Tajuk

Pemuda dan Media Sosial

Posted: 30/10/2018 at 08:00   /   by   /   comments (0)

Pada 2016 data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa jumlah pemuda Indonesia mencapai 62.061.400 jiwa. Jadi bisa dikatakan 1 dari 4 orang adalah pemuda. Angka ini akan terus merangkak naik setiap tahunnya. Dilihat secara kuantitas tentu jumlah ini sangatlah besar.

Untuk mengarah pada perubahan yang baik, angkatan muda yang jumlahnya besar ini harus dididik, dilatih, disiapkan segala keahlian dan keterampilan, sehingga pemuda memulai peranannya, tidak hanya sekedar perubahan yang reaksioner tetapi dengan design yang jauh ke depan serta terukur dengan baik, mengikuti perkembangan zaman yang semakin modern.

Salah satu ‘kebanggaan’ abad ini adalah mengguritanya media sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Semua elemen masyarakat, tua, muda, pelajar ataupun pemuda semua merasakan sentuhan dari kemajuan ini. Dengan perkembangan ini, media sosial menjadi salah satu elemen penting yang tak terpisahkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJJI) pada 2017 lalu sebanyak 132.7 juta masyarakat Indonesia menggunakan jasa internet. Untuk usia remaja 23,8 juta jiwa. Dengan angka yang cukup fantastis ini membuat Indonesia berada dalam lingkaran media sosial, karena setengah dari penduduknya mengunakan jasa media sosial dalam berkomunikasi dan memperoleh informasi.

Data di atas juga menunjukkan pengguna media sosial untuk kalangan remaja tak kalah besarnya, dengan angka 23,8 juta jiwa atau hampir 18 persen dari penduduk Indonesia. Ini membuktikan bahwa media sosial turut mengambil peran dalam membentuk karakter generasi muda, ditambah dengan dampak yang begitu signifikan dilihat dari sisi positif maupun negatifnya.

Dampak positif yang bisa kita lihat dari menggunakan internet atau media sosial bagi generasi muda yaitu, mereka dapat belajar meningkatkan dan mengembangkan keterampilan teknis dan sosial yang memang sangat dibutuhkan dalam zaman digital atau dikenal pula zaman milenial ini.

Di sisi lain, kecenderungan bersikap acuh terhadap situasi di sekitar juga semakin tinggi. Belum lagi budaya membaca masyarakat Indonesia yang kian hari kian tergerus. Secara kuantitas saja, masyarakat yang gemar membaca sangat memprihatinkan, bagaimana jika diukur secara kualitasnya?.
Menurut sebuah penelitian mengenai minat baca dan peringkat literasi internasional yang dilakukan oleh UNESCO pada 2016 lalu menunjukkan, Indonesia dalam hal minat baca dan literasi, menduduki posisi satu strip di atas juru kunci dari 61 negara yang diteliti.

Masih merujuk penelitian yang dilakukan UNESCO, lembaga milik PBB tersebut menyebut jika minat baca masyarakat Indonesia berada di angka 0,001 persen. Artinya, dari seribu orang, hanya satu di antaranya yang memiliki kebiasaan membaca. Benar-benar memprihatinkan.

Hampir sama dengan temuan UNESCO, data Perpustakaan Nasional (Perpusnas) tahun 2017 menyebutkan, frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata hanya tiga sampai empat kali perpekan. Sementara jumlah buku yang dibaca rata-rata hanya lima hingga sembilan buku pertahun.

Hasil dari dua temuan ini cukup menyedihkan bagi semua kalangan. Banyak yang menerka-nerka, apa sebetulnya penyebab rendahnya minat baca masyarakat Indonesia ini, khususnya kalangan pemuda. Beberapa ulasan di media cetak dan online menyebut, masyarakat Indonesia lebih senang berselancar di media sosial ketimbang membaca buku.

Dalam rangka memperingati 90 tahun Sumpah Pemuda, sudah sewajarnya pemuda Indonesia mengembalikan budaya membaca, mulai berinovasi, dan berpikir maju. Sebab, peranan pemuda begitu penting dalam menatap masa depan Indonesia. Terlebih saat ini sedang dicanangkan Indonesia berkemajuan dalam beberapa tahun mendatang.

Wallohu'alam...

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*