal yang kurang ilmu. Mereka menyebutkan, dalilnya tak kuat dan menipu. Mereka menyerukan untuk meninggalkan, bahkan melawan orang-orang yang berbuat kebaikan. Jika ditanya apa yang telah mereka lakukan? Mereka telah mengutuk, memaki hamun kegelapan yang ada di sekitarnya dalam seribu bahasa. Apakah lantas menjadi terang? Tidak! Karena belum ada yang menyalakan lampu meski kecil dan temaram.

Telah sampai pada pendengaran kami, tentang orang-orang yang suka mengadu dan mengapi-api. Kerjanya, hinggap dari satu tempat ke tempat lain untuk menceritakan kisah yang membuat tempat yang dihinggapinya panas membara. Lidahnya penuh kebencian, meski dibungkus dengan kalimat indah menawan. Kalimatnya seperti sarang laba-laba, yang menjerat lumpuh semua yang hinggap di atasnya. Di sudut ruangan dia akan terkekeh riang melihat semua saudara saling serang, saling tikam. Jika kurang seru, ditiupnya sekam menjadi api, ditambahkannya bahan bakar agar berkobar. Selalu begitu, selalu demikian.

Jalan juang ini memang penuh orang-orang yang begitu. Tak mengapa, memang telah menjadi garis tangan bahwa setan selalu menghalangi dan berjuang untuk keburukan. Tapi juga telah menjadi garis takdir, bahwa jalan ini akan terus dan selalu ada yang menempuhnya. Jalan ini akan dipikirkan dan dirancang oleh para alim dan shalihin, diperjuangkan oleh orang-orang yang ikhlas dan berhati lurus, dijaga oleh para pemberani dan mujahidin yang tak kenal letih.

Telah sampai pada penglihatan kami, orang-orang yang meski berjalan sendiri, tak pernah merasa sepi menapaki jalan setapak yang susah ini. Mereka mengangkat beban, meski ringan. Mereka melakukan sesuatu, meski tak besar. Mereka mendengarkan semua nasihat dan saran, tapi mengacuhkan caci dan pujian. Tujuannya jelas, tak kabur meski oleh silau sinar atau tempik sorak sorai sekitar. Meski pelan, aku menyaksikannya terus mengangkat kaki, selangkah demi selangkah. Dia hanya berhenti untuk mengambil napas dan rehat sebentar. Tapi setelah itu, perjalanan dilanjutkan.

Telah sampai pada penglihatan kami, mereka yang tak kenal letih memikirkan jalan ini. Mencari dan mencoba cara baru agar manusia bangun dan tersadar, lalu berjalan atau berlari, asal tidak diam berpangku tangan. Telah kami saksikan dengan mata kepalaku sendiri, mereka menjawab semua cerca keji dengan kerja pasti. Karena diakhir perjalanan, dia sadar betul, bahwa yang akan dihitung adalah amal yang dilakukan. Perkataan juga dihitungnya sebagai amal, karenanya, setiap kata yang dikeluarkannya dipikirkan betul akan mengantarkannya kemana.

Telah sampai pada penglihatan kami, orang-orang yang sepenuh hati, sepenuh jiwa, mengabdikan diri di jalan ini. Aku melihatnya sebagai orang-orang yang sangat bahagia. Teman dan sahabatnya merata di seluruh dunia. Tempat makan, minum dan tidurnya, tidak pernah membuatnya risau. Karena rezeki Allah telah diyakininya sebagai sesuatu yang pasti tak salah arah. Kebahagiaannya selalu membuncah, melihat hal-hal kecil membuatnya bahagia. Melihat anak kecil mampu membaca bismillah, ia seperti mendapat air segar yang menghilangkan dahaga. Melihat anak gadis yang menutup aurat dengan penuh kesadaran, gembiranya luar biasa seolah-olah dia mencium aroma surga yang semerbak. Menyaksikan anak-anak lelaki yang menjaga diri, menjauhi maksiat, menegakkan kebenaran, dia seperti melihat bala tentara yang berjajar-jajar rapi mendukungnya. Subhanallah.

Pada akhirnya, telah sampai pada pikiran kami, dan telah kami renungkan masak-masak, ditimbang benar-benar, semua ini tentang pilihan. Bergabunglah dengan yang benar. Bersamalah selalu dengan kebaikan. Jangan ragu, jangan bimbang, banyak teman yang akan menjadi sahabat di perjalanan. Jangan bangga pada keburukan, kemunkaran itu tidak membanggakan, inkar itu memalukan. Jangan gagah menjadi inkar, jangan senang pada keburukan, dan jangan sekali-kali berpikir bahwa kemunkaran itu sifat yang bisa menjadi pilihan. Jangan!

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*