Tajuk

Membaca Pesan dari Masa Silam

Posted: 17/04/2017 at 07:39   /   by   /   comments (0)

Ada sebuah buku yang pernah ditulis oleh Syaikh Abul A'la al Maududi. Judul aslinya Waqi'ul Muslimin Sabil an Nuhudh Bihim. Kira-kira terjemahan bebasnya adalah, Kemerosotan Ummat Islam dan Upaya Pembangkitannya.

Membaca buku ini, sekarang makin terasa kontekstual, relevan, bahkan aktual. Dari daftar isinya saja, kita bisa mempelajari sebuah pesan untuk menelaah nasib kaum muslimin saat ini dan bagaimana masa depannya nanti.

Daftar Isi: Mengapa kita dijajah? Asas kebudayaan Barat. Sisa-sisa kebudayaan kolonial. Reaksi kita terhadap serbuan Budaya Barat. Aslinya buku ini semacam seri kuliah, lalu kemudian para murid beliau menuliskannya, tentu seizin dan melalui supervisi syaikhuna.

Syaikhuna Maududi mengkaji aoakah formula yg harus diajukan atas kerusakan umat ini, dan bukan temporal sifatnya. Tapi syumul dan kaffah.

Analisis beliau, ambruknya peradaban mulia Islam karena pemeluknya hanya mengamalkan kulitnya saja, tanpa menyentuh asasnya. Ibadah ukhrawi tidak dipikul sungguh, sementara penguasaan dunianya didasarkan pada syahwat dan hasrat rendah.

Formula yg ditawarkan utk penyakit ini sebenarnya sederhana, syaikhuna menawarkan agar umat islam taat pada asas keislamannya. Berusaha keras. Apapun yg dilakukan, bukan berdasarkan hitungan untung rugi, untuk pribadi, golongan, politik, kekuasaan. Tapi apa rugi untungnya untuk Islam.

Semua kaum Muslimin harus memiliki keinginan berperan menciptakan perubahan mendasar pada kehidupan yang rusak dan buruk ini.

Beliau menulis, “Kami tidak akan berhenti, meski sejenak, untuk memperbaiki keadaan, menyadarkan pikiran, mengembalikan Islam sebagai tujuan kehidupan. Sebelum berbuat sesuatu, beliau bertanya pada kita: mengerti atau tidak masalahnya? Dimana akarnya? Apa gejalanya?”

Mengapa kita mengalami malapetaka dunia islam yg tidak saja mundur, tapi juga nyaris hancur? Dimana salahnya, tanya Maududi! Kalau bukan karena dosa-dosa kita. Lalu apa? Apakah karena salah jalan? Atau terlampau banyak keburukan kita? Atau kejahatan?

Mengapa penjajah kini merajalela menginjak kita? Apa yg dibawa para penjajah? Menjajah fisik saja? Atau juga budaya, agama, politik dan ekonominya?

Lalu, apa pengaruhnya semua penjajahan ini pada diri kita? Ataukah kita sudah tak merasa terjajah? Ke arah mana lanjutan ini semua?

Buku ini, memang kecil, dan bisa jadi separuh isinya adalah pertanyaan-pertanyaan. Bahkan bab pertama-kedua, pertanyaan semua!

Apa reaksi kita pada penjajahan ini? Merangkul, melawan atau diam? Melakukan sesuatu, sudahkah kita punya rencana? Apa itu? Caranya?

Apakah reaksi yg kita berikan pada penjajahan ini berasal dari sumber yg satu, atau dari banyak sumber? Dr mana sumbernya?

Kalau reaksi itu bersumber dari satu sumber, apakah itu? Kalau dari bermacam sumber, apa saja itu? apakah sumber-sumber itu datang dari penjajah juga?

Penjajahan ini adalah konsekuensi logis dari kemerosotan agama, akhlak, ilmu, dan alam pikiran Islam yg terjadi pada kaum Muslimin. Maka Maududi menyarankan, langkah pertama memperbaiki keadaan ini adalah memperbaiki agama kita. Karena tidak ada yg utama selain itu!

Agama harus dijadikan kekayaan paling berharga yg harus kita miliki. Bukan harta, kuasa, politik, atau apapun selain agama. Orang merasa kehilangan dan memperjuangkan kekuasaan semaksimalnya. Tapi dia tak merasa kehilangan, jika agamanya memudar.

Memudarnya agama tak dirasa. Memperjuangkan agama tak dibela. Melaksanakan agama seperlunya. Berbeda adab jika tentang kekuasaan. Semua dilakukan dengan sepenuh hati dan jiwa.

Padahal kita mengetahui, agamalah yang menjadikan kita kuat, dan kemudian mendapat rezeki kekuasaan dan kebaikan dunia. Jadikan agama, sebagai hartamu yang paling berharga! Yang lain-lain, insya Allah mudah

Apakah jika negara sudah makmur, rakyat sejahtera, aman sentausa, lalu kita berhenti berjuang? Tentu Tidak! Sebab tujuan utamanya bukan meraih kemakmuran, kesejahteraan atau aman sentausa. Tujuan besarnya adalah mewujudkan masyarakat Islam.

Jika sudah mengalami distraksi atau disorientasi, para ulama terjebak mengurus hal kecil yang tidak penting. Padahal tugasnya lebih besar. Melahirkan dan membangun konsep masyarakat Islam yang tepat pada zaman itu.

Para aktivis juga mengalami disorientasi. Memperjuangkan sesuatu yg jauh dari substansi. Terjebak dan habis tenaga. Dan jika sudah begini, jebakan berikutnya adalah jalan dan cara sering dianggap sepele dan mudah. Lalu hilanglah tujuan besarnya.

Maududi merinci peran-peran masyarakat dan fungsinya. Salah satu yg diberi perhatian adalah penegak hukum, juga tentara. Menurut Maududi tidak tahu diri jika seorang polisi, jaksa atau hakim dan tentata tak tahu cara membedakan haq dan bathil.

Jika mereka gagal mengetahui dan membedakan haq dan bathil, maka peran dan fungsi mereka bukan saja sia-sia, tapi merusak jatuhnya. Polisi, tentara, jaksa, hakim membela dan mengangkat senjata, pd sesuatu yg tidak diketahuinya benar atau salah. Itu fatal sangat akibatnya!

Mereka pasti dengan mudah menjual izzah bangsa dan agamanya, dengan seragam, pangkat juga harta. Murah!

Para ulama dan cendekia, terjebak pada masalah cabang dan furu'iyah. Tidak menyentuh pokok, hanya gejalanya. Gagal memberi solusi sejati Menurut Maududi, fenomena ini terjadi pada kaum Muslimin, dan juga terjadi pada kaum kafirin. Yang menang saat ini adalah syahwat!

Jadi kesimpulannya, kata Maulana Maududi, petaka yg menimpa umat ini bukan muncul begitu saja dan tiba-tiba ada. Tapi karena rusaknya ilmu, hilangnya orientasi, kaburnya pengenalan haq dan kebathilan, serta salahnya menempatkan pembelaan dan kesetiaan. Semua dari kita, harus turut berperan serta memperbaikinya. Terutama memperbaiki dan menjaga Indonesia agar menjadi negeri yang penuh berkah dan dirahmati Allah Talaa.

(Visited 49 times, 1 visits today)

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*