Tajuk

Mimpi Besar, Jiwa Kecil

Posted: 06/09/2017 at 08:45   /   by   /   comments (0)

18 Juni 1815. Panglima Besar Napoleon Bonaparte mengalami kekalahan besar dalam pertempuran di Waterloo. Kekalahan yang mengakhiri segala peperangan yang disulut oleh Napoleon sendiri. Kekalahan yang juga menjadi penutup sejarah Napoleon sebagai Kaisar Perancis. Napoleon dipaksa gulung tikar. Tak ada sisa. Tak ada bekas. Nyaris sirna.

Peristiwa The Battle of Waterloo ini dianalisa oleh banyak peneliti dari berbagai sudut pandang. Mengapa Napoleon Bonaparte, kaisar besar dengan kemampuan besar, membawa visi besar dengan misi besar, tumbang. Ada analisa pinggiran yang bagi penulis justru cukup kontekstual dan selalu aktual untuk dijadikan pelajaran.

Napoleon kalah dalam pertempuran itu konon katanya karena penyakit ambeien yang dideritanya kambuh. Sehingga ia tidak bisa menunggang kuda dan memimpin langsung pertempuran di garis depan. Maka ambeien itu berbuah kekalahan.

Ada cerita, pimpinan pasukan kavalerinya yang bangun kesiangan. Marshall Grouchy, komandan kavaleri pasukan Napoleon ternyata tidak biasa bangun pagi. Dan ketika ia terbangun, keadaan sudah terlalu parah untuk diperbaiki.

Ada juga tuturan yang lain, tentang pengaruh jeleknya tulisan tangan Napoleon yang mempengaruhi kesalahan interpretasi komandan-komandan tempur di lapangan. Konon, Napoleon menulis memo agar pasukannya menghadang pasukan Prussia yang datang di bawah pimpinan Marshal Blucher untuk membantu pasukan Wellington di Waterloo. Tapi karena tulisan tangan Napoleon lebih buruk dari goresan cakar ayam, maka memo dinas yang teramat penting itu terabaikan.

Bagi penulis, meski terasa guyonan, kisah-kisah di atas menyumbang pelajaran besar. Untuk kita, yang konon mengemban visi besar tentang kemenangan dakwah. Seringkali kita berujar dengan gagah perkasa bahwa kita sedang memperjuangkan hal-hal besar, ide-ide peradaban dan target-target jangka panjang. Tapi setiap hari justru kita disuguhi oleh pemandangan dan kenyataan betapa kita abai pada hal-hal kecil yang sering kita anggap rutin.

Hitung saja di sekitar kita, berapa banyak ustadz, kiai, pejuang dakwah yang abai dan tak ambil pusing dengan kesehatannya. Dia bicara tentang peradaban besar, tapi dia lupa tentang perkara-perkara ”kecil” seperti kesehatan, olahraga, serta kebiasaan baik lainnya. Betapa banyak para ustadz kita, yang usianya masih tergolong muda, terkena beragam penyakit yang menjeratnya. Ustadz dan kiai, biasanya tak jauh-jauh dari penyakit yang ditimbulkan oleh gaya hidup. Mereka terserang asam urat, mereka mengeluh tentang gula darah yang tinggi, mereka terkendala karena aktivitas jantung yang harus dijaga, dan banyak lagi. Mana mungkin agama dan kemenangan dakwah ini ditegakkan oleh orang-orang yang tak sehat badan dan jiwanya?! Mana bisa dakwah yang berat dan panjang ini diusung oleh prajurit-prajurit dengan penyakit kencing manis, asam urat dan gejala serangan jantung yang mengancam badannya?!

Begitu juga dengan kisah kedua dari Napoleon yang harus kita ambil hikmahnya. Bangun kesiangan, telat merespon keadaan dan keperluan. Urgensi memelihara kebiasaan-kebiasaan baik yang kecil-kecil adalah, melatih respon kita ketika saatnya tiba. Kita sering telah merespon masalah umat. Para pemimpin dakwah di negeri ini, seharusnya bukan hanya mampu bereaksi, tapi harus pula mampu mengantisipasi.

Masihkah hari ini, dengan tuntutan dakwah dan perjuangan yang semakin berat, kita tetap istiqamah dengan kebiasaan-kebiasaan baik yang kecil? Seperti menyapa orang-orang yang tidak kita kenal di pinggir jalan. Sekadar say hello, tak jadi soal. Masih jugakah kita menengok sahabat-sahabat lama yang hilang dari peredaran. Atau sekadar berkirim SMS tanda rindu dan sayang. Bahkan kebiasaan yang sangat sederhana, bercanda dengan anak-anak dan keluarga di rumah untuk meningkatkan kualitas hubungan. Jangan-jangan kita terlalu sibuk dengan urusan-urusan yang besar, lalu abai pada perihal remeh temeh yang kita anggap tak penting dan tak ada urusan.

Kisah terakhir, tentang kualitas komunikasi kita, sudahkah pada tingkat yang prima? Jangan hanya karena tulisan yang mirip cakar ayam, lalu kita kalah dalam perang. Jangan hanya karena komunikasi yang tak jelas, lalu pesan-pesan penting tak tersampaikan. Lalu karena ketidakjelasan pesan, kita berkutat, bertengkar, menghabiskan energi pada sesuatu yang sesungguhnya bukan persoalan.

Janganlah kita menjadi orang-orang yang berjenggot panjang, tapi bernapas pendek. Sebab, perjuangan ini menuntut stamina yang besar. Janganlah kita menjadi orang-orang yang abai pada hal-hal yang kecil. Sebab, dakwah ini seperti menyatukan kepingan puzzle yang berukuran sangat kecil.

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*