Tajuk

Mulia dengan Sedekah

Posted: 13/05/2017 at 09:30   /   by   /   comments (0)

Setiap kali menghadapi situasi genting dalam peperangan, Rasulullah melakukan banyak hal. Mulai dari merancang strategi, hingga memotivasi pasukan Muslimin untuk turun ke medan jihad. Salah satu bentuk motivasi yang selalu dilakukan Rasulullah adalah memobilisasi dana perang dengan cara mengumpulkan harta dari kaum Muslimin.

Dalam salah satu perangnya, Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk bersedekah di jalan jihad. Semua orang berlomba-lomba memberikan harta dan hasil kebun mereka. Ada yang menyerahkan seluruh harta dan kekayaannya. Ada yang memberikan sepertiga dari seluruh yang dimiliki. Bahkan ada yang menyumbang segenggam kurma, karena hanya itu yang dimilikinya.

Di antara kaum Muslimin yang berlomba memberikan hartanya di jalan Allah, ternyata ada seorang lelaki yang dirundung gundah. Ia tak memiliki apapun, meski hanya segenggam kurma untuk disumbangkan pada pasukan demi persiapan perang. Bahkan ia tak memiliki hewan tunggangan dan peralatan perang, untuk dapat berjihad bersama Rasulullah saw.

Lalu di tengah keheningan malam, ia berdiri dalam shalatnya dan menangis mengiba pada Allah. Lelaki itu bernama Ulbah bin Zayd.

Dalam tangisnya ia menyeru, “Ya Allah, Engkau telah memerintahkan kepada kami untuk berjihad. Dan aku dengan senang menyambutnya. Tapi tidak Engkau jadikan sesuatu padaku yang bisa memperkuat aku bersama rasul-Mu. Malam ini aku ingin bersedekah kepada setiap Muslim dengan setiap kehormatan yang aku miliki.”

Setelah memanjatkan doa yang tak biasa itu, Ulbah bin Zayd menceritakannya pada Rasulullah saw. Kemudian, pada hari berikutnya selepas shalat Subuh yang penuh berkah Rasulullah bersabda, “Engkaukah yang bersedekah dengan kehormatanmu? Allau telah menerima sedekah darimu.” (HR Al Bazzar)

Kisah di atas sesungguhnya memberikan pertanyaan lain pada kita, sungguhkah kita tak memiliki sesuatu? Benarkah kita tak punya apa-apa sehingga seringkali berkilah ketika datang kewajiban untuk berbuat atau memberi?

Setiap kita selalu memiliki sesuatu. Meski kecil, meski sedikit, kita selalu memiliki sesuatu untuk diberikan, untuk disumbangkan, untuk diabdikan. Kita memiliki kehormatan seperti Ulbah bin Zayd, yang dengan kehormatan itu kita bisa melakukan banyak hal. Kita memiliki hati yang luas, dan dengan keluasannya kita mampu menampung keluh kesah saudara kita yang memerlukan tempat untuk bercerita. Bahkan kita memiliki senyum, yang dengan senyum itu kita bisa membahagiakan orang lain di sekitar kita.

“Tabassumuka ‘alaa wajhi akhika shadaqatun,” begitu sabda Rasulullah. Senyum yang mengembang di wajah untuk saudara kita adalah sebuah sedekah.

“Idkhaalus suruuri shadaqatun,” sabda Rasulullah lagi. Memberikan kegembiraan pada orang lain, juga sedekah besar yang tidak ringan timbangannya. Sepertinya negeri ini memerlukan uluran tangan kita. Sedekah untuk Indonesia…

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*