Tajuk

Tentara Allah

Posted: 12/09/2017 at 08:45   /   by   /   comments (0)

Pada saatnya, para tentara Allah akan bekerja. Memenuhi perintah-Nya, memberikan balasan pada orang-orang dan kaum yang durhaka. Dan jangan pernah mempersempit hitungan, bahwa yang disebut tentara Allah hanyalah sekumpulan manusia atau orang-orang yang disebut dengan sebutan Mujahidin.

Sungguh, tentara Allah demikian besar dan luas definisinya. Angin dan api, adalah tentara-Nya. Air dan tanah, bisa menjadi tentara-Nya. Gunung-gunung dan lautan, juga siap digerakkan. Pohon-pohon dan bahkan rerumputan, selalu sedia menunggu perintah-Nya.

Dan sejarah pernah mencatat, tentara-tentara Allah itu akan bergerak serentak ketika komposisi kezaliman sudah menyatu di dalam sebuah kaum. Ketika seorang pemimpin sombong dan takabbur, ditambah dengan aparat yang lalim serta bathil, plus rakyat dan umat yang demikian degil, maka dengan sendirinya tentara-tentara Allah akan bekerja melaksanakan perintah-Nya.

Perhatikan saja kisah Fir’aun, ketika dirinya menyebut bahwa dialah tuhan yang maha tinggi, lalu aparat kerajaan menuruti setiap titah yang zalim, dan kaumnya membutakan mata serta menulikan telinga atas semua kejadian di depan mereka. “Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (QS al A’raaf: 133)

Ibnu Abbas menafsirkan taufan sebagai angin yang besar, yang merusak dan menghabiskan tanaman. Aisyah ra, meriwayatkan sabda nabi bahwa yang dimaksud dengan taufan adalah kematian. Bahkan DR Wahbah Zuhaili dalam Tafsir al Wajiz menerangkan, taufan tak hanya membawa angin, tapi juga api dan hawa panas nan mematikan.

Lalu belalang merajala lela. Tidak saja satu atau dua ekor, tidak saja seratus atau dua ratus belalang, bahkan bukan saja satu atau dua juta. Tapi bermilyar-milyar dan memenuhi semua permukaan. Al Mujahid bahkan menerangkan, belalang-belalang ini mampu memakan daun pintu dan menghabiskan seluruh kekayaan.

Kemudian, tentara-tentara Allah yang lain, berwujud kutu segera melaksanakan tugasnya. Jangan menyangka, kutu yang disebut dalam ayat ini seperti kutu yang kita ketahui saat ini. Mereka tak hanya memakan gandum dan tanaman, bahkan para kutu ini mampu membunuh dan mematikan seekor unta besar. Kutu-kutu keluar dari bahan makanan yang mereka simpan. Dalam tafsirnya Ibnu Katsir menerangkan, jika mereka menumbuk 10 karung gandum maka yang mampu diolah sebagai makanan tak lebih dari tiga gantang.
Mereka tak dapat tidur dan bekerja. Mereka tak bisa berdiam diri di rumah. Mereka dikepung kutu yang seolah tak ada habisnya dan entah bersumber dari mana.

Tapi tetap saja, Fir’aun, pejabat dan kaumnya tak kunjung sadar dan beriman. Maka Allah mengirimkan katak ke negeri itu. “Lalu bagaimana engkau dan kaummu akan menghadapi ini?” tanya Nabi Musa as.

Dengan ringan Fir’aun menjawab, “Bisa berbuat apa (katak-katak) itu?”

Maka, sebelum senja redup, negeri Fir’aun telah dipenuhi dengan katak-katak, yang entah datang dari mana. Katak ada dimana-mana, mereka mengerumuni manusia, bahkan ketika seseorang berbicara dan membuka mulut, kata-kata itu terbang dan melompat ke dalam mulut. Bisa apa katak-katak itu? Mereka bisa segalanya yang diperintahkan Allah kepadanya.

Tapi kesadaran dan keinsyafan tak kunjung hadir dalam umat ini. Maka Allah mengirimkan satu lagi musibah besar. Dia mengganti setiap air menjadi darah. Air yang diambil dari sungai, berubah menjadi darah. Air yang ditimba dari sumur, berubah darah. Bahkan air yang mereka simpan dalam wadah dan bejana, berubah menjadi darah. Tak ada air yang tak berubah menjadi darah ketika disentuh oleh kaum Fir’aun yang durhaka.

Mereka adalah tentara-tentara Allah, yang siap bekerja, menuruti perintah-Nya. Sami’na wa atha’na, kami mendengar dan tunduk patuh pada segala titah.

Kini, apa yang menjamin tentara-tentara Allah itu tidak datang lagi dan bekerja ulang mewujudkan sejarah baru. Mungkin bukan taufan, belalang, katak dan kutu-kutu. Mungkin juga bukan air yang berubah menjadi darah setiap kali disentuh. Mungkin dalam bentuk dan wujud lain. Mungkin dalam bentuk banjir bandang dan kekeringan di saat yang bersamaan. Mungkin dalam bentuk hujan besar dan kebakaraan di waktu yang bebarengan. Mungkin dalam bentuk kekacauan lain yang tak bisa kita nalar.

Jika pemimpin kita sombong dan takabur, para aparat pemerintahannya zalim dan lalim, rakyatnya juga degil, apa yang menghalangi tentara-tentara Allah tidak bekerja mengirimkan mala petaka? Tidak ada yang menghalangi mereka kecuali taubat atas segala kekejian yang telah dilakukan, dan mengucapkan iman dengan sebenar-benarnya iman. Semoga Allah masih memberi waktu pada kita.

(Visited 62 times, 2 visits today)

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*