Tajuk

Pernikahan Indonesia-Palestina Kokohkan Persaudaraan dan Persatuan

Posted: 16/07/2018 at 15:13   /   by   /   comments (0)

Ahad pagi kemarin di kota Semarang, tepatnya 2 Dhul-Qo’dah 1439 atau 15 Juli 2018, terjadi satu peristiwa bersejarah, yaitu menikahnya seorang pemuda Palestina bernama Muhamed Al-Massri bin Yahya Mustafa dengan muslimah Indonesia bernama Zulfa Salsabila binti H. Al-Farobi.

Pernikahan bersejarah itu menyatukan dua insan berbeda bangsa, etnis, suku, yang berjarak ribuan kilo meter jauhnya. Dengan kedekatan iman dan suasana persaudaraan nan syahdu, akad nikah pun dilaksanakan dengan penuh kekhusyukan.

Upacara akad diselenggarakan di Masjid Al-Hikmah, kota Semarang. Masjid yang menjadi saksi perjuangan sekaligus benteng para syuhada dalam peristiwa pertempuran Lima Hari Semarang.

Masjid itu juga menjadi saksi dan sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk mendukung kemerdekaan rakyat Palestina. Pasalnya, sudah banyak tokoh-tokoh Palestina, bahkan Imaam Masjid Al-Aqsha, Syaikh Mustafa Tawil beberapa kali berkhotbah di masjid tersebut.

Pagi itu, suasana masjid penuh sesak oleh ribuah jamaah yang ingin menyaksikan ijab kabul pernikahan bersejarah itu.
Mempelai pria didampingi oleh Sekretaris 1 Duta Besar Palestina untuk Indonesia H.E. Taher Hammad dan guru besar Universitas Al-Quds di Gaza, Palestina, Prof DR. Mahmoud Anbar.

Pernikahan Indonesia-Palestina ini merupakan kali ketiga setelah sebelumnya pemuda Indonesia Abdillah Onim dan Muhammad Husein mempersunting putri Palestina di Gaza.

Ustadz Yakhsyallah Mansur dalam nasihat pernikahannya menyampaikan, pernikahan merupakan salah satu upaya mempersaudarakan antar suku, bangsa dan etnis, sebagaimana Rasulullah Muhammad Shallalallahu ‘Alaihi Wasalam menikahkan para sahabatnya yang berbeda suku dan budaya. Bahkan untuk memuliakan salah satu suku yang kalah dalam peperangan, Rasulullah mempersunting anak dari kepala suku itu agar mereka dapat berdiri setara dan tidak merasa terhina karena kalah dalam perang.

Sementara itu, ayahanda Zulfa Salsabila sekaligus wali dari mempelai wanita berharap, pernikahan itu dapat menjadi momentum bersejarah dalam peningkatan hubungan persaudaraan antara Indonesia dan Palestina, serta menjadi bukti sejarah bahwa umat Islam di mana pun berada bisa bersatu meski berbeda suku, etnis, bangsa bahkan berjarak ribuan kilo meter jauhnya.

Ia berharap dengan pernikahan putrinya itu melahirkan generasi-generasi yang mengharumkan nama bangsa Indonesia dan Paletina, juga Agama Islam yang mengajarkan kasih sayang, persaudaraan tanpa dibatasi oleh sekat-sekat terirotial dan kebangsaan.

Sementara Prof. Mahmoud Anbar dalam sambutannya mewakili keluarga mempelai laki-laki mengatakan, kita disatukan oleh sejarah dan juga akidah, sehingga antara Indonesai dan Palestina, kita semua satu, dengan Tuhan yang satu, kitab Al-Quran yang satu, kiblat yang satu dan nabi kita pun satu.

Mengenai perjalanan Muhamed Al-Masri, pada tahun 2015, ia mulanya ingin melanjutkan kuliah ke Turki setelah mendapat beasiswa dari sebuah lembaga di negara itu. Namun ketika di Turki, ternyata berita informasi beasiswa dinyatakan berita bohong. Ia pun harus pulang ke Gaza tanpa membawa hasil yang diharapkan.

Malangnya, sampai di Kairo, ia tidak diperbolehkan melewati pintu Rafah lagi karena kondisi keamanan Mesir yang tidak stabil. Selanjutnya, pihak bandara menawarkan ia untuk memilih ke Indonesia atau Malaysia, karena ia tidak boleh berlama-lama di bandara Kairo. Akhirnya ia memilih Indonesia karena ia tahu Negara Indonesia berpenduduk mayoritas Muslim dan dikenal keramah-tamahannya.

Di Bandara Soekarno-Hatta ia pun bingung, karena di Jakarta tidak ada teman, handai taulan, kerabat, apalagi sanak saudara. Yang ia tahu hanyalah Masjid Istiqlal, masjid terbesar di Asia Tenggara yang nama besarnya bergaung hingga ke bumi Palestina.

Masri selama dua pekan di Istiqlal, ia tak kunjung menemukan rekan untuk berbagi cerita. Akhirnya, informasi keberadaan Massri di Jakarta diketahui oleh Muhammad Husein, seorang relawan Indonesia yang telah lama tinggal dan menetap di Gaza. Lantas ia menginformasikan kepada keluarganya di Pesantren Al-Fatah Cileungsi Bogor untuk menyantuni Al-Massri sebagai bentuk persaudaraannya. Sejak saat itu, Al-Massri pun tinggal di Pesantren Al-Fatah.
Hari, bulan dan tahun bergulir, akhirnya Masri menemukan jodohnya.

Seorang pengusaha yang terkenal dengan kedermawanan dan semangat perjuangannya membela Palestina, orang asli Kota Semarang, yaitu Bapak H. Al Farabi, memilihnya untuk dijodohkan kepada putri pertamanya, Zulfa Salsabila.
Salsa adalah gadis yang telah menamatkan studinya di fakultas hukum Universitas Sultan Agung Semarang.

Setelah akad nikah di hari Ahad itu, kedunya pun mantap untuk membangun biduk rumah tangga bersama dengan semangat perjuangan Palestina dan pembebasan Masjid Al-Aqsha.

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*