Tajuk

Kekuatan Itu datang dari Iman

Posted: 11/09/2017 at 08:00   /   by   /   comments (0)

Suatu ketika, Hassan al Banna bercerita tentang seorang sahabatnya yang baru pulang berjihad dari Palestina. Sang sahabat bercerita tentang pengalamannya yang luar biasa, dengan nada yang sangat biasa. Benar-benar biasa. Seolah ia sedang menceritakan pulang dari pasar, atau aktivitas rutin lainnya. Padahal ia nyaris kehilangan nyawa. “Ia menjabat tanganku dengan tenang dan tersenyum, lalu berbicara kepadaku dengan tenang dan bersahaja,” kenang Hassan al Banna.

Sebelum berangkat ke Palestina, sebenarnya ia sedang terjangkit demam karena malaria. Tapi ia bersikeras untuk berangkat ke Palestina, meski dalam keadaan lemah. Karena itu pula, ia akhirnya tertawan dalam salah satu pertempuran dengan tentara-tentara Zionis Israel. Ia dipenjara selama empat hari, tanpa diberi makan sama sekali. Di hari kelima, seorang lelaki Arab menghampirinya, memberikan sepotong kecil roti. Tapi ditolaknya roti itu, meski perut sudah begitu melilit karena tak terisi. Ia tak hendak makan, meski secuil roti dari Zionis Yahudi.

Tetapi lelaki Arab yang memberikan roti, menangis. Lelaki Arab itu berkata, bahwa ia juga tawanan, bukan orang yang mengkhianati bangsa dan Islam. Setelah yakin, maka keduanya berbagi roti yang hanya secuil.

Tak lama setelah disekap tanpa makanan, ia bersama 14 tawanan lainnya digiring ke pelabuhan Haifa. Siang malam dipaksa kerja. Mengangkat berpeti muatan kapal untuk diturunkan. Ia yakin, peti-peti yang diangkatnya berisi bom-bom tangan buatan Amerika yang dikirimkan untuk Zionis Israel yang akan digunakan untuk memerangi rakyat Palestina. Maka dikumpulkannya seluruh keberanian yang ia punya, didorongnya peti-peti berbahaya itu masuk ke dalam laut.

Rentetan peluru segera menghajarnya. Tapi ia yakin, jika Allah belum berkehendak, nyawanya pasti terjaga. Ia melarikan diri, dan seizin Allah, selamat sampai di rumah.

“Setelah itu, ia datang ke kantor pusat Ikhwanul Muslimin. Ia berbicara seolah-olah tak terjadi apa-apa. Seolah-olah ia tak pernah kena penyakit malaria. Seolah-olah ia tak pernah tertangkap dan disiksa. Seolah-olah ia tak pernah berjabat tangan dengan maut. Setelah itu ia meminta izin kembali lagi ke medan kehormatan dan jihad. Adakah kekuatan yang melebihi kekuatan di dalam jiwa seorang Mukmin?” tanya Hassan al Banna pada kita semua.

Darimana datangnya kekuatan itu? Kekuatan yang menjadi seseorang begitu semangat sekaligus sangat rendah hati. Kekuatan yang membuat seseorang begitu merindukan kemenangan sekaligus tak lupa melakukan sesuatu yang bisa dilakukan. Darimana datangnya kekuatan itu?

Dalam firman-Nya, Allah menjelaskan, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh) maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya, dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan kesabaranmu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya kepada manusia, serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (QS. al Anfaal: 45-47)

Hari ini, kita berdakwah tidak hanya menyeru pada kebaikan, tapi juga bertempur melawan kejahatan dan kezaliman. Mereka mengancam, mereka menekan, bahkan mereka membunuh. Allah telah menjadikan kitab-Nya, al Qur’an sebagai kitab panduan yang begitu mudah dipahami oleh orang-orang beriman. Dan ayat di atas begitu mudah mengajarkan kepada kita, tentang sumber kekuatan yang sesungguhnya. Bukan materi dan teknologi yang menentukan kemenangan. Bukan seberapa canggih senjata yang dimiliki atau seberapa besar kekayaan yang dipunyai. Kemenangan tak pernah menuntut sebuah syarat yang bersifat profan. Materi dan teknologi memang membantu, tapi tidak pernah menjadi penentu.

Jika merujuk ayat di atas, syarat pertama yang menjadi pilar kemenangan adalah
Keteguhan atau tsabat. Tak ada perjuangan yang akan dimenangkan, tanpa keteguhan. Jalan dakwah ini, bukan jalan yang bertabur bunga dan mewangi. Jalan dakwah ini seringkali berbuah pedih, berat dan nyaris tak bertepi. Tapi juga yakinlah, betapapun sarat derita ada kenikmatan yang tidak biasa yang telah dijanjikan Allah.

Hanya keteguhan yang mampu membuat orang-orang dalam kafilah dakwah yang panjang ini sanggup bertahan. Seringkali mereka berguguran karena godaan. Tapi tak jarang pula yang meninggalkan gelanggang karena ancaman. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang bersabar di jalan perjuangan.

(Visited 59 times, 3 visits today)

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*