Tajuk

Jenderal Soedirman, Profesionalisme TNI Untuk Rakyat

Posted: 05/10/2018 at 08:00   /   by   /   comments (0)

Tentara Nasional Indonesia hari ini merayakan hari jadinya yang ke-73. Tahun ini TNI mengusung tema “Profesionalisme TNI Untuk Rakyat”, dengan eksistensi dan independensinya ingin menegaskan bahwa keberadaan personel TNI dimanapun berada adalah untuk melindungi dan menjaga masyarakat Indonesia agar merasa aman dan tenang.

Sedikit telaah mengenai sejarah TNI tentu akan teringat salah satu sosok pejuang kemerdekaan Republik ini yang memperlihatkan jiwa profesional sepanjang karir militernya, Jenderal Besar Raden Soedirman. Seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Menjadi panglima besar Tentara Nasional Indonesia pertama, ia secara luas terus dihormati oleh rakyat.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah, menggambarkan sosok Soedirman sebagai "lambang dari kebangunan jiwa pahlawan Indonesia". Sejarawan Indonesia dan mantan Menteri Pendidikan & Kebudayaan Brigjen TNI Prof. Dr. Nugroho Notosusanto menggambarkan Soedirman sebagai "satu-satunya idola hidupnya", menyatakan bahwa masa-masa gerilya sang jenderal adalah asal esprit de corps (semangat akan kesatuan) TNI dari masa ke masa. Sardiman, seorang profesor sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta, menulis bahwa Soedirman hidup sebagai pembicara seperti Soekarno, yang dikenal karena pidatonya yang berapi-api, dan pemimpin yang berbakti dan tidak bisa disuap.

Terlahir dari pasangan rakyat biasa di Purbalingga, Soedirman diadopsi oleh pamannya yang seorang priyayi. Setelah lulus dari Wirotomo di usia 18 tahun, Soedirman belajar selama satu tahun di Kweekschool (sekolah guru) yang dikelola oleh Muhammadiyah di Surakarta, tetapi berhenti karena kekurangan biaya. Pada 1936, ia kembali ke Cilacap untuk mengajar di sebuah sekolah dasar Muhammadiyah, setelah dilatih oleh guru-gurunya di Wirotomo.

Pada tahun yang sama, Soedirman menikahi Alfiah, teman sekolahnya dan putri seorang pengusaha batik kaya bernama Raden Sastroatmojo. Setelah menikah, Soedirman tinggal di rumah mertuanya di Cilacap agar ia bisa menabung untuk membangun rumah sendiri. Pasangan ini kemudian dikaruniai tiga orang putra serta empat orang putri.

Sebagai guru, Soedirman mengajarkan murid-muridnya pelajaran moral dengan menggunakan contoh dari kehidupan para rasul dan kisah wayang tradisional. Salah seorang muridnya menyatakan bahwa Soedirman adalah guru yang adil dan sabar yang akan mencampurkan humor dan nasionalisme dalam pelajarannya, hal ini membuatnya populer di kalangan muridnya. Meskipun bergaji kecil, Soedirman tetap mengajar dengan giat.

Seorang rekan kerjanya mengisahkan bahwa Soedirman adalah seorang pemimpin yang moderat dan demokratis. Ia juga aktif dalam kegiatan penggalangan dana, baik untuk kepentingan pembangunan sekolah ataupun untuk pembangunan lainnya. Sangat menggambarkan sikap profesional.

Selama waktu-waktu ini, Soedirman juga terus bergiat sebagai anggota organisasi Pemuda Muhammadiyah. Dalam organisasi ini, ia dikenal sebagai negosiator dan mediator yang lugas, ia juga aktif berdakwah di masjid setempat. Soedirman terpilih sebagai Ketua Pemuda Muhammadiyah Kecamatan Banyumas pada akhir 1937.

Ada satu cerita mengenai beliau yang sempat dituturkan oleh sejarawan muslim dari Bandung, Ahmad Mansur Suryanegara. Saat bergerilya melawan penjajah Belanda di Yogyakarta pada pertengahan Desember 1948, ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki kota. Ketika itu pemimpin-pemimpin politik berlindung di Keraton Sultan, Soedirman bersama sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya.

Awalnya, mereka diikuti oleh pasukan penjajah Belanda namun Jenderal Soedirman dan pasukannya berhasil kabur dan membangun markas sementara. Pasukan Belanda tak mampu mengenali wajah Soedirman, bahkan ketika sang jenderal berada di depan mata mareka, membuat seorang prajurit heran dan menanyakan jimatnya.

Soedirman menjawab, "Saya punya tiga jimat. Jimat pertama, Saya tidak pernah lepas dari bersuci (wudhu); kedua, saya selalu shalat tepat waktu; ketiga, saya setiap bertindak selalu ikhlas untuk kepentingan rakyat bukan kepentingan pribadi, maupun golongan".

“Bung Dirman...”( meniru panggilan Soekarno ) menitipkan Indonesia kepada segenap lapisan masyarakat untuk dijaga. "TNI bukan suatu golongan, bukan di atas rakyat juga. TNI harus tetap setia untuk keselamatan negara. Jangan sekali-kali tentara menyalahi janjinya untuk menjadi pengkhianat,". Jenderal Soedirman mengatakan bahwa pahlawan yang sebenarnya bukanlah dirinya, melainkan rakyat. "Tanpa rakyat, TNI bukan siapa-siapa,".

Sampai kapanpun TNI harus tetap bersatu dengan rakyat dan para Ulama termasuk Santri demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta tetap melindungi keselamatan negara dan bangsa yang kita cintai bersama.

Wallahu'Alam

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website