Tajuk

Pesan Untuk Tuan Presiden

Posted: 24/08/2016 at 11:07   /   by   /   comments (1)

Indonesia yang malang! Setiap orang berebut untuk mengambil keuntungan. Selagi sempat, selagi luang dan punya jabatan. Kalau dulu ada istilah Indonesia for Sale, lalu seiring waktu sebutan berubah, Indonesia for Steal. Setelah Indonesia untuk dijual, lalu Indonesia untuk dicuri, kini Indonesia untuk dirampas, dibawa lari, dan menghilang.

Tuan Presiden Jokowi, apakah Anda bisa tidur dengan semua yang terjadi? Narkoba merajalela, korupsi dimana-mana, dari atas hingga bawah, harga naik setinggi-tingginya, sementara ekonomi selemah-lemahnya. Anda mendengar rintihan rakyat yang Anda pimpin?

Sekali lagi, Tuan Presiden. Apakah Anda bisa tidur memikirkan siapa-siapa orang-orang yang mengeliling Anda, bekerja bersama Anda, dan membantu Anda? Kalau Anda bisa tidur, syukurlah. Karena seharusnya Anda tidak bisa tidur dengan itu semua!

Kami punya kisah untuk Anda, Tuan Presiden yang mulia. Dulu sekali, dalam sejarah ada seorang raja bernama Umar bin Abdul Aziz. Ini bukan hanya sekadar kisah, tapi ini contoh dan peristiwa yang pernah terjadi sesungguhnya. Dia, Umar bin Abdul Aziz, memerintah hanya sebentar saja. Pada saat diangkat sumpah, dia berjanji, ”Demi Allah aku akan menegakkan keadilan di bumi ini meski usia jabatanku hanya tiga hari saja.”

Dan betul, beliau tidak lama. Kurang lebih beliau berkuasa hampir tiga tahun. Tapi yang pasti, dia sungguh-sungguh menegakkan keadilan. Kami ingin mengingatkan, Tuan Presiden, kini Anda sudah berkuasa untuk penggal tahun yang kedua.

Masa kepemimpinan yang diwarisinya, bukan situasi nyaman dan penuh suka cita. Umar bin Abdul Aziz mewarisi suasana yang tak kalah chaotic dengan situasi yang Anda alami saat ini, Tuan Presiden. Tapi dia bersungguh-sungguh dengan sumpah dan janji yang diucapkannya, ”Aku akan menegakkan keadilan di muka bumi, meski usia jabatanku hanya tiga hari.”

Dia meminta istrinya untuk menyerahkan seluruh harta pribadi yang dimiliki. Dia mematikan lampu pada saat berbincang dengan sanak keluarga, karena minyak yang dipakai milik negara. Dia memikul sendiri bantuan-bantuan yang diberikan, untuk teladan sempurna. Itu kisah yang sudah biasa kita dengar tentang Presiden Umar bin Abdul Aziz.

Yang tidak sering kita dengar, Tuan Presiden, Umar bin Abdul Aziz menebus janjinya sendiri dengan satu-satunya nyawa yang dia punya. Dia jarang tidur untuk memikirkan negara dan rakyatnya. Bahkan ketika dia sedang penat berat, dan hendak terlelap. Pernah suatu ketika, seorang anaknya mengadukan urusan negara pada Umar bin Abdul Aziz. Lalu kata sang presiden, ia meminta anaknya menemuinya lagi setelah ia istirahat sebentar. Lalu sang anak menjawab, ”Siapa yang menjaminmu akan bangun dan hidup untuk menyelesaikan masalah ini?!”

Anda tahu Tuan Presiden? Umar bin Abdul Aziz begitu terpukul dengan kalimat ini. Dia merasa, lalai dan tak tahu diri. Siapa dia yang merasa yakin akan bangun dan masih bernyawa!

Daerah kekuasaannya membentang luas, dari seluruh jazirah Arabia, Syam ( Palestina, Yordania, Syria ), Persia ( Iran, Irak dan sekitarnya ), Afrika Utara, seluruh semenanjung Iberia ( Spanyol dan Portugal) bahkan hingga ke Sisilia (kepulauan di Laut Tengah, sekarang milik Italia).

Kekuasaan Anda juga sangat luas, Tuan Presiden. Seluruh pulau di Indonesia, lebih dari 16 ribu jumlahnya. Membentang panjang dengan hampir 300 juta penduduknya. Jadi pertanyaan saya, apakah Anda masih bisa tidur Tuan Presiden?

Umar bin Abdul Aziz, duduk sebagai Amirul Mukminin hanya dalam kurun waktu 2 tahun, 5 bulan, dan 5 hari. Ia menjadi pemimpin pada saat usianya 36 tahun. Usia puncak bagi seorang manusia. Sehat, bertenaga, kuat, bersemangat.
Dalam kurun waktu 2 tahun, 5 bulan, dan 5 hari itu, dia berhasil membuat perubahan besar dalam tata pemerintahan. Tidak ada lagi kemiskinan, Tuan Presiden. Tidak ada lagi orang yang layak menerima zakat. Bahkan harta zakat bertumpuk menggunung, malah perlu diiklankan untuk siapa saja yang mau menerima, semisal seorang pemuda yang tak mampu menikah akan dinikahkan oleh negara.

Pada masa pemerintahannya, sumur-sumur diperbaiki, lahan-lahan mati dihidupkan kembali, tanah sangat produktif, masjid-masjid juga disemarakkan oleh berbagai rencana dan rancangan kehidupan.

Kami juga yakin, Tuan Presiden, Anda melakukannya juga. Kami yakin, tentang jenisnya, tapi kami tidak yakin tentang ukuran dan intensitasnya. Karena itu, pertanyaan kami adalah, masih bisakah Anda tidur, Tuan Presiden?

Umar bin Abdul Aziz, meninggal dalam usia muda, Tuan Presiden. Di akhir usianya, dia sakit-sakitan. Badannya dulu yang muda dan gagah ketika naik tahta, menjadi kurus, kering dan hampir tak bertenaga. Dan itulah yang dia tebus dalam rangka menegakkan keadilan, mensejahterahkan rakyat, memakmurkan negeri dan memuliakan kemanusiaan.

Banyak orang yang lupa mengkajinya, Tuan Presiden. Bahwa Umar bin Abdul Aziz menderita kesakitan yang luar biasa hebat sebagai tebusan kemakmuran dan kemuliaan atas tanah dan manusia yang dipimpinnya. Dia telah memberikan seluruh nyawanya untuk memimpin negara. Dia memberikan seluruh raganya untuk memimpin negara. Dia memberikan seluruh tenaganya untuk memimpin negara. Dia memberikan seluruh kemampuannya untuk memimpin negara. Bahkan dia telah menukar waktunya untuk istirahat demi memimpin negara. Karena itu semua, namanya masih kita bicarakan ratusan tahun setelah dia dikuburkan. Terima kasih, Tuan Presiden, mudah-mudahan Anda mendengar nasihat pendek ini sebagai tanda rindu kami pada pemimpin yang tidak dikelilingi orang-orang yang hanya membuat Anda senang!

(Visited 576 times, 1 visits today)

Comments (1)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*

  • 24/08/2016 at 20:42 Ahmad Sugiharto

    Subhanallah… Mudah2an ada yang membawa tulisan ini untuk dibaca Tuan Presiden. Tidak lain, untuk mengingatkan beliau sebagai pemimpin negara yang kita cintai.

    Reply