Tajuk

KETIKA ALLAH INGIN MENGHIBUR

Posted: 17/04/2018 at 07:30   /   by   /   comments (0)

Hari ini, kia sudah memasuki bulan Sya’ban 1439 H, meninggalkan bulan Rajab dan melewatkan satu peristiwa penting yang selalu diperingati oleh umat Islam di bulan itu, yakni peristiwa Isra Mi’raj beberapa hari yang lalu.
Kami teringat ketika tim Rasil berkunjung ke rumah Bapak Ihsanuddin Noorsi, salah satu pengamat politik ekonomi bangsa ini. saat itu kami tiba tepat pukul dua sore dalam rangka rekaman acara Sahur Bersama Tokoh, kami berbicara mengenai banyak hal. Satu yang sulit untuk dilupakan adalah apa yang beliau katakan mengenai Isra Mi’raj.

Beliau meminta kami untuk berpikir mengenai perjalanan menuju luar angkasa. Mengenai teknologi yang dibutuhkan untuk menuju ke sana. Lalu bagaimana mungkin Rasulullah yang belum berbekal latihan fisik sebagaimana para calon astronot melatih fisik mereka, sanggup untuk menembus angkasa raya sampai ke tempat yang paling tinggi, sidratul muntaha, dalam waktu semalam saja? Dengan perjalanan yang super cepat itu, bagaimana mungkin Rasulullah masih hidup? Secara logika hal itu merupakan suatu yang mustahil.

Pak Ihsanuddin bertanya lagi, tentang pakaian yang dibutuhkan seorang astronot. Pakaian yang memang akan melindunginya dari berbagai elemen yang ada di luar sana. Lalu bagaimana mungkin Rasulullah lagi-lagi baik-baik saja? Apa yang melindunginya?. Karena kita berbicara tentang materi yang bergerak, yaitu jasad bukan ruh.
Redaksi Alquran mengenai hal ini jelas. Dalam Al Quran Surat Al Isra ayat 1 disebutkan yang artinya: “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba_Nya pada suatu malam dari al Masjidil Haram ke al Masjidil Aqsa yang telah kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia Maha mendengar lagi Maha Melihat.”

Allah memperjalankan hambaNya nabi Muhammad SAW dalam suatu perjalanan yang sampai hari ini pun tak terpikir oleh manusia, walau dengan teknologi yang kita punya pada saat ini. Terlalu jauh jarak tempuh Isra dan Mi’raj, dan terlalu cepat waktu yang dibutuhkan untuk melakukan semua itu.

“Lalu apa yang menaungi rasulullah pada saat itu?” kata Pak Ihsanuddin Noorsi sambil tersenyum.

“Laa hawla wa quwwata illa billah.” Ujarnya mantap.

Hanya dengan kalimat itu semuanya menjadi mungkin. Hanya Allah SWT yang mampu membuat semua hal menjadi ada. Karena Allah SWT maha segala. Dia maha kuasa menghibur hati kekasih-Nya yaitu Rosululloh SAW yang sedang dirundung duka dengan hiburan yang tidak akan terulang oleh siapapun, sampai kapanpun.

Kami tertegun dan langsung sadar akan kekhilafan yang kadang lupa betapa kuasanya Allah SWT. Betapa semua yang tak mungkin akan menjadi mungkin dengan kehendak-Nya. Betapa jika Allah mencintai kita, maka tak lama setelah kita dirundung kesedihan, Allah akan menghibur kita dengan dengan hiburan yang tak terbayangkan.
Berapa banyak orang yang Allah “angkat” ketika mereka sedang terpuruk? Lalu masih belum sadarkah kita betapa beruntungnya kita menuhankan Allah? Kapan kita akan percaya bahwa laa hawla wa la quwwata illa billah, bahwa tidak ada daya upaya kecuali dari Allah SWT ?
Semoga ada manfaat untuk kembali mengingat peristiwa itu, membayangkan agungnya perjalanan itu, dan memetik mutiara hikmah bahwa ketika kita jatuh, maka bersiaplah untuk ditinggikan oleh Dia yang Maha Tinggi. Dzat yang maha baik, maha penyayang.

Wallahu ‘alam bissawab…

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*