Tajuk

Kebijakan yang Bajik

Posted: 13/07/2017 at 08:20   /   by   /   comments (0)

Kebijakan yang Bajik!

Seluruh kebijakan, sepatutnya berisi dan menuju kebajikan. Dan segala kebajikan, sebaiknya bersandar dan beralaskan kebijakan.

Hari ini kita mengenal kata "Kebijakan" sebagai kata ganti "Policy" dalam bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Padahal, kebijakan tak hanya sekadar policy. Kata dasar kebijakan adalah kata bijak itu sendiri, dan kata bijak justru lebih dekat kepada keluarga besar kalimat turunan dari kata wisdom.

Seluruh kebijakan ada para pembawanya. Sun Tzu menyebut mereka sebagai The Warrior if Wisdom. Dalam kondisi apapun, perang atau damai, makmur atau belum, sejahtera atau justru sebaliknya, para warrior of wisdom ini hanya memiliki satu orientasi: menegakkan keadilan.

Barangkali, terjemahan bebas dari warrior of wisdom ini dalam konteks Indonesia bisa dan biasa kita sebut dengan sebutan pengambil kebijakan. Dan dalam risalahnya, Sun Tzu menegaskan bahwa warrior of wisdom ini harus punya satu gaya hidup yang sangat menonjol. Dan itu adalah, gaya hidup keadilan.

Seluruh kebijakan sepatutnya berlandaskan dan berorientasi pada keadilan. Maka dengan begitu ia menjadi sebuah kebajikan. Dan bagi kaum Muslimin, kebijakan yang adil, akan mendekatkan para pelakunya pada ketakwaan.

‎يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ وَلَايَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰوَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS Al Maidah: 8)

Tidak ada derajat yang lebih tinggi dari takwa. Dan ternyata dalam Islam, keadilan mampu mengantarkan pada derajat yang sangat tinggi tersebut. Ketakwaan oleh Allah dinyatakan sebagai the ultimate goal.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al Hujurat: 13)

Seruan bijak dan bajik ini menjadi seruan universal. Karena kebijakan bukan sekadar policy. Kebijakan haruslah berpangkal poros pada keadilan. Dan keadilan, selalu memiliki tujuan kebajikan.

Dengan negeri sebesar Indonesia, dengan rakyat yang luar biasa berlapis-lapis tingkatannya, dengan aneka ragam budaya dan tradisinya, maka setiap pengambil kebijakan sepatutnya berusaha sangat keras berdiri di atas keadilan. Hanya dengan keadilan, dia akan berdiri di atas semua golongan, merangkul seluruh lingkup variasi perbedaan, dan memberikan kebajikan yang besar.

Dalam sejarah manusia, pertarungan kebajikan dengan kebathilan adalah pertarungan yang tidak pernah memiliki akhir cerita. Kadang kebajikan yang menang. Tapi tak jarang, kebathilan yang mengukir sejarahnya. Kadang kewarasan yang menjadi narasi besar sejarah. Tapi seringkali di akhir zaman ini, kita juga melihat keedanan yang mewarnai berbagai sendiri kehidupan manusia. Tidak luput juga kebijakan dan para pengambil kebijakannya.

Ronggowarsito, pujangga Jawa yang masyhur itu bahkan telah mengirimkan wanti-wanti sejak lama. Ronggowarsito menyebutnya Zaman Kalabendu, zaman edan yang menelikung ruang hidup kita.

Zaman ketika semua terpaksa menjadi gila, agar kebagian sepotong dunia. Tapi yang memaksakan diri gila pun, berakhir dengan tidak tahan pula jiwanya. Karena gelap jiwa dan bingung pikir ini adalah situasi yang sangat menyiksa, meskipun kanan-kiri, depan dan belakang dipenuhi harta dunia. Dan dalam situasi ini, Ronggowarsito menyampaikan, "Orang yang paling beruntung adalah mereka yang selalu ingat dan waspada."

Musuh besar kebijakan dan kebijakan adalah seretan dan tarikan untuk berbuat gila. Perbuatan gila yang dikendalikan kepentingan pribadi dan golongan. Perbuatan gila yang dipengaruhi bujukan dunia dan kemewahan. Perbuatan gila yang hanya melahirkan rasa haus berkepanjangan dan tak akan pernah terpuaskan.

Setiap pengambil kebijakan, tidak boleh bersandar pada satu golongan dan kepentingan. Sebab hal itu akan membuatnya jauh dari keadilan, dan ketika jauh dari keadilan maka dia akan jauh pula dari ketakwaan. Dan mereka yang jauh dari ketakwaan, hanya akan mendapatkan kerugian dan keburukan. Meskipun saat ini seolah-olah dia mulia dan terhormat di mata manusia dan sejarah.

Maka, jadikan keadilan sebagai dasar kebijakan. Dan jadikan kebajikan sebagai sarana dalam menjalankan kebijakan. Agar seluruh negeri dirahmati, seluruh negeri diberkahi. Lalu kita kembali sebagai jiwa-jiwa yang tenang, menuju ridha dan nikmat dari yang Maha Kekal.

(Visited 23 times, 1 visits today)

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*