Tajuk

Kita Penghuni Tenda yang Mana?

Posted: 11/12/2017 at 08:00   /   by   /   comments (0)

Dalam Perang Hittin, peperangan yang dipimpin oleh Panglima Shalahuddin al Ayyubi dan berhasil menaklukkan Romawi dan merebut kembali Baitul Maqdis ke tangan kaum Muslimin. Dalam peperangan ini banyak hal yang terjadi.

Psy War dilancarkan oleh musuh. Fitnah ditebarkan. Salah satu fitnah hang dihembuskan adalah, Panglima Shallahuddin menjalin asmara dengan ratu mereka. Itu kisah dan peristiwa yang kecil, banyak provokasi lainnya yang dilakukan oleh pasukan Templar untuk menyulut emosi dan serta menjatuhkan pasukan Shalahuddin al Ayyubi.

Karena itu dari waktu ke waktu, Shalahuddin al Ayyubi melakukan pemeriksaan dan pengawasan yang melekat kepada pasukannya. Ulama-ulama turun ke medan untuk membina. Bukan berdiam diri di mihrabnya. Tapi juga mengangkat senjata. Tidak hanya berdoa, tapi juga jihad nyata. Bahkan para guru dan ulama pekerjaan mereka dimulai jauh sebelum pertempuran. Mereka mendidik, mereka membersihkan niat, mereka meluruskan pandangan setiap orang yang akan turun berjihad.

Salah satu kebiasaan Shalahuddin al Ayyubi ketika malam adalah berkeliling ke tenda-tenda pasukan. Diperiksanya satu persatu tenda pasukan, sedang apa mereka, apa yang dilakukan para pasukannya, dan untuk apa waktu mereka dihabiskan.

Di satu tenda, Sang Panglima menemukan para pasukan beribadah. Membaca al Quran. Berdzikir, bermunajat dan memanjatkan doa. Mendirikan shalat malam, bahkan ada yang sampai terguncang pundaknya menangis kepada Allah Taala.

Melihat tenda pasukan yang diisi oleh para abid di tengah malam, Shalahuddin berkata, “Dari tenda ini kemenangan akan diraih.”

Sang Panglima pun melanjutkan inspeksi. Bertemu dengan tenda yang dihuni jenis pasukan lain. Mereka berbincang, bersenda gurau, tertawa, dan ada yang tertidur dengan pulasnya.

Lalu Panglima al Ayyubi berkata lagi, “Kalau terjadi kekalahan, bisa jadi dari tenda ini kekalahan itu bermula.”

Kemenangan umat Islam ini, selalu bersifat supra natural. Kemenangan umat ini sangat tergantung pada kedekatan mereka kepada Allah dan seberapa besar mereka bergantung kepada Allah. Bukan tanpa ikhtiar dan usaha, tapi ikhtiar dan usaha bukan penentu kemenangan kita. Penentu kemenangan kita adalah, ikhtiar dan usaha yang berdasarkan kekuatan supra natural.

Bukan juga karena kekuatan orasi pada pemimpin yang membahana namun tak menjadi apa-apa. Bukan juga karena orator-orator ulung dari para alim yang membangkitkan emosi tapi tanpa membangun jiwa. Menyulut emosi itu hal yang mudah, bisa dipelajari. Tapi membangkitkan jiwa adalah urusan lain yang tak sehari jadi. Harus bermujahadah dan disiplin membina diri untuk taqarrub ila Allah.

Jika hari ini Baitul Maqdis memerlukan kita, mari kita periksa diri. Kita ini bagian penghuni tenda yang mana? Tenda pertama yang berisi pasukan abid yang banyak menegakkan ibadah dan meminta pertolongan kepada Allah di malam hari. Atau tenda kedua, tenda yang berisi pasukan bersenda gurau, penuh tawa dan tidur sepulasnya.

Kalau kita adalah tenda pertama, insya Allah kemenangan sangat dekat atas izin Allah. Tapi jika setelah mengukur diri, kita adalah penghuni tenda kedua, mohon segera memperbaiki diri.

Semoga Allah memberikan pertolongan kepada kita semua, dan seluruh kaum muslim yang ingin membebaskan al Aqsha.

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*