Tajuk

Perang Media Terbuka

Posted: 10/12/2018 at 08:00   /   by   /   comments (0)

Selama ini, umat Islam selalu diingatkan bahwa sedang terjadi perang antara mereka dengan orang-orang kafir di segala lini. Salah satunya adalah perang media, antara media-media yang dimiliki oleh orang-orang kafir dan sekuler dengan media Islam yang jumlah dan kebesarannya masih sangat terbatas.

Selama ini, umat hanya disugukan cerita bahwa ada peperangan yang melibatkan media-media, tanpa secara gamblang menunjuk hidung media mana saja yang berdiri di kubu musuh.

Pada beberapa kesempatan, pemetaan memang sudah tergambar, tetapi masih di atas kertas dan sifatnya masih teori pengamat.

Namun, pada hari Ahad 2 Desember 2018, tejadi perkembangan mengejutkan dalam perang media. Di hari yang ada peristiwa Reuni 212 di Monas Jakarta itu, “Perang Media Terbuka” telah dideklarasikan.

Di hari bersejarah itulah, ketika lebih 11 juta umat Islam bersatu dalam kebersamaan dalam acara Reuni 212 2018, secara terang-terangan semua jenis media yang ada di Indonesia memperlihatkan posisinya. Para media dengan terbuka mendeklarasikan diri keberpihakannya, ada yang proumat dan ada yang antiumat Islam.

Di hari itulah, peta kekuatan pasukan media umat dan musuh tergambar dengan jelas. Bukan lagi sekedar cerita dan teori saja yang didengar oleh umat tentang perang media, tetapi umat menyaksikan langsung terjadinya perang media di Indonesia pada tanggal 2 Desember itu. Seluruh rakyat Indonesia bisa menyaksikan langsung kekuatan armada kedua kubu.

Sikap vulgar dari media-media utama di hari itu menunjukkan peta perang antara media mainstream melawan media kecil, perang antara media penguasa melawan media rakyat.

Dari semua media televisi yang ada di Indonesia, hanya TV One yang memiliki kebijakan untuk menayangkan aksi lebih 11 juta massa yang berkumpul di hari itu, bahkan secara khusus disiarkan langsung. Jadi dapat disimpulkan, media utama jenis visual yang proumat hanya satu, yaitu TV One. Stasiun televisi pemerintah dan lainnya dengan jelas-jelas bersikap antiumat Islam.

Demikian pula di media cetak, audio hingga di media online. Hampir semua media-media besar dengan terang-terangan memboikot pemberitaan Reuni 212.

Media-media utama mencoba menghilangkan sejarah berkumpulnya lebih 11 juta umat Islam dalam kedamaian di Monas Jakarta dengan cara tidak menyiarkannya. Namun, usaha itu tetap gagal total karena masih ada media-media yang berakal sehat yang tidak bisa didikte dengan uang dan kekuasaan, masih ada media-media yang Islam yang meskipun kecil tapi semangat bela Islamnya sangat tinggi.

Setelah 2 Desember, perang terbuka ternyata terus berlanjut. Sehari kemudian, di sisi lain wilayah Indonesia, yaitu Kabupaten Nduga, Papua, terjadi penembakan terhadap pos TNI yang menewaskan 19 pekerja sipil dan seorang tentara.

Penembakan dilakukan oleh kelompok teroris Papua yang ingin memberontak dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penyerangan itu seketika menjadi berita utama nyaris di seluruh media. Dari pemberitaan itu, media mana yang berani menyebut kelompok Papua bersenjata itu dengan sebutan “teroris”. Mengikuti pemerintah yang fobia terhadap istilah khilafah dan jihad, maka media-media utama yang tadinya antiumat menyebut mereka KKB, yang kepanjangannya adalah kelompok kriminal bersenjata.

Secara tidak langsung, istilah yang disematkan pemerintah dan media kepada para peberontak di Papua itu telah mengelompokkan jenis orang bersenjata. Jika pelaku penyerangan bersenjata seorang atau kelompok yang beragama Islam, maka dia disebut “teroris”. Jika pelaku penyerangan bersenjata seorang atau kelompok yang beragama non-Islam, maka dia disebut kriminal atau istilah yang lebih halus lainnya.

Maka, media-media anti-Islam akan menaikkan berita tentang latar belakang KKB yang berasal dari warga yang baik hati dan justru menyalahkan kehadiran TNI di Tanah Papua. Mereka memberitakan bahwa sasaran sesungguhnya adalah aparat, bukan pekerja sipil. Bahkan untuk menghindari sebutan “teroris”, media juga membuat tulisan perbedaan KKB dan teroris.

Akan berbeda jika pelaku penyerangan adalah seorang Muslim, label “teroris” begitu lekat disematkan, koneksi jaringan dengan ISIS atau Al-Qaeda akan dimunculkan, dan perilaku tidak umumnya akan ditonjolkan dalam pemberitaan. Meskipun terkadang, orang yang ditembak mati oleh Densus88 statusnya baru terduga “teroris”.

Dari dua peristiwa besar tersebut, Reuni 212 2018 dan penembakan di Nduga, terlihat nyata bahwa era Perang Media Terbuka telah berlangsung.

Meski umat Islam saat ini hanya mengandalkan satu tv besar, tetapi perlu diketahui, jaringan televisi Islam menjamur di mana-mana, radio-radio Islam mengudara di mana-mana, dan media-media online Islam pun tumbuh di mana-mana. Tidak hanya itu, jutaan aktivis media sosial yang Muslim bergerilya secara militan, turut andil besar dalam peperangan zaman now ini.

Maka, mari biarkan media-media anti-Islam hancur di dalam kejahatannya. Dan mari dukung media-media pro umat untuk menjadi pasukan elit di ranah informasi teknologi ini.

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website