Tajuk

Menunggu atau Menyambut Gelombang Besar

Posted: 13/12/2017 at 08:00   /   by   /   comments (0)

1942. Tak lama setelah Pearl Harbour lantak oleh serangan udara militer Jepang, beberapa filosof terkemuka negeri Sakura ini bertemu di Kyoto. Dalam pertemuan itu, para filosof membahas masa depan dunia setelah peristiwa yang difilmkan beberapa waktu lalu. Menurut mereka, serangan yang dilakukan para ultra-nasionalis Jepang itu telah membuka gerbang lebar-lebar dan mengundang Westernisasi.

Pelan tapi pasti, Asia akan ditinggalkan dan bergabung dengan Barat. Modernisasi akan menjadi alat paling ampuh menuju Western Civilization. Suka atau tidak suka, dengan halus atau cara kasar, dengan nikmat atau sengsara kiblat akan berubah. Kira-kira begitulah yang dihasilkan pertemuan itu.

Mari beralih kisah. Ketika raja-raja Jawa --dan Asia pada umumnya-- masih menganggap dirinya adalah titisan dewa yang turun di marcapada, Inggris dan Spanyol telah mengirimkan kapal-kapal dan armadanya melakukan ekspedisi ke berbagai penjuru dunia. Menaklukkan, dan selanjutnya menjajah negeri-negeri yang didarati. Ketika Raja John mengesahkan Magna Carta sebagai undang-undang yang mengakui hak-hak rakyat dan bangsawan tingkat bawah yang harus ia hormati tahun 1215, Jawa sedang diperintah Tunggul Ametung yang sebentar lagi akan digantikan Ken Arok. Bahkan ketika Raja Edward tahun 1295 memperbaiki sistem parlemen Inggris, Jawa dalam masa transisi kekuasaan dari Kertanegara di Singasari pada Raden Wijaya di Majapahit. Barat tampak lebih dulu mencatat “kebaikan” dalam sejarah ketimbang orang-orang di Timur sini.

Kenyataan itu pula yang membuat Barat merasa unggul daripada Timur. Lalu secara terus menerus, dengan mengendarai gelombang Utara, mereka menyerbu wilayah Selatan dan menjajahnya. Timur telah ditaklukkan. Pearl Harbour adalah gerbang yang membuka kesempatan serbuan kian kencang dalam dunia modern. Bahkan, ketika kita baru memasuki millenium, satu lagi peristiwa membuka gerbang dibuka lebih lebar setelah runtuhnya World Trade Center di New York sana. 11 September 2001.

Dan setelah itu, semua wilayah adalah Barat. Semua tanah adalah Amerika. “With us or againts us,” begitu presiden Amerika menyeru penduduk dunia. Barat tidak lagi Spayol dan Inggris, tapi terlebih lagi Amerika. Barat bukan saja negara, tapi gaya hidup dan peradaban manusia.

Kini satu lagi peristiwa besar akan segera menyusul pasca mulut besar Donald Trump mengumumkan Jerusalem sebagai Ibukota Israel. Dunia, sekali lagi akan dipaksa untuk mengikuti kemauan mereka. Dan di sini kita akan melihat, siap yang berdiam tanda setuju, atau siapa yang melawan untuk meluruskan. Waspada, gelombang kezaliman akan segera melanda…

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*