Tajuk

Manusia yang Melahirkan Sejarah

Posted: 10/11/2017 at 08:00   /   by   /   comments (0)

Sejarah melahirkan manusia-manusia, itu hal yang lumrah. Tapi manusia yang mencipta dan melahirkan sejarah, tidak banyak jumlahnya. Dalam peringatan Hari Pahlawan ini, salah satu yang ingin kami tuturkan adalah kisah seorang ulama besar, bernama Buya Muhammad Natsir.

Cerita besar ini bermula dari seorang pedagang Arab yang datang dari Surabaya. A. Hassan namanya, seorang guru agama yang tersohor bahkan sampai ke manca negara. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan, Tuan Hassan.

Pada mulanya, tak ada niat buat Tuan Hassan untuk menjadi guru agama. Ia datang pertama kali dengan niat dan tujuan berdagang kain dan mempelajari masalah tekstil pada tahun 1924. Tapi sejak mula, ia sudah dikenal sebagai orang yang memiliki ilmu agama dan pandai menyampaikannya. Dua tahun di Bandung, Tuan Hassan diminta menjadi guru agama di Persatuan Islam (Persis).

Di dalam organisasi ini, Tuan Hassan menghidupkan kembali tradisi sunnah nabi dan dengan tegas mengejawantah al-Qur’an. Pimpinan Persis meminta kerabat yang mengirim Tuan Hassan ke Bandung untuk merelakannya menetap di Paris van Java. Sebagai kompensasinya, rencana pembangunan pabrik tekstil di Surabaya dipindahkan ke Majalaya, agar Tuan Hassan menentap di sana.

Tapi tak lama, pabrik tekstil yang didirkannya tak terlalu berkembang. Maka Tuan Hassan mencurahkan waktunya untuk mengajar Islam. Tuan Hassan menguasai bahasa Arab dan Inggris. Pengetahuan agamanya yang mendalam membuat Tuan Hassan meraih simpati dan perhatian umat Islam.

Tuan Hassan sadar benar, salah satu sasaran dakwah yang harus digarapnya adalah para pemuda dan pelajar. Sebab, mereka kelak akan memimpin masa depan. Pemuda-pemuda kerap datang atau didatangi Tuan Hassan. Beberapa di antaranya adalah dua sahabat karib dari Minangkabau: Fachroedin al-Khairi dan Mohammad Natsir.

Fachroedin al-Khairi seorang pemuda berdarah keling, meledak-ledak emosi dan semangatnya, penggembira sifat dan tabiatnya. Sedangkan Mohammad Natsir, bertubuh kecil, pendiam, lemah lembut, tapi ketika berbicara memukau pendengar dengan logika yang rapi dan indah. Keduanya demikian bersemangat mendalami Islam di bawah bimbingan Tuan Hassan.

Di sanalah Mohammad Natsir memulai langkah besarnya dalam proses melahirkan sejarah. Sebagai seorang pimpinan umat, kerap kali Tuan Hassan mengajak dan memperkenalkan Natsir pada dunia pergerakan. Beberapa kali, bahkan Tuan Hassan mengajak Natsir membezuk Soekarno yang disel Belanda di penjara Sukamiskin.

Jika sudah duduk dengan Tuan Hassan, Natsir bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Silih angsur berbagi pertanyaan, tentang agama, politik dan pertarungan ideologi dikancah dunia. Salah satu yang menjadi bahasan serius antara keduanya adalah kiprah orientalis Belanda, Snouck Hurgronje menghancurkan Islam dan kaum Muslimin.

Persentuhan dengan masalah perjuangan turut memompa jiwa perlawanan Natsir. Seperti yang tercatat dalam sejarah, Natsir adalah satu diantara motor penggerak Jong Islamieten Bond. Kumpulan pemuda Islam dengan visi dan misi perjuangan. Natsir muda rapat bergaul dengan tokoh-tokoh seperti Kasman Singodimedjo, Mohamad Roem dan Prawoto Mangkusasmito.

