Tajuk

Merawat Persatuan Pasca Pilkada

Posted: 28/06/2018 at 08:00   /   by   /   comments (0)

Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak yang digelar di 171 daerah, Rabu, 13 Syawal 1439/27 Juni 2018 telah berjalan dengan aman dan lancar. Lebih dari 152 juta pemilih telah menentukan pilihan mereka dalam ajang ini.

Berdasarkan hasil perhitungan cepat (quick count) beberapa calon telah mengumumkan kemenangannya meski hasil resminya baru diumumkan pada 9 Juli mendatang. Komisioner KPU RI Viryan menyatakan, jumlah pemilih perempuan di Pilkada 2018 ini lebih banyak dibanding laki-laki.

Perkiraan beberapa pengamat yang menyatakan pilkada kali ini akan diwarnai kericuhan ternyata tidak terbukti. Dari data yang dikeluarkan Kemenkopolhukam RI, hanya ada 10 tps dari 387.586 tps di seluruh daerah yang menyelenggarakan pilkada, yang bermasalah.

Sebagaimana layaknya dalam sebuah kontestasi, tentu ada yang menang dan ada yang kalah. Namun perlu dicatat, siapapun yang menang janganlah tinggi hati dan bersikap sombong karena hakikatnya kemenangan dalam pilkada itu merupakan amanah yang berat dan pada hari kiamat nanti akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah itu. Sudah banyak kasus kepala daerah yang terkena operasi tangkap tangan (OTT) KPK karena kasus korupsi.

Sebaliknya, calon yang kalah janganlah berkecil hati karena masih banyak ajang amal shalih yang bisa dilakukan untuk masyarakat tanpa harus menjadi seorang kepala daerah. Masih banyak masalah bangsa ini yang memerlukan kerja keras semua elemen bangsa ini.
Persatuan antar semua elemen masyarakat mutlak diperlukan untuk menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang maju, sejahtera, adil, makmur dan sentosa. Dalam istilah Islamnya disebut “Baldatun toyyibatun wa robbun ghofur”.

Umat Islam sebagai mayoritas penduduk Indonesia sedikit atau banyak akan menentukan warna sejarah dan masa depan bangsa ini. Hal itu merupakan sebuah realita yang tidak dapat dibantah oleh siapapun. Sejak dahulu umat Islam berdiri paling depan mengawal kepentingan nasional dan menjadi kekuatan utama bagi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Umat Islam Indonesia dalam tubuhnya sendiri yang beraneka ragam secara etnis, budaya dan bahasa terbentang dari Aceh sampai Papua adalah wujud kemajemukan Indonesia dan inti dari ruh Bhinneka Tunggal Ika. Di balik itu semua, Islamlah yang menjadi faktor pemersatu umat Islam bahkan pengikat persatuan negeri yang permai ini.

KH. Yakhsyallah Mansur berpesan kepada seluruh umat Islam Indonesia untuk mewaspadai upaya adu domba antar sesama umat Islam dan antar sesama anak bangsa dari pilkada ini. Ustadz Yakhsyallah mengutip surah Al-Maidah ayat 8 yang menyatakan janganlah karena kebencian kita kepada seseorang membuat kita berbuat tidak adil. Tetaplah berlaku adil kepada semua orang karena itu lebih dekat kepada ketaqwaan.

Dikutip dari Minanews.net, ustadz Yakhsyallah juga mengingatkan kepada media massa untuk bekerja secara profesional dan bertanggung jawab sehinggga tidak tergelincir pada pemberitaan yang tidak berimbang, tidak adil apalagi manipulatif yang dapat merugikan seseorang atau kelompok tertentu.

Media massa diingatkan tetap menjaga integritasnya dan tidak menjadi corong pemecah belah bangsa. Pemberitaan yang tidak berimbang sering mengakibatkan kerugian pada pihak ummat Islam yang pada gilirannya akan merugikan semua pihak.

Sementara itu, ulama kondang Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) menyampaikan, dalam ajang pilkada kali ini jangan sampai umat Islam menggadaikan aqidah, merusak akhlaq serta merenggangkan ukhuwah antar sesama anak bangsa. Ia mengajak semua masyarakat untuk tetap menjaga persatuan dan akhlaq mulia.

Siapapun pemimpin yang terpilih dalam pilkada kali ini, marilah kita dukung bersama demi mewujudkan persatuan umat. Seorang pemimpin tentu tidak akan dapat bekerja maksimal tanpa dukungan dari rakyatnya.

Sebuah daerah akan menjadi maju jika memiliki pemimpin yang dicintai rakyatnya dan masyarakat tidak segan menasehati pemimpinnya apabila melakukan kesalahan.

Masyarakat perlu ingat, pilkada ini hanyalah ajang untuk memilih kepala daerah. Selebihnya, tugas lain bangsa ini yang lebih berat harus diselesaikan dan hal itu tidak akan bisa dilakukan dengan maksimal tanpa adanya persatuan dan kesatuan bangsa ini.

Semoga dalam kondisi apapun, rasa persaudaraan (ukhuwah) dan persatuan menjadi sesuatu yang masih dijunjung tinggi. Jangan sampai hanya karena mengejar kepentingan pribadi atau golongan seringkali persatuan dan persaudaraan disisihkan atau bahkan tidak digubris sama sekali.

Wallohu A’lam bish showwab...

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*