Tajuk

SAKARATUL MAUT

Posted: 23/03/2018 at 09:13   /   by   /   comments (0)

Jumat barokah,,, marilah kita merenung tentang kematian. Allah SWT berfirman dalam Quran surat Al-Anfal ayat 50, yang artinya :

“Kalau sekiranya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata, “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar.” (niscaya kamu akan merasa sangat ngeri).
Cara Malaikat Izrail menc

Cabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang yang bersangkutan, bila orang yang akan meninggal dunia itu durhaka kepada Allah, maka Malaikat Izrail mencabut nyawa secara kasar. Sebaliknya, bila terhadap orang yang soleh, cara mencabutnya dengan lemah lembut dan dengan hati-hati.

Namun demikian peristiwa terpisahnya nyawa dengan raga tetap teramat menyakitkan. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, “Sakitnya sakaratul maut itu, seperti tiga ratus kali sakitnya tusukan pedang”. (H.R. Ibnu Abu Dunya).

Di dalam kisah Nabi Idris ‘Alahissalam, beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan shalat sampai puluhan raka’at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris ‘Alahissalam yang sedemikian banyak, setiap malam naik ke langit.

Hal itulah yang sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail. Maka bermohonlah ia kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris ‘Alaihissalam di dunia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala, mengabulkan permohonan Malaikat Izrail, maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan, dan bertamu kerumah Nabi Idris.

Nabi Idris ‘Alahissalam sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu ke rumahnya itu adalah Malaikat Izrail. Seperti tamu yang lain, Nabi Idris ‘Alahissalam melayani Malaikat Izrail, dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris ‘Alahissalam mengajaknya makan bersama, namun di tolak oleh Malaikat Izrail. Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris ‘Alahissalam mengkhususkan waktunya “menghadap” Allah SWT. sampai keesokan harinya, semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja.

Pada suatu hari yang cerah, Nabi Idris ‘Alahissalam mengajak jalan-jalan “tamunya” itu ke sebuah perkebunan yang pohon-pohonnya sedang berbuah, ranum dan menggiurkan. Di tengah perkebunan, malaikat Izrail menguji Nabi Idris ‘Alaihissalam dengan berkata “Izinkanlah saya memetik buah-buahan ini untuk kita,” pinta Malaikat Izrail.
“Buah-buahan ini bukan milik kita”. jawab Nabi Idris ‘Alahissalam. Kemudian beliau berkata: “Semalam anda menolak makanan yang halal, kini anda menginginkan makanan yang haram”. Malaikat Izrail tidak menjawab.
Nabi Idris ‘Alahissalam memperhatikan wajah tamunya yang tidak merasa bersalah. Diam-diam beliau penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu.

“Siapakah engkau sebenarnya ?” tanya Nabi Idris ‘Alahissalam “Aku Malaikat Izrail”. Jawab Malaikat Izrail. Nabi Idris ‘Alahissalam terkejut, hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya. “Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku ?” selidik Nabi Idris ‘Alahissalam serius. “Tidak,, atas izin Allah, aku sekedar berziarah kepadamu”. Jawab Malaikat Izrail. Nabi Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian beliau hanya terdiam. “Aku punya keinginan kepadamu”. Tutur Nabi Idris ‘Alahissalam, “Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku”. Pinta Nabi Idris ‘Alahissalam. Malaikat Izrail pun menjawab “Tanpa seizin Allah, aku tak dapat melakukannya”.

Namun, pada saat itu pula Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris ‘Alahissalam. Dengan izin Allah Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris ‘Alahissalam. sesudah itu beliau wafat. Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menghidupkan Nabi Idris ‘Alahissalam kembali. Allah pun mengabulkan permohonannya. Selanjutnya Malaikat Izrail bertanya kepada Nabi Idris, “Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku?” jawaban Nabi Idris adalah “Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup yang dikuliti”. Malaikat Izrail berkata “padahal caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu”.

Saudaraku, itulah sepenggal kisah sakratul maut yang dialami oleh Nabi Idris ‘Alahissalam. Lalu bagaimana jika sakratul maut itu terjadi dengan kita? Sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menghadapi sakaratul maut?
Imam Ghozali mengutip atsar Al Hasan mengatakan, “Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri”.

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*