Selain berguru pada Tuan Hassan, Natsir dan kelompok kecilnya di Jong Islamieten Bond, berguru pula pada Haji Agus Salim yang tinggal di Jakarta. Di kalangan aktivis pergerakan, Haji Agus Salim menjadi sosok yang dituakan. Karenanya pada pemuda aktivis menyebutnya Ouwe Heer Salim atau Orang Tua Salim. Sebut saja Ouwe Heer, maka semua orang akan paham yang dimaksudkan adalah Haji Agus Salim.

”Kami biasanya menyampaikan sesuatu masalah kepada beliau, yang kami belum mampu memecahkannya, mengenai soal-soal kemasyarakatan, agama dan politik. Waktu itu, kami sudah tidak bisa mengelakkan dari persoalan-persoalan politik--maklumlah, sebagai anak jajahan. Maka kami datang bersama-sama kepada beliau jawaban dan pemecahannya,” tulis Natsir mengenang masa-masa bergurunya pada Ouwe Heer Salim.

Kalau sudah duduk bersama Haji Agus Salim, mereka akan menghabiskan waktu berjam-jam. Beberapa bahasan dilontarkan dan tanya jawab berlangsung dengan serunya. Tapi tak jarang Haji Agus Salim memberikan jawaban yang menggantung dan ambigu.

”Bagaimana ouwe heer, kami harus memecahkan persoalan ini,” desak Natsir dan kawan-kawan jika mendapat jawaban yang tak final.

”Apakah saya harus memecahkan ini atau saudara-saudara? Saudara-saudara harus berlatih menjadi seorang pemimpin. Dan seorang pemimpin itu, bedanya dengan orang yang dipimpin ialah, bahwa di suatu saat yang penting dia dapat memilih antara dua atau lebih alternatif. Kemampuan untuk memilih dua atau lebih alternatif itulah ciri dari seorang pemimpin. Tetapi kalau saya kunyahkan untuk saudara-saudara bagaimana memecahkan persoalan itu, kapan saudara akan menjadi pemimpin? Kalau terus saja kamu sekalian saya berikan bagaimana harus begini dan begitu, maka tidak pernah akan matang kamu untuk memimpin dan akan tetap menjadi pengikut,” tandas Haji Agus Salim.

Nasihat-nasihat yang diterima oleh Natsir, tidak saja membuatnya tertantang, tapi juga membuatnya matang. Matang sebagai seorang individu Muslim sekaligus matang sebagai pemimpin umat Islam.

Sebagai seorang individu Muslim dan pemimpin umat Islam, Mohammad Natsir tumbuh dengan kesadaran yang matang mencipta dan membangun sejarah. Tidak saja sejarah untuk nama pribadinya, tapi terlebih sejarah untuk bangsa dan umatnya.

Mohammad Natsir, melibatkan diri dalam banyak hal. Masalah umat dan kemasyarakatan. Perihal politik dan kenegaraan. Perjuangan fisik dan intelektual, semuanya ia lakukan.

Maka tak heran ia pernah menjadi kepercayaan bangsa ini. Proklamator Indonesia, Bung Hatta pernah menuliskan pengakuannya sebagai dwitunggal Indonesia. ”Waktu dwitunggal memimpin pemerintahan menurut Undang-undang Dasar 1945, Bung Karno tidak mau menandatangani suatu penerangan pemerintah, apabila penerangan itu tidak disusun oleh Saudara Natsir.”

Seorang Muslim yang baik, dia tidak hanya menjadi kepercayaan umat Islam, tapi juga menjadi kepercayaan orang lain, yang seiman atau tidak. Sebab seorang Muslim yang baik akan menjunjung tinggi asas keadilan dan kejujuran. Di sanalah Natsir berdiri, membela bangsa ini dengan penuh dedikasi.

Tanpa bermaksud membandingkan atau menyamakan, kisah ini mengingatkan kita pada periode hidup Rasulullah saw di Makkah. Sang Nabi dibenci dan dimusuhi oleh oleh kafir Quraisy di seluruh negeri. Tapi mereka, kaum kafir itu, tak menemukan satu orang pun yang mampu mereka percayai melebihi Rasulullah. Maka mereka pun menitipkan harta benda dan barang-barang berharganya pada Rasulullah. Maka sebelum berangkat berhijrah, Rasulullah memerlukan diri untuk mengembalikan semua harta titipan yang diberikan oleh orang-orang yang ingin membunuhnya.

