Tajuk

Jangan Menjadi Bangsa Jargon!

Posted: 05/09/2017 at 08:28   /   by   /   comments (0)

Ini adalah kisah, tentang betapa besar pengaruh Indonesia. Fidel Castro, memimpin Kuba pada tahun 1959. Pada tahun 1960, untuk pertama kalinya Presiden Soekarno mengunjungi Kuba. Dalam kunjungan tersebut, Fidel Castro menimba ilmu dan menggali ide serta pemikiran presiden pertama Indonesia ini.

Pada tahun 1963, Presiden Soekarno menyampaikan sebuah pidato bersejarah tentang ajaran Tri Sakti. Kemudian, Fidel Castro menyatakan diri menjadi pemegang dan pengamal ajaran Bung Karno, khususnya Tri Sakti. Bahkan Fidel Castro pada zaman itu, ketika Kementerian Luar Negeri Indonesia dipimpin oleh Adam Malik, pernah menyatakan bahwa dirinya adalah murid dari ajaran Bung Karno.

Fidel Castro menerapkan Tri Sakti dengan konsisten dan tegar. Bukan hal mudah sebagai negara yang baru lahir. Tapi pimpinan nasional Kuba berteguh untuk menerapkan Tri Sakti. Berdaulat secara politik. Berdikari secara ekonomi. Berkepribadian secara sosial budaya.

Tantangan politik internasional juga tidak kalah dahsyat dihadapi oleh Kuba. Selama 40 tahun diembargo Amerika, dan berakibat diboikot secara ekonomi oleh banyak negara. Tapi negeri ini tidak bangkrut, mampu bertahan, malah tegar. Kuba menjelma sebagai negara yang kuat, juga besar.

Penduduk Kuba yang berusia 15 tahun ke atas, 97 persen mampu membaca dan menulis, pada tahun 2005. Padahal, angka buta huruf sebelum Revolusi Kuba, tercatat sebanyak 30 persen dari total penduduknya. Kini, tingkat buta huruf di negara tersebut adalah nol persen. Dalam hitungan kurang dari 50 tahun, Kuba telah bangkit dan tegar berdiri di atas kakinya sendiri.

Dalam laporan the Latin American Laboratory for Evaluation and Quality of Education yang berbasis di UNESCO Santiago, Kuba disebut sebagai negara yang menempatkan faktor pendidikan sebagai prioritas utama selama 40 tahun terakhir. Anggaran pendidikannya, dua kali lebih besar dari anggaran pendidikan di negara-negara Amerika Latin. Maka wajar jika pendidikan adalah hak warga negara yang ditanggung sebagai kewajiban negara, mulai dari sekolah rendah sampai perguruan tinggi secara percuma.

Bahkan tahun 2000, pemerintah Kuba melahirkan kebijakan pendidikan yang diberi nama University for All. Tujuan besarnya adalah, menjadikan seluruh negara sebagai universitas terbuka untuk seluruh penduduknya a nation become a university.

Seluruh rakyat, tua-muda, lelaki-perempuan, besar dan kecil, mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan sampai pada tingkat perguruan tinggi. Pemerintah bekerjasama dengan berbagai stasiun televisi untuk menyampaikan kuliah umum yang menarik dan bermanfaat untuk rakyat. Kuba sangat berkomitmen kepada semua program ini. Jika ditelisik, di balik komitmen tersebut, ada sosok seorang Fidel Castro. Dan yang lebih menarik lagi, jika kita teliti lebih detil, pada dasar pondasi dari komitmen seorang Fidel Castro, ada ajaran Bung Karno yang mewarnai dengan kuat pemikiran Castro. Ajaran tersebut bernama Tri Sakti!

Mengetahui kisah ini, seolah-olah kita menjadi negara dan bangsa yang sangat merugi. Pemikiran dan nilai-nilai mulia yang lahir dari para founding father’s Indonesia diadopsi, diaplikasikan, dipegang teguh dan mengantarkan negara-negara lain seperti Kuba menjadi maju. Tidak hanya pelayanan pendidikan, tapi juga pelayanan kesehatan dan kebutuhan hajat hidup rakyat Kuba juga mendapatkan level yang paling prima.

Sekali lagi, ajaran itu berbunyi; berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, berkepribadian secara sosial budaya.

Indonesia sepatutnya menjadi pewaris utama dari ajaran dan nilai-nilai mulia yang dilahirkan oleh para pemimpinnya. Tri Sakti adalah ajaran yang sangat hebat jika dikaji, dipahami, dan diamalkan sebagai haluan pembangunan sebuah negara. Seluruh rakyat Indonesia, para pemimpinnya, dan segenap tumpah darahnya adalah pewaris ajaran yang baik ini.

Sedikit menarik garis perbandingan ke negeri sendiri. Jumlah penduduk Indonesia yang buta aksara masih cukup besar. Menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), jumlah buta aksara di Indonesia hingga akhir 2015 mencapai 5,97 juta jiwa. Jumlah ini merupakan 3,7 persen dari total penduduk di Indonesia.

Tingkat melek huruf adalah indikator sederhana kemajuan dari sebuah negara. Semakin rendah tingkat buta aksara, maka semakin berkembang sebuah negara. Kian tinggi tingkat buta huruf penduduk sebuah negara, maka tinggi pula faktor penentu bagi sebuah negara disebut maju, berkembang atau terbelakang.

Telah 72 tahun Indonesia merdeka. Telah bermacam bentuk kepemimpinan dilaluinya. Berbagai sistem politik telah dicoba sebagai eksperimen bernegara. Maka sudah saatnya kita melihat lebih dalam kekayaan intelektual dan warisan pemikiran para founding father’s Indonesia. Bukan karena kita ingin mencoba hal baru lainnya, tapi kita kembali pada dasar yang sesungguhnya telah dimiliki oleh Indonesia. Dan jangan, ajaran-ajaran baik bangsa ini, hanya menjadi slogan dan jargon semata. Berhenti pada pencitraan semu yang tak kemana-mana!

(Visited 39 times, 1 visits today)

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*