Tajuk

Menangis karena Allah

Posted: 19/05/2017 at 07:54   /   by   /   comments (0)

Ada banyak jenis tangis yang ada dalam kehidupan ini. Tapi tak ada tangis yang lebih baik dibanding menangis karena Allah yang Mahasuci.

Ada kisah menarik dari Abdullah ibnu Rawahah ra. ketika mendengar sebuah wahyu yang turun dan dibacakan oleh Rasulullah. “Dan tidak ada seorangpun daripadamu melainkan akan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (QS Maryam: 71)

Mendengar ayat ini turun, Abdullah ibnu Rawahah pulang dengan berlari sangat kencang. Ia menangis sepanjang jalan, bercururan air matanya. Sesampainya di rumah, ia tambah menangis menggeru memahami makna wahyu. Ketika istrinya sampai di rumah dan mengetahui sang suami sedang menangis tersedu, ia pun turut menangis. Terguncang-guncang pundaknya menahan isak yang semakin mendesak dada. Begitu pula ketika pembantu mereka pulang ke rumah, ia turut menangis dengan hebatnya. Anggota keluarga yang lain, ketika menyaksikan Abdullah ibnu Rawahah, istri dan pembantunya menangis, mereka jatuh menangis bersama.

Lalu, setelah tangisan itu reda, setelah Abdullah ibnu Rawahah mampu menarik napas, ia bertanya pada keluarganya. “Wahai keluargaku, apa yang telah membuat kalian menangis?”

Lalu istri Abdullah ibnu Rawahah yang angkat bicara. “Tidak tahu, apa yang membuat kami menangis. Tapi ketika kami melihatmu menangis, kami pun ikut menangis. Apa yang telah membuatmu menangis demikiran rupa?”

“Telah turun satu ayat kepada Rasulullah saw, isinya Allah azza wa Jalla memberitahu bahwa aku pasti akan mendatangi neraka. Tapi Dia tidak memberitahu aku, apakah aku akan keluar dari neraka. Itulah yang membuatku menangis,” ujar Abdullah ibnu Rawahah menerangkan.

Sedemikian dahsyat pemaknaan para sahabat atas wahyu yang diturunkan Allah. Satu ayat saja, mampu membuat mereka menangis menggeru. Sebabnya antara lain, para sahabat yang mulia itu merasa seolah-olah ayat-ayat itu turun khusus untuk dirinya. Mereka merasa sepertinya Allah menurunkan teguran langsung untuk manusia. Lalu siapapun sahabat yang mendengarnya, langsung menyesali diri dan mengubah diri untuk lebih baik lagi.

Interaksi para sahabat nabi dengan al Qur’an sangatlah tinggi. Baik secara kuantitas, ataupun kualitas. Mereka tak pernah mendengar al Qur’an kecuali melakukan tiga hal; menghafalnya, memahaminya dan mengamalkannya. Tidak saja satu atau dua orang sahabat yang berperilaku demikian, tapi nyaris seluruh generasi awal Islam memiliki akhlak yang sempurna ketika berinteraksi dengan al Qur’an.
Selain Abdullah ibnu Rawahah, sahabat lain yang pernah terekam riwayatnya adalah Tsabit bin Qais radhiyallahu anhu, salah satu sahabat terkemu dari kalangan anshar. Kepada Atha al Khurasani, putri Tsabit bin Qais menuturkan kisah yang dialami ayahandanya. “Ketika wahyu surah Luqman ayat 18 turun dan disampaikan oleh Rasulullah, ayahku merasa susah, gundah dan gelisah,” tutur putri Tsabit bin Qais.

Sejak ayat itu turun, Tsabit bin Qais merasa selalu dirundung bingung. Ia berjalan hilir mudik tak tentu arah. Sampai akhirnya ia menutup pintu rumah dan mulai menangis di dalamnya. Begitu hebat tangis Tsabit bin Qais atas turunnya wahyu tersebut. Firman Allah itu berbunyi, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan Angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman: 18)

Kepada putrinya Tsabit bin Qais menuturkan kegundahan hatinya. “Aku adalah orang yang menyukai keindahan dan suka menjadi yang terdepan di antara kaumku,” ujar Tsabit bin Qais menjelaskan alasannya menangis demikian pilu.

