Tajuk

Ketika Mengkritik Penguasa

Posted: 08/01/2019 at 08:00   /   by   /   comments (0)

Melihat berbagai fakta yang terjadi di negeri ini sungguh miris dan menyesakkan. Berbagai kasus mencuat kepermukaan dan membuat masyarakat tercengang. Apa yang muncul dibenak kita saat disuguhkan fakta ada ketidak adilan kepada seseorang yang kritis atas kebijakan penguasa?. Inilah yang dirasakan dan diungkapkan oleh seseorang warga negara, salah satunya mantan komisaris PT Bukit Asam Tbk, Muhammad Said Didu yang menegaskan pemecatannya tidak disebabkan oleh buruknya kinerja tapi karena tidak sejalan dengan penguasa.

Menarik untuk dilihat bagaimana respon penguasa mendapati sikap yang yang ditunjukan Said Didu. Apakah penguasa akan menjadikan pernyataan kritis ini sebagai nasehat atau koreksi atas kebijakan yang diberlakukan?. Ataukah menganggap sebagai ancaman bagi pemerintah yang sedang berkuasa?. Memposisikan kritis Said Didu sebagai bahan koreksi atas kebijakan bisa diartikan dengan mengkaji ulang kebijakan yang berjalan di PT Bukit Asam Tbk.

Disini harus dilihat apakah aturan mengelola usaha sudah menggunakan standar yang benar. Apakah pemberlakuan sanksi dengan tahapan sudah dijalankan. Ataukah seseorang langsung dipecat seketika saat dia tak sejalan dengan penguasa. Maka dari sini kita melihat bagaimana ketidakadilan terhadap orang yang kritis disebabkan oleh hasrat tinggi melanggengkan kekuasaan. Sistem yang menjadikan kepentingan sebagai pemutus suatu perkara, yang terjadi adalah baik dan buruk diartikan sesuai hawa nafsu. Jika sejalan dengan penguasa lanjut, jika tak sejalan tenggelamkan saja.

Inilah akar masalah kita di negeri ini. Kita merasakan bahwa penguasa hanya memikirkan kepentingannya saja. Tanpa mengutamakan kepentingan masyarakat. Bahkan anti saat masyarakat bersikap kritis. Semua ini disebabkan karena dijalankannya konsep memisahkan agama dari kehidupan serta asas kebebasan yang tidak bertanggung jawab. Sehingga penguasa tak khawatir saat kebijakan dan tindakan mereka bertentangan dengan syariat. Mereka tak merasa takut saat kelak akan berhadapan dengan Allah SWT. Mereka akan dihisab atas semua kebijakan yang mereka buat.

Bukankah kritik itu bukti kecintaan? Sudah seharusnya dikarenakan sayang kita tak membiarkan yang disayangi terjebak ke dalam jurang kehancuran. Saat kebijakan penguasa keliru, membahayakan negara dan mengancam kesejahteraan rakyat maka penguasa harus dinasehati alias dikritik. Mengkritik dapat juga diartikan mengoreksi. Di dalam islam di kenal dengan aktivitas dakwah kepada kebenaran/islam. Ada banyak hukum syariat yang memuliakan aktivitas tersebut.

Mengoreksi penguasa yang lalai, khilaf dan keliru, termasuk perkara bagian dari islam. Salah satu hadits yang mendorong untuk mengoreksi penguasa, menasihati mereka, adalah hadits dari Tamim al-Dari bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Agama itu adalah nasihat” Para sahabat bertanya: “Untuk siapa?” Nabi Muhammad SAW bersabda: “Untuk Allah, kitab suci-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad).

Kepemimpinan dalam islam, aktivitas mengkritik atau dakwah pada islam menjadi sesuatu yang diharapkan oleh penguasa. Hal ini disebabkan karena penguasa memahami dia hanya manusia biasa yang berpotensi salah. Kemudian memahami jika amanah kepemimpinannya akan dihisab oleh Allah SWT. Alangkah indahnya jika yang menjadi motivasi orang yang mengkritik dan penguasa yang dikritik adalah keimanan kepada Allah SWT. Maka tidak ada pihak yang merasakan ketidak adilan seperti hari ini.

Teringat sosok Khalifah Umar bin Khattab ketika berdialog dengan salah seorang wanita. “Wahai Amirul mukminin, apakah yang wajib kita ikuti itu, Kitab Allah ataukah ucapanmu?” ucap seorang wanita dengan penuh keberanian melontarkan pertanyaan kepada Khalifah Umar yang baru selesai berkhutbah. Wanita itu menanggapi pernyataan khalifah Umar yang melarang memahalkan mahar, yaitu membatasi mahar tidak boleh lebih dari 12 uqiyah atau setara 50 dirham. Wanita itu menyatakan, “Sesungguhnya kalau ada seseorang yang memberikan atau diberi mahar lebih banyak dari mahar yang diberikan Rasulullah shalallahu alaihi wasalam pastilah aku ambil kelebihannya untuk Baitul mal.”

Muslimah pemberani itu pun kemudian mengutip ayat Allah Qur’an surat An-Nisa ayat 20, “Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu Telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, Maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?”

Khalifah Umar menyadari kekhilafannya, kemudian dengan tanpa merasa malu, ia membenarkan ucapan wanita itu dan mengakui kesalahannya. “Wanita ini benar dan Umar salah,” ucapnya di depan banyak orang. Seperti inilah pemimpin yang kita harapkan. Dan pemimpin dengan kapasitas seperti ini hanya mungkin saat syariat islam diterapkan secara kaffah menjadi landasan undang-undang dasar negara dan Pancasila.

Wallahu’alam

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website