Tajuk

Suara dari Kami

Posted: 09/11/2017 at 08:00   /   by   /   comments (0)

Kepada para pemimpin negeri ini, kami ingin menitip surat yang berisikan curahan hati. Bukan karena kami membencimu, wahai para pemimpin. Justru karena cinta kami kepadamu sedemikian tinggi. Karena cinta ini kami berharap kalian dapat menjalankan amanah sebaik mungkin. Tidak terjerumus ke jalan Yang Allah murkai. Tidak juga lalai mengemban amanah Allah.

Duhai pemimpin, kami menyuarakan jeritan, tangisan rakyatmu. Semoga kalian mendengarkan curahan hati kami. Ratusan, bahkan ribuan pesan kami terima, dari rakyat negeri tercinta, menceritakan perih dan hidup mereka. Mengadukan pedih dan nasibnya.

Sepatutnya mereka tak mengadu kepada radio atau media. Sepantasnya mereka mengadu kepada wakil rakyat atau pemimpin yang ada. Tapi jarak kalian, sepertinya terlalu jauh untuk Rakyat datang mengadu. Jarak kalian terlalu tinggi untuk mendengarkan jeritan hati.

Ini bukan keluhan. Rakyat negeri ini jarang mengeluh. Mereka selama ini kuat menanggung sendiri apa saja yang mereka harus jalani. Ada kaum tunanetra yang bertahan hidup tanpa bantuan pemerintah. Tapi mereka berdaya, justru menjadi penolong sesamanya. Ada fakir miskin yang bersusah payah, menghidupi keluarganya, tanpa pernah merasakan hadirnya peran negara. Ada lima saudara yatim piatu, tinggal digubuk yang lebih mengenaskan dari tempat tinggal binatang, aparatur negara datang membawa bantuan, hanya sabun mandi belaka.

Sekali lagi, ini bukan keluhan. Ini adalah cerita kami tentang orang-orang kuat yang hidup dan tinggal di negeri ini. Para pemimpin yang kami hormati, bukankah dalam UUD 45 pasal 34 ayat 1 dinyatakan, “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negara."

Karena cinta kami pada kalian, kami tulis peringatan ini. Untuk saling mengingatkan. Mengingatkan kami, juga kalian, para pemimpin yang semoga budiman.

Insya Allah selama kami sanggup, kami siap membantu tugasmu, karena Rasulullah pernah diriwayatkan bersabda perumpamaan orang-oranb beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi dan saling berempatibagaikan satu tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam. (HR.Muslim)

Tapi wahai para pemimpin, bagaimana kalau diantara kalian ada yang zalim terhadap kami, sedangkan kami merasa banyak aparat dan pejabat yang menutup mata atas semua yang sepatutnya menjadi amanah kalian?

Rasulullah diriwayatkan pernah bersabda “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Oleh karena itu jangan menzalimi dan meremehkannya, jangan pula menyakitinya."(HR. Ahmad, Bukhori, Muslim)

Apakah dalam hal ini kami boleh turut serta membantu kalian? Mungkin kalian lengah, atau tidak melihat, tapi bagaimana kalau kalian sudah kami bangunkan?

Para pemimpin yang semoga budiman, jabatan itu amanah yang berat, bukan hal yang mudah. Saiyyidina Abubakar betapa takutnya saat beliau diamanahi jabatan ini. Sayyidina Umar bahkan pernah berkata beliau tidak akan tenang kalau sampai ada keledai yang jatuh karena jalan yang rusak. Sayyidina Usman waktu malamnya ia habiskan untuk bertaubat atas apa dan semua yang terjadi disiang hari. Sayyidina Ali memilih tidak tinggal di tempat khalifah dan memilih memakai busana yang lusuh. Sementara Sayyidina Hassan lebih memilih menyerahkan kepemimpiman kepada orang-orang yang benar-benar berhasrat memilikinya demi menjaga persatuan dan perdamaian Umat.

Para pemimpin yang semoga budiman, bagaimana dengan Anda?

Merasakah kalian, jika saat ini wargamu sedang perih, pedih, putus asa, bahkan marah? Kami siap turun tangan. Kami siap menggerakkan kaki. Tapi yang jadi pemimpin adalah kalian. Seharusnya kalian yang paling depan. Kami bersamamu, insya Allah!

Duhai pemimpin, kami berharap dan berdoa, supaya engkau bangun dan berdaya. Semoga Allah selalu merahmati, melindungi dan membimbingmu, karena bangsa ini butuh dirimu, para pemimpin yang sejati. Bukan pemimpin yang hanya haus kekuasaan dan kenikmatan dunia.

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*