Maka sama sekali tak mengherankan ketika Bung Karno sebagai Presiden I Republik Indonesia menyerangkan pembentukan kabinet kepada Mohammad Natsir. Tahun 1950, terjadi perundingan antara Republik Indonesia Serikat dan pemerintahan Republik Indonesia di Jogjakarta. Konferensi memutuskan Indonesia kembali menjadi negara berdasarkan UUD 1945. Pemerintahan presidensial kembali menjadi pemerintahan parlementer. Bung Hatta kembali menjadi Wakil Presiden mendampingi Soekarno.

Dengan keputusan itu, Bung Karno menunjuk Mohammad Natsir untuk menyusun kabinet koalisi antara Partai Masyumi dan PNI. Tapi untuk beberapa lama kabinet belum juga terlaksana susunannya. Pasalnya, terjadi perdebatan sengit antara Masyumi dan PNI untuk menentukan siapa yang paling sah menduduki kursi apa. Sampai-sampai, Mohammad Natsir mengembalikan mandat yang diberikannya pada Presiden Soekarno.

Presiden Soekarno sendiri bersikap menolak mandat yang diberikan Natsir. Kepada Mohammad Natsir, Seokarno berujar, ”Tinggalkan saja PNI!”

Maka pembentukan kabinet pun jalan terus. Bulan September atau Oktober, terbentuklah sebuah kabinet dengan Perdana Menteri seorang Muslim Indonesia yang demikian terpercaya.

Sekelumit sejarah yang kita bahas pada hari ini menujukkan betapa pahlawan-pahlawan Indonesia itu, dipenuhi dengan nama-nama pejuang Muslim yang memperjuangkan kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan dan menjaga kemurnian kemerdekaan.

Potongan peristiwa besar bangsa ini menunjukkan sejarah seorang Muslim yang tidak saja dicintai oleh umatnya, tapi juga dipercayai oleh kawan politiknya dan disegani oleh lawan ideologisnya. Betapa rindu kita pada sosok seperti ini. Sosok yang memiliki integritas tinggi yang mampu menyatukan beragam tugas sebagai manusia. Natsir adalah seorang hamba yang baik. Tapi Natsir juga seorang pimpinan yang adil. Natsir seorang pelayan negara yang jujur dan setia. Tapi Natsir juga seorang pejuang yang gigih tak kenal kompromi atas kebenaran yang diyakininya.

Di tengah kondisi negeri seperti saat ini, mengenang Natsir seolah seperti mimpi. Sosok Natsir nampak begitu jauh tak terperi. Politikus kita hanya memikirkan kekuasaan, yang harus dicapai dengan segala cara. Ulama kita, dangkal dan hanya pandai dengan dipermukaan saja. Pemimpin kita, tak menjunjung tinggi hajat hidup rakyat Indonesia.

Natsir adalah seorang pemimpin umat yang tak segan-segan dengan bangga mengenakan sarungnya. Natsir adalah seorang Perdana Menteri yang tak mempermasalahkan berapa banyak tambalan yang ada di jas yang sedang ia kenakan. Natsir adalah seorang tokoh yang melayani pengaduan, meski hanya sebatas bedug surau robek karena usia tua.

Karena itu pula, meski seperti mimpi dan seolah jauh tak terperi, sosok Mohammad Natsir harus kita hidupkan kembali. Semangatnya, kerendahatiannya, kepakarannya, perhatian dan kerja kerasnya, harus menyemangati umat Islam negeri ini dan harus menjadi ruh yang mampu meniupkan kebangkitan Indonesia. Dengan semangat teladan Natsir, kita tidak saja menjadi anak-anak yang dilahirkan zaman, tapi harus menjadi anak-anak yang melahirkan sejarah di zamannya.

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*