Tajuk

Popularitas Yang Menipu

Posted: 31/08/2017 at 08:15   /   by   /   comments (0)

Popularitas, pengagum dan pengikut, seringkali membuat orang-orang terjerembab, sebelum sampai pada tujuan akhirnya. Pengikut yang mengeluk-elukkan, seringkali membuat kita lupa apa yang sebenarnya diperjuangkan. Puja-puji dari pengagum, tak jarang hanya memberikan kebanggaan semua yang cepat sirna. Begitu juga popularitas yang melambung, ada waktunya akan kembali seperti semula.

Kejernihan pandangan dan kedalaman berpikir sangat diperlukan agar terhindar dari infeksi virus, polularitas, pengagum dan pengikut.

Zaman dahulu, ada seorang ulama dengan murid yang luar biasa banyak. Para murid tersebut menjadi pengikut dan pengagumnya. Mereka bahkan membangun identitas sendiri, dengan memakai baju dan atribut yang sama saat menghadiri pengajian dari ulama mereka. Sampai suatu hari, karena banyaknya para jamaah, ujian fitnah pun datang pada sang ulama.

Sang ulama dituduh sedang menyiapkan makar dan kudeta hendak menggulingkan pemerintah. Dan ditangkaplah sang guru agama itu dengan tuduhan subversi. Kepada panglima bersenjata, sang ulama berkata. Anda salah jika menangkap saya dengan tuduhan akan kudeta bersama para pengikut dan jamaah saya. Saya tak punya pengikut, apalagi jamaah. Saya hanya memiliki pendukung, seorang laki-laki, dan sepotong laki-laki. Itu saja, kata sang ulama.

Sang panglima tak percaya. Dan untuk membuktikan, sang ulama menyarankan agar mereka memainkan sandiwara. Pemerintah mengumumkan bahwa guru agama, sejak hari ini ditangkap oleh penguasa. Keesokan harinya, para murid, pengikut dan pengagum, berkumpul di depan istana. Lengkap dengan baju dan atributnya. Sang panglima sudah mulai resah, karena jumlah mereka semakin bertambah. Lalu ulama memberikan perintah, agar panglima mengeluarkan ancamannya. Siapa saja yang membantu, menolong atau membela ulama, akan dijatuhi hukuman dan penjara.

Prajurit segera disiagakan dengan tombak dan pedang terhunus. Dan satu per satu, para jamaah yang memakai seragam dan atribut pun meninggalkan arena. Mereka pergi, tak jadi membela ulamanya. Tiba-tiba, ada seorang di antara mereka yang maju dengan membawa tongkat menghadapi prajurit yang siaga. Di depan prajurit jaga, ia berkata, biarkan aku menemui guruku, jika tidak ingin kau mati ditanganku.

Lalu ia diizinkan masuk menemui panglima dan gurunya. Pada panglima, sang ulama berkata. Ini seorang laki-laki yang aku sebutkan. Menemui gurunya tak kurang suatu apa, lelaki itu pun kembali pulang ke rumahnya. Kini kita tunggu lelaki yang sepotong.

Dari kejauhan, nampak seorang laki-laki ingin menerobos pasukan. Tapi ketika sudah berada di depan tentara bersenjata, melihat tombak dan pedang yang menyilaukan mata, nyalinya ciut, lalu mundur beringsut. Tapi ia kembali lagi saat mengingat sang guru harus dibela. Tapi ia juga mundur lagi saat tombak digerakkan oleh penjaga. Dari balik jendela, sang ulama berkata pada panglima. Itu sepotong lelaki yang aku bilang. Seorang lelaki tanpa keberanian. Dua orang itulah pengikutku. Selebihnya adalah penggembira.

Karenanya, jangan tertipu pada jumlah. Jangan pula terlena oleh bentuk dan wajah. Sejatinya, hal yang membuat kita bertahan hanya dua, kejernihan melihat dan kedalaman memikirkan semua fenomena.

(Visited 46 times, 1 visits today)

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*