Perihal ini, lalu disampaikan oleh salah seorang sahabat yang lain kepada Rasulullah. Dan dengan kearifannya yang seteduh telaga, Rasulullah bersabda dengan kalimat yang liris dan indah:

Sesungguhnya kamu bukan golongan mereka
Sebaliknya kamu hidup dengan baik
Dan mati dengan baik pula
Lalu Allah akan memasukkanmu ke dalam surga

Peristiwa serupa terulang lagi, ketika Allah menurunkan firman-Nya. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami meninggikan suaramu lebih dari suara nabi. Dan janganlah kami berkata kepadanya dengan suara yang keras.” (QS al Hujurat: 02)

Tsabit bin Qais menangis lagi, lebih hebat dari sebelumnya. Ia menutup dan mengunci pintu lalu berurai air mata di dalam rumah. Ayat ini seolah teguran Allah atas dirinya yang suka berkata dan bersuara dengan keras lagi bernada tinggi. Kembali salah seorang sahabat mengadukan peristiwa ini kepada Rasulullah tercinta. Kemudian Rasulullah mengirimkan pesannya:

Sebaliknya, kamu hidup dengan cara terpuji
Lalu kamu juga mati dengan cara yang terpuji
Kemudian Allah akan memasukkanmu ke dalam surga yang tinggi

Dalam sejarah, Tsabit bin Qais akhirnya menemui syahidnya di masa Khalifah Abu Bakar. Saat itu kaum Muslimin sedang memerangi orang-orang murtad dalam Perang Riddah yang hebat. Nabi palsu Musailamah al Kazzab memberontak dan memimpin perlawanan untuk murtad. Tsabit bin Qais berperang dengan hebat. Ia melakukan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Ia menanamkan kakinya ke dalam tanah, agar ia tak mundur, meski sejengkal, untuk melawan orang-orang yang murtad dari Islam. Sampai akhirnya ia syahid dengan cara mulia yang dipilihnya sendiri. Persis seperti yang telah digambarkan oleh nabi.

Alangkah indah akhlak orang-orang mulia ketika beinteraksi dengan al Qur’an yang dipersembahkan sebagai petunjuk hidup untuk manusia. Ketika al Qur’an memberikan peringatan, terbetik rasa takut dihatinya. Ketika al Qur’an menyampaikan berita gembira, maka berbunga-bunga pula hatinya. Larangan dan perintah, dalam firman-firman Allah yang mulia seolah menjadi napas sehari-hari di kehidupan ini.

Mereka menangis karena Allah. Mereka bergembira karena Allah. Mereka tersedu karena Allah. Mereka bersuka cita karena Allah pula.

Ini bukan tentang menjadi cengeng atau sentimentil. Sama sekali bukan. Tapi ini tentang kelembutan hati seorang manusia di depan tanda-tanda dan ayat-ayat Tuhannya. Tak ada balasan yang lebih indah untuk hati yang lembut karena Allah, kecuali dipenuhi dengan cahaya cinta yang mulia.

Alangkah besar manfaat yang didapat seorang hamba, ketika hati dan akalnya lunak di depan firman-firman Allah. Air mata yang mudah menetes karena Allah akan menjadi pemandu bagi kita untuk mengetahui mana kebaikan dan mana keburukan. Karena memang, ini bukan hanya masalah tentang air mata. Ini tentang kedekatan jarak kita dengan Allah SWT.

Ketika jarak seorang makhluk demikian dekat dengan khalik, maka tiangnya akan menjadi kuat, atapnya menjadi kukuh, jiwanya menjadi luas dan hatinya menjadi teguh. Kondisi psikologis seperti ini akan menyumbang bilangan sangat besar dalam proses pematangan kita sebagai seorang hamba, sekaligus sebagai seorang khalifah di muka dunia.

Bacalah ayat-ayat ini dengan hati yang lembut dan jiwa yang lunak. Bacalah ayat-ayat ini sebagaimana cara membaca orang-orang yang mudah tergetar hatinya ketika ayat-ayat Allah dibacakan untuknya. “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri).” (QS al Maidah: 83)

Tapi, kita juga harus selalu menjaga agar tak terjebak rasa unjuk diri dengan butir-butir air mata buaya. Sebab Rasulullah pernah bersabda, “Sebagian besar orang-orang munafik dari umatku adalah para pembaca al Qur’an.” (Kitab Ash Shahihah Hadits No. 750)

Kita harus selalu menjaga diri. Seperti yang dilakukan seorang alim ketika terpergok mengucurkan air mata saat membaca kalam Ilahi yang mulia. Dengan tergesa ia mengusap hidungnya yang memerah sambil berkata, “Berat benar flu yang aku derita.”

Menangislah hanya di depan Allah. Karena hanya Dia yang mampu menilai, sebening apa air mata kita

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*