Tajuk

Kisah Tentang Subuh

Posted: 31/01/2017 at 07:30   /   by   /   comments (0)

Ada sebuah buku yang berkisah tentang seorang anak muda, yang sedang menunggu adzan Subuh di Masjidil Haram. Dia membaca al Qur’an setelah
menunaikan shalat malam. Lalu tibalah adzan Subuh berkumandang.

Diletakkannya al Quran dan dia maju mengisi shaff kosong untuk mendirikan shalat qabliyah Subuh yang menurut Rasulullah saw, berbobot lebih berat dibanding dunia dan seisinya.

Rasulullah begitu mengistimewakan shalat dua rakaat sebelum Subuh ini. Dari Ibunda Aisyah diriwayatkan, ”Tidak pernah Rasulullah saw sangat mewanti-wanti (sangat perhatian) atas sesuatu yang sunat melebihi pada dua rakaat qabla subuh." (Sahih Al-Bukhari, I : 393, Sahih Muslim, I : 501)

Bahkan, Rasulullah sendiri pernah mengatakan, dari Ibnu Sailan dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah saw. telah bersabda, ”Janganlah kalian
meninggalkan dua rakaat qabla Subuh ...." (Musnad Ahmad, II : 405, Sunan Abu Daud, II : 20, Sunan Al-Baihaqi Al-Kubra, II : 470 dan Malik)

Kembali pada kisah awal, sang pemuda lalu mendirikan shalat dua rakaat sebelum iqamat. Meski shalat ini dilaksanakan dengan ringan, tapi penuh kekhusyu’an.

Usai mendirikan shalat, sang pemuda menunggu iqamat. Dan ketika pemuda ini berdiri untuk mencari shaff yang perlu diisi setelah iqamat dikumandangkan tiba-tiba dia terjatuh lunglai, lemas tak bertenaga.

Jamaah shalat Subuh segera menolongnya, melarikan sang pemuda ke fasilitas kesehata. Belakangan diketahui bahwa, sang pemuda mengalami masalah jantung.

Fajar itu, ruangan unit gawat darurat sibuk mengambil langkah penyelamatan. Seorang perawat pria diminta untuk mendampingi sang pemuda, sementara dokter jaga dan spesialis jantung menyiapkan operasi yang mungkin harus diputuskan segera.

Tapi tiba- tiba sang pemuda, meminta perawat yang di dekatnya, untuk lebih mendekat lagi. Dibisikkannya sebuah kalimat, lalu sang pemuda memiringkan badannya ke sebelah kanan, pelahan mengucapkan kalimat, “Asyhadu allaa ilaaha illallaah, Waasyhadu anna Muhammadan rasuulullaah. Hanya Engkau Tuhan yang patut disembah, dan sungguh aku bersaksi bahwa Muhammad hádala Rasul-Mu yang mulia.”

Begitu saja, lalu sang pemuda menutup mata, napas terakhirnya usai sebelum dokter melakukan apa-apa. Sang perawat bergetar, lututnya tak mampu menahan berat tubuhnya. Ia jatuh terkulai di tepi ranjang. Para dokter sibuk menanyai, tapi tak sepatah kata mampu keluar dari lisan perawat itu. Setelah semua tenang, baru sang perawat bisa bercerita, kalimat apa yang dibisikan oleh sang pemuda.

Pada perawat sang pemuda berkata, “Katakan pada dokter, tak perlu susah, ajalku sudah tiba. Dari sini aku bisa melihat tempatku di surga.”

Itulah kalimat sebelum dia berbalik kanan dan mengucapkan syahadat dengan tarifan napas terakhir. Kalimat itulah yang membuat lututnya bergetar hebat dan tak bertenaga.

Kami berdoa, untuk seluruh pendengar dan pembaca, apapun yang sedang dialami, seberat apapun jalan yang sedang dilalui, semoga Allah menganugerahkan kita semua akhir yang baik. Hari-hari ini memang tidak ringan, semua masalah seolah menjadi beban. Dari politik sampai ekonomi, dari urusan masjid sampai masalah ibadah sehari-hari, terasa menjadi ujian yang tidak ringan. Tapi bersabarlah, semoga kita semua khusnul khatimah.

Fitnah berkeliaran liar. Kabar burung kabar angin berterbangan. Kalimat-kalimat buruk mudah dilontarkan. Kita sedang hidup di tengah-tengah badai, badai fitnah, badai keburukan, badai ketidakpastian. Maka di tengah-tengah situasi seperti ini, tundukkan kepala dalam-dalam. Dekatkan diri pada al Quran, jangan berpecah belah, kuatkan shaff dan persaudaraan. Semoga Allah menyatukan hati kita semua dan memberikan akhir yang mulia. Amin!

(Visited 138 times, 1 visits today)

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*