Tajuk

Shalawat Tarhim

Posted: 12/09/2018 at 08:00   /   by   /   comments (0)

Asshalatu wassalamun ‘alaik, ya imamal mujahidin, ya Rasulallah
Ashalatu wassalamun ‘alaik, ya nashiral huda ya khaira kholqilllah

Tak terbilang kerinduan yang disulut bait-bait tersebut. Buat sebagian masyarakat Indonesia, ini bisa jadi memicu kenangan soal kampung halaman. Saat jadi pertanda untuk bangun kala subuh maupun berhenti bermain untuk bersiap ke langgar atau mushala dan masjid terdekat. Buat lainnya, seperti persis yang dimaksudkan bait-bait itu, ia memunculkan kerinduan mendalam terhadap junjungan, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam.

Republika pernah memberitakan bahwa ahli Qiraat Indonesia Akhsin Sakho Muhammad mengatakan, ada beberapa hal yang menyebabkan Shalawat Tarhim begitu istimewa. Salah satunya, karena ada ikatan batin yang kuat antara shalawat tersebut dengan Indonesia. Shalawat ini pertama kali dilantunkan oleh Syekh Mahmud Khalil Al-Husary yang kabarnya direkam di Indonesia pada 1960-an.

Keistimewaan kedua adalah fungsi Shalawat Tarhim yang digunakan sebagai penanda akan masuknya waktu shalat. Sebelum adanya shalawat ini, orang Indonesia belum menemukan satu bentuk lantunan yang pas untuk pengingat. Tapi, setelah adanya Shalawat Tarhim, kita menggunakan ini di mana-mana untuk mengukur waktu sebelum shalat.

Bermula dari Yasmara, radio lokal di kota Surabaya yang menyiarkan rutin sholawat Tahrim. Tradisi memutar Shalawat Tarhim menjelang shalat subuh kemudian menular ke berbagai daerah. Masing-masing memutuskan sendiri-sendiri soal waktu pemutaran. Ada yang menguarkan sebelum azan Shalat Ashar seperti di Jawa Barat, atau sebelum azan Shalat Maghrib seperti di Yogyakarta dan Indonesia Timur. Mengapa lantunan shalawat singkat itu bisa demikian memikat?

Mulanya, radio tersebut hanya menyasar masjid-masjid di Kota Surabaya saja. Pada 1974 bahkan antenanya pun masih memanfaatkan tiang bambu yang dilengkapi penangkal petir. Kemudian, pada 1976, jangkauan Radio Yasmara ditingkatkan dengan menggunakan gelombang AM sehingga lebih luas, dan disepakati menjadi radio dakwah Muslim.

Dalam sholawat Tahrim, Rintihan Syekh Al-Husary tentang kerinduannya terhadap jejak Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam menjadi keistimewaan Shalawat Tarhim berikutnya. Meski terdengar singkat, apabila diuraikan, shalawat ini bisa bermakna panjang dan mendalam karena menceritakan perjalanan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam yang penuh bermakna. Secara lirikal, mengutip sejumlah kejadian dalam Isra Mi’raj guna menegaskan keutamaan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam. Sebagian pendengar di Indonesia bisa jadi tak paham dengan isi shalawat sehubungan terbatasnya penguasaan Bahasa Arab. Pertanyaannya, mengapa mereka tetap tergugah?

Peneliti kawakan seni membaca Alquran dari Universitas Texas, Prof Kristina Nelson dalam bukunya The Art of Reciting the Qur’an (1985) mencatat, gaya membaca Alquran ala Mesir mulai meretas jalannya menuju dominasi gaya di dunia pada dekade 1950-an hingga 1960-an. Masa-masa itu seiring Tarhim mulai direkam di Indonesia. Kala itu, mucul qari-qari handal semacam Syekh Al-Husary.

Syekh Mahmoud Khalil Al-Husary lahir di Desa Shubra An Namlah yang berada di kota Tanta, Gharbia, Mesir. Ia lahir pada 30 Dzul Qa’idah 1335 Hijriyah. Seperti dilansir Albawabh News di tempat asalnya, penggubah Shalawat Tarhim itu dikenal dengan sebutan Al Husory, nama itu julukan untuknya sebab beliau selalu beriktikaf di masjid dan duduk di atas sebuah alas yang terbuat dari anyaman tikar atau Al Husory. Sejak usianya baru delapan tahun, Syekh Hussary telah mampu menghafalkan 30 juz Alquran.

Yang istimewa dari para pendaras di Mesir, mereka menerapkan maqamat alias skala melodik khas musik Arab dalam pembacaan. Para qari di Mesir, sangat ahli menerapkan rerupa variabel seperti pilihan nada, tempo dan jeda, melisma, gaya qiraah, pilihan ayat, serta konteks dalam tilawah Alquran mereka untuk memicu emosi-emosi tertentu dari pendengar.

Pada akhirnya, rerupa konteks dan variabel membuat Shalawat Tarhim begitu istimewa. Keindahannya serta rasa dan nuansa yang ia pantik membuatnya mampu bertahan sekian lama mewarnai lanskap suara Tanah Air. Seiring waktu, lantunan seorang qari yang luar biasa berbakat asal Mesir tersebut malih menjadi kekhasan Islam di Indonesia. Jadi pengingat kampung halaman, jadi pemicu rindu yang mendalam terhadap penghulu para nabi Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Wallahu’Alam Bishshowwab..

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*