Tajuk

Keberpihakan Pemimpin

Posted: 14/02/2017 at 07:33   /   by   /   comments (0)

Pernah suatu ketika, dalam sebuah perjalanan, Rasulullah memisahkan diri dari rombongan untuk menunaikan satu keperluan. Ketika ditinggal itulah, salah seorang sahabat melihat seekor burung kecil dengan dua ekor anaknya yang berada di sarang. Kemudian dia mengambil kedua anak burung tersebut. Sampai-sampai sang induk kebingungan mencari dan terbang berputar-putar di atas sarang.

Ketika Rasulullah datang, beliau melihat burung tersebut dan berkata, ”Siapa yang telah mengganggu burung ini dan mengambil anaknya? Kembalikan anaknya!” Rasulullah memerintahkan dengan tegas, siapapun yang mengambil untuk segera mengambalikan.

Lihat, betapa detilnya pandangan Rasulullah. Selalu jeli melihat sekelilingnya, dan bahkan menangkap pesan yang sangat sulit untuk diterjemahkan manusia. Perhatian beliau, bukan saja pada manusia dan kehidupan sosial umat Islam, sampai-sampai kebingungan seekor burung pun tertangkap oleh radar Rasulullah yang memang sangat terasah dan tajam.

Ketika di saat yang lain, Rasulullah dengan nada marah bertanya pada sahabat saat mendapat sarang semut yang dibakar. ”Siapa yang membakar sarang semut ini?”

Salah seorang sahabat berdiri dan mengakui, ”Saya, ya Rasulullah.

Rasulullah menunjukan perasaan marah yang besar dan sangat tidak senang. ”Tidak ada yang berhak menyiksa makhluk dengan api selain Penguasa api,” kata Rasulullah dengan nada marah.

Nabi akhir zaman, manusia mulia pilihan memberikan sikap pembelaan pada semut. Beliau marah ketika sarang semut yang menjadi rumah dan tempat bernaung, tempat berhimpun koloni-koloni binatang yang sering dianggap remeh dibakar. Bahkan kata-kata yang dipilih beliau sangat tajam, ”Tidak ada yang berhak menyiksa makhluk dengan api kecuali Penguasa api.” Yang dimaksud Penguasa api tentu saja Allah SWT.

Jika semut saja mendapatkan pembelaan demikian rupa, pasti juga sikap dan pembelaan kepada orang lemah, kepada mereka yang dipinggirkan, kepada mereka yang tak dianggap dan diremehkan juga sangat besar. Rasulullah mendapatkan julukan nabinya orang-orang lemah, karena pembelaan yang beliau berikan kepada kaum yang tak terbela. Dan kaum yang tak terbela, tentu merasa sangat mulia ketika yang membela mereka adalah manusia yang paling mulia. Allahu akbar!

Keadilan ditegakkan, sikap membela yang lemah dan terpinggirkan selalu dikedepankan, dan peka terhadap semua penindasan. Kerinduan pada pemimpin seperti ini nyaris dimiliki oleh seluruh manusia di zaman sekarang. Mereka berharap betul pada pemimpin yang membuka tangan dan bukan pemimpin yang main tangan.

Perasaan peka tak datang dengan sendirinya. Perasaan itu perlu diasah. Dan pasti, pembelaan terhadap yang lemah tak dengan tiba-tiba terjadi pada diri seorang pemimpin. Sikap itu perlu ditempa. Apatah lagi, sikap membela yang lemah selalu melahirkan risiko yang tak pernah ringan bobotnya.

Kepekaan, akan mengantarkan kita pada keberpihakan, dan keberpihakan selalu melahirkan sikap pembelaan, meski dengan cara yang paling ringan. Mari kita berdoa agar mendapat dan dipimpin oleh para pemimpin yang peka jiwanya, halus budi pekertinya, pandai pemikirannya, bijak sikapnya dan juga mampu menjaga lidah. Semoga Allah senantiasa mengaruniakan pemimpin yang berpihak pada yang lemah, bukan sebaliknya. Semoga para pemimpin selalu diberi hidayah agar mampu memberikan pembelaan yang sempurna pada semua hal yang memang perlu dibela.

Semoga Allah melindungi kita dari para pemimpin yang ingkar, jahil, dan mendatangkan mudharat bagi yang dipimpin. Semoga Allah menjauhkan kita dari pemimpin, yang lidah dan pemikirannya menyeret orang-orang yang dipimpin pada lubang-lubang pembawa binasa. Dan semoga bangsa ini, mampu belajar untuk memilih pemimpin. Memilih pemimpin yang mampu melahirkan para pemimpin, membesarkan para pemimpin dan mendidik para pemimpin yang mengajak kita pada iman dan hidup mulia. Amin.

(Visited 49 times, 1 visits today)

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*